Tags

Asap membumbung tinggi dari dapur yang masih memakai tungku kayu bakar. Harum wangi aren tercium khas dari balik dapur berbilik bambu.

Aroma air aren di atas tungku, mengingatkan akan Emak yang sering mengolah air aren menjadi gula merah. “Gula Aren ini lahir dari cinta kasih. Manis legit dalam setiap gigitannya hasil dari proses saling menyayangi.” Demikian kata Emak sambil mengaduk air aren yang berbuih putih.

“Emak…” Lirih Melati mengingat neneknya.

“Dulu, kau selalu minum air aren sebelum Emak Dewi olah jadi gula,” terdengar suara laki-laki di belakang Melati.

Melati yang sedang asik menatap kepulan asap tungku sambil duduk di batang pohon yang roboh berbalik arah.

“Kenapa kau mengagetkanku?” Kata Melati ketus. “Datang jangan mengendap-endap, ucapkan salam, atau menyapa dulu,” Melati berapi-api.

“Aku berjalan seperti biasa, tidak mengendap-endap. Bahkan aku sudah memanggilmu, tetapi kamu malah asik melamun,” jawab Raka sambil duduk di sebelah Melati.

“Aku tidak mendengarmu,” kata Melati.

“Iya, karena aku tidak berteriak. Dan kamu terlalu asik melamun tanpa tahu aku memanggilmu.”

“Oh…,” sahut Melati. “Maafkan aku,” katanya lirih.

“Oke, sama-sama,” jawab Raka.

“Kamu kok tahu aku suka minum aren yang disadap oleh Mang Karta?” Tanya Melati.

“Tentu saja aku tahu. Karena Mang Karta juga menyadap pohon aren milik kakekku. Dia selalu bercerita tentangmu. Ingat, aku lebih tua dua tahun darimu.”

“Iyaaa…” Jawab Melati. “Aku ingat Emak,” kata Melati pelan. “Mencium wangi aren, maka seperti mencium wangi Emak,” kata Melati berbisik.

“Kenangan memang terasa indah saat merindu. Dan itu butuh jeda waktu untuk mengetahui akan rasa rindu,” kata Raka.

“Emak selalu mendongeng sebelum tidur. Dongeng tentang alam semesta dan gula aren. Dulu, alam semesta tidak ada atau suwung. Tuhan kemudian berkehendak menciptakan awan,kemudian mencair. Suhu panas yang mendidih menjadikan cairan itu menggumpal dan membentuk lingkaran-lingkaran galaksi dan planet,” kata Melati.

“Kakekku pun bercerita yang sama,” sahut Raka.

“Ya, dan cerita itu aku dengar setiap hari menjelang tidur,” kata Melati sambil tersenyum. “Cerita filosofi akan diri dan alam semesta yang tersimbolkan dalam proses pembuatan gula aren. Kita, manusia adalah bagian dari alam semesta, bukan menghuni alam semesta sehingga merasa harus menguasainya. Kita dengan alam sama. Sama-sama makhluk Tuhan. Itu yang selalu Emak kisahkan.” Lanjut Melati.

“Bila kamu rindu Emak Dewi, kenapa selama bertahun-tahun kamu tidak berziarah ke kuburannya?”

“Iya, itu salahku. Ketika aku pulang ke Indonesia sewaktu tujuh tahun sekolah di Inggris dan bekerja, aku belum pernah datang ke sini lagi.”

“Apakah kamu betah tinggal di luar negeri?”

“Tidak,” jawab Melati. “Meski terdengar klasik, pribahasa hujan batu di negeri sendiri lebih baik, itu yang aku rasakan, makanya aku kembali ke Indonesia.”

“Bukankah sudah dua tahun kamu tinggal di Indonesia? Kenapa baru sekarang kembali?”

“Kamu banyak nanya Raka,” kata Melati sambil tersenyum. “Ada banyak hal yang harus aku lakukan sehingga belum sempat datang ke kampung ini.”

“Kenapa kamu kembali?”

“Suratmu yang membuatku kembali.”

Anak rambut Melati bergerak-gerak mengikuti irama semilir angin. Hamparan padi yang membentang turut diam seperti mendengarkan kisah sang putri yang pulang.

“Aku mencarimu kemana-mana. Aku mengetahui alamat rumahmu dari media. Ternyata kamu sudah menjadi pengusaha muda yang sukses.”

“Tidak. Itu hanya bagian dari perjalananku.”

Langit terang, awan putih berarak riang di balik rimbunnya dedaunan. Melati masih menatap barisan awan dan biru terang langit siang.

“Ingat Melati, dalam sebuah hasil, ada proses dan tahapan yang harus kamu pahami dan sadari,” demikian pesan Emak ketika mengajak Melati mengolah gula aren.

Pesan Emak telah terpatri dalam sanubari Melati. Dalam jejak perjalanannya, dia berusaha untuk memahami proses dan tahapannya. Tidak heran bila sekarang dia sudah menjadi seorang pengusaha, dosen, dan konsultan.

Namun sukses yang dia raih, tak membuatnya bergeming ketika berhadapan dengan Raka, pemuda yang menjadi kepala desa di kampung halamannya.

“Maafkan aku,” Raka memegang tangan Melati. “Aku tidak bermaksud mengintai atau mengintimidasimu. Tawaran dalam surat yang aku kirimkan hasil dari penelitian dan pemikiran, serta perasaan selama aku menelitimu.”

“Kau mengintaiku?” Tanya Melati.

“Tidak,” jawab Raka. “Aku hanya mengamatimu. Awal aku melihatmu ketika di Cafe kopi, dan kau memaksa minta gula aren sebagai tambahan pemanis kopi. Bukan gula merah kelapa yang tanpa membuka bungkusnya, kau sudah tahu. Aku kagum padamu yang bisa membedakan gula merah kelapa dengan gula merah aren. Dari sana aku sudah memikirkan cara agar dapat menikahimu,” kata Raka tersenyum lebar.

“Kenapa kau ingin membeli rumah nenekku sekaligus menikahiku?”

“Karena aku mencintaimu dan mencintai kampung halamanku. Tidak ada yang berani membeli rumah di daerah yang akan digenangi, apalagi bila rumah tersebut adalah rumah tua.”

“Iya…” Kata Melati. “Aku juga memikirkan hal itu ketika menerima lamaran pernikahanmu. Tapi sebelumnya aku menyewa detektif untuk mengamatimu.”

Aroma air aren telah berbau kentalan gula merah. Harum dan manis. Gula aren sebagai simbol manis dan legitnya.

Aroma manis terus menguat, air bening pun telah menggumpal coklat mengental. Dengan cekatan Bi Karta mencetaknya pada potongan-potongan bambu.

Sepotong gula merah telah terhidang dengan sajian singkong bakar yang mengepul. Sayup dan riang kegembiraan dalam pesta perayaan panen. Gerak dedaunan bak ikut bergoyang, pohon-pohon besar pengukuh pondasi alam turut berbahagia, burung-burung bernyanyi riang di atas dahan, terbebas dari angkara dan serakah manusia. Bendungan hancur oleh waktu, sawah, masyarakat dan pohon, terselamatkan atas kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa.

Advertisements