Sejuk dalam dinginnya udara pagi. Sayup-sayup terdengar suara kicau burung di antara debur ombak lembut di pesisir pantai. Fitria dan Juwarna berlari-lari riang di halaman rumah. Sebuah perubahan dalam dimensi waktu yang tidak dimengerti oleh Prasetya dan Andini. Jayakerta menjadi kota yang begitu segar dan menyenangkan.

Sebuah perubahan yang dilakukan oleh Prasetya dalam bilik ruang yang sudah dia siapkan. Ada banyak peralatan dalam menyikapi keadaan. Seperti jejak yang asalnya tidak ada menjadi ada. Dari gelap oleh debu menjadi terang oleh sang surya.

Sejak kapan perubahan ini terjadi? Relung Prasetya dalam hati.

Dulu, telah aku sapu kota ini dalam satu siklus yang sudah ditetapkan. Tsunami untuk menghempaskan keegoisan sang pemimpin negri dan penghuni penduduk kota ini.

Alam telah bertindak dalam rentan alam sesuai kehendak, maka kota ini menjadi rapi dalam kepemimpinan seorang satria yang sudah Kami tetapkan.

Jangan menyangka semua berada dalam huruf yang tidak dimengerti, semuanya sudah dan akan terjadi, maka tetaplah untuk menjalankan hal yang kalian mengerti.

Senja di pesisir Jayakerta melihat matahari senja tenggelam di balik lautan. “Bundaaaa…. Fitri menemukan ini di pinggir pantai. Lucu ya Bunda. Ada tulisannya, tapi nggak bisa membacanya.” Teriak Fitri sambil mendekati Andini yang sedang duduk di bawah tenda.

“Coba Bunda liat,” kata Andini pada anaknya.

“Ini…,” kata Fitria sambil memberikannya.

Sebuah botol dengan selembar daun tergulung rapi di dalamnya. Andini lekas membuka botol tersebut.

“Teruntuk buah hatiku, Andini Cipta Sari. Ibu rindu, segeralah pulang anakku. Ibumu.”

Andini menatap lekat tulisan asing tersebut, tetapi Andini memahami isi tulisan tersebut.

“Setya, aku memahami tulisan ini,” kata Andini kaget sambil melirik suaminya.

Tanpa menoleh, Parsetya berkata, “Apa isinya?”

Andini membacakan isi surat tersebut untuk suaminya. “Dia tahu nama lengkapku,” susul kata Andini.

“Tentu saja,” kata Prasetya sambil berdiri. “Sudah saatnya dirimu pulang, kembali kepada ibumu.”

“Pulang?” Tanya Andini tak mengerti. “Bukankah aku memang tinggal di sini. Bersama kamu, Fitria dan Juwarna. Kenapa harus pulang? Pulang kemana?” Andini menatap suaminya.

“Sudah saatnya dirimu pulang Andini. Di sini kamu hanya sementara. Aku, Fitria dan Juwarna hanya sebentar menemanimu.”

“Kau…” Andini tercekat kaget.

“Lihat jembatan itu!” Prasetya menunjuk jembatan yang jauh tapi seperti dekat.

Andini selalu penasaran dengan jembatan tersebut. Apalagi setelah mendengar celoteh Fitria dan Juwarna yang pernah pergi ke sana. Malah beberapa tetangganya bercerita pernah menyeberangi jembatan tersebut.

“Iya…,” jawab Andini menatap jembatan yang jaraknya semakin dekat. “Aku mesti pulang kemana? Apakah kalian akan ikut bersamaku?” Tanya Andini sambil menatap satu per satu suami dan anak-anaknya.

“Tidak. Kami tidak ikut pulang bersamamu,” jawab Prasetya.

“Kamu pulang kepada ibu pertiwi, ibumu.”

“Ibu,” lirih Andini pelan.

“Iya, ibumu.”

“Terus, bagaimana dengan kalian?” Andini menatap cemas pada suami dan anak-anaknya.

“Kami akan baik-baik saja. Kami ada bersamamu, tetapi kami kadang tidak ada dalam dirimu. Itu tergantung pada hatimu. Bila dirimu menepati janji, aku setia menemani. Karena aku bagian dari sifatmu. Fitria, dia ada bila dirimu memiliki hati yang bersih seperti dirinya, karena itu adalah dirimu. Juwarna ada bersamamu bila kamu jujur. Kami ada dalam dirimu, bila dirimu memiliki sifat-sifat itu.”

“Oooh…” Kata Andini.

“Pergilah… Sudah saat kamu pulang. Jembatan sudah ada di hadapanmu.”

Di depan Andini sudah terbentang jembatan panjang dengan luasnya, cukup hanya bagi satu orang.

Andini melangkah kaki, lalu dia melirik pada suami dan anak-anaknya, “Apakah aku bisa kembali ke sini?” Tanya Andini.

“Bila kamu sudah memiliki kami di sana, dan ikhlas dalam kehendak Sang Maha Pencipta, kamu bisa kembali ke sini, bahkan kemana saja yang kamu inginkan. Hanya saja tentu akan berbeda bila dirimu telah ikhlas, tempat ini hanya singgahan saja. Kamu akan betah bertetap dalam keikhlasan, asal kamu bisa menjaganya.”

Mendengar itu Andini menjadi tenang. Entah kekuatan apa yang membuatnya merasa tenang dan ringan. Ia melangkah ke arah jembatan. Maka dirinya terus berjalan, dan berjalan. Sepanjang jalan kadang terdengar teriakan, kadang terdengar yang tertawa. Andini terus melangkah. Ada jeritan kengerian, dan seruan kebahagiaan. Andini tetap melangkah, dan terus melangkah.
***
“Syukurlah, Nak… Dirimu sudah sadar. Terima kasih Tuhan.” Lirih lembut seorang perempuan terdengar. Andini mengenal suara tersebut. Dia membuka mata.

“Alhamdulillah… Andini, kamu sudah sadar,” suara ibu bercampur haru.

“Ibu…,” kata Andini.

“Iya, anakku…,” kata ibu.

“Aku dimana?” Tanya Andini.

“Kamu di rumah sakit. Sudah seminggu kamu di sini, karena dirimu pingsan sewaktu mendaki gunung. Alhamdulillah, sekarang sudah sadar.”
***
Sudah saatnya melangkah dengan ibu pertiwi, berpadu dalam cinta ilahi rabbi. Sayup suara antara jauh dan dekat oleh Andini Cipta Sari.

Advertisements