Biasanya, supir angkutan umum seperti mikrolet adalah para pria. Namun berbeda dengan angkot yang saya naiki dari Pondok Gede. Ketika turun dari angkot 40, saya langsung mengincer tempat duduk sebelah supir. Ini agar saya nyaman dan bisa melihat langsung ke arah jalan.

Ketika membuka angkot arah Kalimalang, supirnya seorang perempuan. Dia masih muda. Sekalipun sudah menikah, dia ibu muda.

Awalnya kami diam. Namun setengah dari perjalanan, dia mulai membuka pembicaraan. “Harus dapat 6 penumpang untuk bayar bensin,” ucapnya.

Saya kira dia bicara sendiri, makanya saya hanya diam. Ketika melewati sebuah rumah makan, sang supir memanggil lelaki yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Kepada lelaki itu pun dia memberikan segepok uang. Terlihat dari urutan seribuan sampai lima puluh ribu.

“Ini setoran dari 4 hari yang lalu ya… Kalau ketemu ibu, bilang 60 ribu lagi besok,” katanya tegas.

“Iya,” jawab lelaki tersebut sambil menghitung uang.

“Ada rempeyek?” Tanya perempuan itu sambil nunggu yang menghitung uang.

“Nggak ada,” jawab laleki itu berlalu.

“Begini kalau setoran. Ada buat setoran nanti kepake. Nyari gantinya lagi susah,” katanya.

Saya hanya tersenyum. Karena saya sendiri nggak tau harus ngomong apa. “Kalau supir perempuan banyak yang nggak mau. Mereka kira kita baru belajar nyupir, padahal kita sudah 14 tahun supir,” lanjutnya.

“Sejak sebelum kawin, saya sudah bisa nyupir.” Tegasnya.

“Sudah lama ibu jadi supir angkot,” tanya saya.

“Baru tiga tahun di angkot, biasanya metromini.” Jawabnya. “Untungnya nanti ada yang borongan, dibayar 180 ribu. Buat setoran besok.” Lanjutnya sambil menyalakan rokok.

Saya menyimak ucapannya, lalu mengambil air minum di saku tas. “Kalau supir, harus lebih banyak minum. Sehari saya bisa lebih 4 botol besar,” katanya.

Perjalanan pun usah ketika saya sudah mencapai tujuan. Ini seperti penjelasan deskriptip, tanpa analisa. Hanya bercerita sosok perempuan yang mencari nafkah menjadi supir angkot

Advertisements