Tags

, ,

Kemarin, 22 Maret diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Air yang hadir dan bagian hidup kita sehari-hari. Minum minimal 8 gelas air sebagai asupan tubuh untuk mencegah dehidrasi. Tubuh kita sendiri mengandung banyak air.

Ibu pertiwi sering disebut sebagai tanah air, meskipun sangat lengkap penghuninya, dari flora dan fauna. Namun sayang, kekayaan tanah air sudah mulai habis. Meskipun ada, itu bukan lagi milik kita, rakyat Indonesia.

image

Setiap hari kita minum dengan menggunakan air yang harus kita beli di tanah air sendiri dengan menggunakan air ibu pertiwi. Dengan alasan kemasan dan distribusi, kita membeli air ibu pertiwi.

Ketika air yang mengalir jernih dari sumber mata air sudah diklaim sebagai milik investor, maka masyarakat sekitar hanya bisa gigit jari karena air hadiah ibu pertiwi harus dibeli.

Air yang mengalir mulai disumbat menjadi genangan untuk pengairan pembangunan, tak dihiraukan jerit dan tangis penduduk sekitar. Apalagi pohon dan satwa yang berkeliaran, musnah dengan logika pembangunan.

Gaung negeri kaya seperti fatamorgana, ketika air pun harus kita beli dengan terpaksa ataupun sukarela. Tanah yang merah tua mulai tertutup oleh kerikil dan semen yang menutupi serap hujan yang membumi. Pohon menghilang untuk pembangunan. Sungguh, di negeri yang katanya kaya, kami harus membeli air untuk menyembuhkan dahaga kami.

Hutan yang menghijau pun perlahan tapi pasti disulap menjadi beton yang seribu jendela. Tanah dan air yang katanya dicintai, ternyata dieksploitasi oleh segelintir makhluk bumi yang serakah.

Jangan tanya jejak tanah. Kini telah menjadi hitam legam bergenang. Jangan tanya aliran air, bila sungai dan parit yang terbentang sudah terpatok keegoisan.

Ketika tanah dan air melepas lelah oleh tingkah manusia serakah, jangan marah atau mengutuk alam yang bergerak mengikuti ritme ketetapan. Hempasannya akan menutup mata setiap gerak. Manusia hidup di alam bukan untuk memanfaatkannya sebagai komoditas keserakahan. Tetapi membagi kesadaran dalam derap langkah sebagai makhluk Tuhan.

Kami ketuk kalian dengan gemuruh halilintar
Kalian diam… Sejenak lalu kembali menebang kalam
Kami sergap dalam cahaya kilat
Kalian merunduk dan terpejam… Kemudian kembali bersenang-senang
Kami goyang bumi untuk kalian beristighfar
Kalian diam, kemudian berjalan dengan tarian
Kami dorong gunung dalam letusan
Kalian bergerak dengan kamera di tangan
Kami hempaskan air laut dengan derap pasukan
Kalian diam, lalu berteriak menyebut Kami tak bertuan
Jangan tanya Kami… Kami hanya utusan
Lihat dan berjalanlah…
Masih adakah tanah dan air yang masih dapat kalian genggam

Ketika bait-bait tak lagi menjadi penyerap, maka setiap diri diharapkan dapat bertanggung jawab atas perbuatannya pada alam. Tanah dan air akan kembali menjadi milik ibu pertiwi, tanpa kalian suka ataupun tidak dalam prosesnya.

Advertisements