Tags

, , ,

Bogor menyimpan banyak petilasan budaya dari masa ke masa. Menelusurinya menjadi sebuah tugas untuk mengetahui budaya masa lalu, kemudian mengambil hikmah dari setiap perjalanan kehidupan.

Perjalanan kali ini akan menuju 4 destinasi sejarah yang ada di Bogor Barat, yaitu Situs Garisul, Mausoleum Van Motman, PLTA Karacak, dan Museum Pasir Angin.

Ahad, 5 April 2015, saya bersama teman-teman dari Komunitas Napak Tilas Budaya Bogor melakukan perjalanan ke Bogor Barat. Kami berkumpul di BTW (Bogor Trade World) pukul 07.00. WIB Dan keberangkatan dilakukan sekitar pukul 07.45. WIB.

image

Perjalanan yang cukup jauh menuju barat Bogor ini saya lewati dengan tidur, sehingga tidak begitu mengetahui alur lalu lintasnya. Kami berangkat dengan menyewa bis, sehingga perjalanan bisa lebih nyaman.

Sekitar jam setengah sebelas, kami sudah sampai di daerah Situs Garisul. Tepatnya di kampung Garisul, desa Kalong, kecamatan Jasinga. Perjalanan yang cukup jauh dan waktu yang lumayan lama.

image

Ketika turun dari bis, kami  menemukan papan plang biru bertuliskan Situs Garisul Makam Raja-raja Islam. Dari sana kami berjalan menuju ke pemakaman yang berada seperti di bukit. Kami menelusuri sungai lalu menuju le bukit.

Ada banyak nisan kami lihat ketika masuk ke pemakaman ini. Nisan-nisan dengan bentuk yang unik. Ada yang berbentuk segilima dan seperti gada. Di atas bukit kami menemukan beberapa makam yang sudah diberi lantai keramik.

image

Di sini nisannya lebih besar dengan ciri khas seperti gada. Batuan nisan yang berbentuk dan terukir menunjukkan adanya arsitektur dan seni tersendiri yang dapat menjelaskan perjalanan budaya pada masa tersebut. Pemakaman ini pernah diteliti oleh Muhammad Thoha Idris, mahasiswa pascasarjana UI tahun 1995, dengan judul, Hubungan antara Gerakan-Gerakan Masyarakat Muslim Banten dengan Situs Cigarisul-Jasinga Bogor; Kajian Tipologi Nisan. Demikian kata Hendra M. Astari dalam penjelasannya kepada kami.

Secara komprehensif Mohammad Toha menjabarkan penelitiannya. Penulisan plang bahwa Situs Garisul ini makam raja-raja Islam Banten harus dikoreksi, karena di sini tidak ada kerajaan. Diperkirakan bahwa pemakaman ini adalah makam para pembesar kerajaan Banten.

Kalau dari arkeologi, bentuk nisan yang seperti gada atau delapan sisi ini menunjukkan makam laki-laki. Adapun yang segilima bergaris ini menunjukkan makam perempuan. Nisan-nisan ini memiliki kesamaan dengan bentuk nisan di daerah Banten Lama dengan klasifikasi tipe nisan Aceh, Demak -Troloyo, baik yang berbentuk silindrik maupun pipih. Dan sesuai yang tertera pada nisan yang bertulisan Arab Khufi dan Naskhi, kuburan ini berada pada abad 19 dengan bahasa Jawa rasa Sunda.

Setelah asik memotret sana sini, kami melanjutkan perjalanan ke pemakaman keluarga Van Motman yang terletak di Kampung Pilar, Desa Sibanteng, Kecamatan Leuwisadeng. Tidak begitu jauh dari Situs Cigarisul.

image

Memasuki pemakaman keluarga Van Motman yang dulunya dikenal afdeling Jambu, saya membayangkan kemegahan tempat ini. Pilar-pilar batu nisan yang besar dan berkeramik. Ada satu bangunan dengan atap kubah. Di sanalah dulunya beberapa mayat keluarga Van Motman berada. Sekarang, tempat ini dikelilingi semak belukar tak terawat.

image

Sejak memasuki gerbang pemakaman terlihat tulisan pada bangunan Form: P.R.VMOTMAN.
Tempat ini dulunya tersimpan empat jenazah keluarga van Motman yang diawetkan pada kotak kayu persegi yang bagian atasnya ditutupi kaca, maka disebut Mausoleum. Namun sayang sekali hanya sampai tahun 1974 karena kena penjarahan. Banyak yang mengira bahwa di sini ada harta, bahkan marmer-marmer dinding nisan kuburan pun tidak ada :(.

Bangunan ini didirikan oleh Pieter Reinier van Motman, tuan tanah perkebunan Dramaga ketiga. Gedung berwarna putih yang terlihat kusam ini memiliki kubah, bangunan ini replika dari gereja Santo Petrus di Kota Roma, Italy. Demikian penjelasan Hendra M Astari.

Ada 33 kuburan keluarga dan kerabat van Motman di halaman moseloeum. Salah satunya putri Van Motman yang bernama Maria Henrietta. Lanjut penjelasan Hendra M Astari, ketua komunitas Napak Tilas Budaya Bogor.

Dari penjelasan tersebut saya membayangkan kemegahan bangunan tersebut dan kompleks pemakaman keluarga ini. Di sini, kami poto-poto untuk mengabadikan perjalanan bahwa kami pernah ke sini.

image

Selanjutnya kami makan siang dengan botram di pinggiran danau daerah Jasinga. Di bawah terik matahari kami berbagi makanan. Alhamdulillah, saya yang tidak membawa makanan mendapatkan makan siang dengan pepes ayam Warung Teras Teh Herni, tahu tauco dan tongkol cabe ijo dari Teh Fitri, sambel jeletot dari Teh Dede dan nasi serta kerupuk dari Teh Iis. Sebagai penutup asinan dari Teh Fitri. Terima kasih teteh-teteh cantik dan baik hati yang sering memberi makanan botram kepada saya ketika ngaprak.

Selesai makan siang, sholat dan istirahat, kami melanjutkan perjalanan ke PLTA Karacak buatan Belanda. Tepatnya berada di kampung Karacak, Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang. Kira-kira 300 meter dari pinggir jalan kabupaten Leuwiliang – Puraseda, dan sekitar 5 kilometer dari kantor kecamatan Leuwiliang.

image

Ketika turun dari bis, saya melihat bangunan ciri khas Belanda. Ada banyak tangga menuju atas bendungan. Ada 200 tangga kata Hendra.

Bendungan ini dibuat dengan cara membubut bukit, yang artinya melubangi atau menggali. Tidak berlebihan bila masyarakat sini menyebutnya dengan Gunung Bubut. PLTA Kracak ini mulai beroperasi tahun 1926. Secara resmi pihak PLTA Karacak menamakan waduk ini dengan istilah Kolam Tando Air (KTA).

image

Kolam Tando Air ini menampung air yang dialirkan dari Bendungan Cianten di Desa Karyasari dan Bendungan Cikuluwung di Cibitung Kulon yang berada di daerah hulu. Dengan bantuan gravitasi bumi, dari waduk ini air dialirkan melalui dua pipa pesat dengan diameter sekitar 2 meter menuju turbin PLTA yang dipasang di Rumah Pembangkit. Lanjut Hendra.

Dalam perjalanan selanjutnya,  Kolam Tando Air yang dibuat oleh Belanda ini menjadi perebutan. Ketika Jepang masuk ke Indonesia, Jepang menguasai KTA ini. Kemudian direbut kembali oleh Belanda. Selanjutnya direbut oleh rakyat Indonesia.

Bangunan yang masih kuat dan rapi ini sering menjadi tempat studi oleh Pasukan Zeni TNI untuk mengetahui bagaimana orang Belanda membuat bangunan yang kokoh.

Setelah mendengarkan penjelasan Pak Hendra, kami pun mulai menaiki anak tangga dan mengelilingi kolam. Haikal, salah seorang peserta ngaprak termuda yang masih SD, menghitung anak tangga tersebut. Dari hitungannya dia, ada 192 anak tangga ketika naik, dan ada 196 tangga ketika turun. Ketika kami protes kenapa berbeda, Haykal langsung bilang mau menghitung ulang tangga. Tidaaak… Serempak kami yang mendengarnya pun berteriak menolaknya.

Di sini juga sering digunakan sebagai jalur trek para pesepeda. Ketika turun dari KTA, kami pun disuguhi atraksi para pengguna sepeda tersebut.

Langit mulai gelap, rintik hujan pun turun. Kami melanjutkan perjalanan ke Museum Pasir Angin yang letaknya tidak jauh dari tempat tersebut.

Memasuki kawasan museum, kita seperti memasuki tempat peristirahatan karena berada di kawasan hutan. Titian tangga menuju museum diapit oleh pepohonan. Pada kawasan atas, kami melihat banyak tanggul, lalu sebelah baratnya ada batu besar di depan rumah panggung. Rumah panggung itu adalah museum Pasir Angin.

image

Museum Pasir Angin merupakan salah satu museum yang berada di Bogor. Tepatnya museum ini terletak di desa Cemplang, kecamatan Cibungbulang. Museum yang dibangun pada tahun 1976 berfungsi untuk menyimpan barang temuan atau artefak dari masa ke masa.

image

Pasir angin sendiri berarti bukit berangin. Di sini ada situs yang ditandai dengan adanya batu monolit. Batu monolit ini memiliki bidang datar di beberapa sisinya dan menghadap ke arah timur.
Mengenai orientasi kegiatan di sekitar monolit dengan arah hadap timur-barat disejajarkan dengan perjalanan matahari. Tempat matahari terbit, yaitu di timur merupakan perlambang dari kelahiran atau kehidupan, sementara tempat tenggelam matahari di barat merupakan simbol dari kematian. Demikian kata Hendra.

Diperkirakan situs Pasir Angin ini digunakan menjadi tempat ritual dan pemujaan pada masa 2000 tahun sebelum sejarah. Penggalian di sini menghasilkan banyak artefak, seperti kapak perunggu, tongkat perunggu, manik-manik batu dn kaca, mata tombak, kapak besi, dan gerabah.

Dari hasil penggalian terlihat bahwa barang-barang yang ditemukan ternyata berada di sekitar batu monolit dan berkumpul membujur dari barat ke timur. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan yang melibatkan benda-benda temuan tersebut dipusatkan pada batu monolit ini. Pungkas Hendra dalam penjelasannya.

Menarik ketika memasuki museum ini karena terasa sejuk dan segar. Tempatnya yang dikelilingi oleh pohon menambah asri, betah dan nyaman di sini. Pantesan orang-orang masa lalu betah dan sering ke sini, karena tempatnya memang menyegarkan.

Demikianlah perjalanan ngaprak atau wisata sejarah ke 4 tempat tersebut. Bersenang-senang sambil menambah pengetahuan akan budaya masa lalu. Bagaimanapun, budaya yang terbentuk sekarang adalah proses dari budaya-budaya masa lalu. Terima kasih

Advertisements