Tags

, , , ,

Tiada yang mengenal bahwa Karawang terkenal dengan penghasil padinya. Itu dulu. Sekarang, Karawang lebih dikenal dengan kawasan industri. Dari tanah yang hijau oleh hamparan padi, sekarang mengepul oleh asap industri.

Udara yang panas menjadi ciri khas daerah pinggir pantai. Iya, Karawang memiliki pantai dan sebagai muaranya Sungai Citarum. Maka, tak terbayangkan kalau di Karawang ada gunung sekaligus memiliki curugnya.

Suatu hari kami melakukan perjalanan ke kaki Gunung Sanggabuana. Gunung yang memiliki makna sebagai penyangga buana. Penuh legenda dan mistis, itu yang saya baca dari beberapa tulisan tentang gunung ini.

Gunung ini bisa dinaiki dari beberapa jalur, bisa lewat Purwakarta, Bogor atau Karawang. Letaknya menjadikan gunung ini berada di batas tiga kabupaten.

Kami berangkat pagi dari Jakarta, kemudian keluar tol Karawang Barat. Laku belok menuju daerah Pangkalan, selanjutnya kami mengikuti kata kunci Gunung Sanggabuana di Google map sekaligus bertanya kepada warga.

Sebelum berangkat, saya menelusuri Google dan mendapatkan seorang kawan blogger pernah ke sana. Saya pun menanyakan rute dan kendaraan menuju gunung tersebut.

Setelah bertanya-tanya, kami berhenti di daerah kaki gunung, lalu melanjutkan naik ojek menuju Curug Cigentis. Kenapa ke Curug Cigentis? Karena itu daerah yang paling mudah dijangkau.

Memasuki kawasan kaki gunung memang terasa adem dan sejuk, berbeda ketika di perjalanan, panas dan banyak debu. Setelah belokan Pangkalan, banyak pabrik kapur atau apu, bahasa Sundanya. Bukit kapur kami lewati, sehingga tak heran bila banyak debu betebaran.

Kawasan inilah yang menjadi bahan kapur dan cor atau beton dalam pembuatan Candi Batujaya. Sekitar abad 4 Masehi, kapur-kapur tersebut diangkut ke perahu, lalu melintasi anak sungai menuju Sungai Citarum. Transportasi air memiliki peran penting dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia.

Kembali ke perjalanan Curug Cigentis yang ternyata menjadi salah satu tempat ziarah. Pada dinding gerbang dituliskan legenda Curug Cigentis yang berkaitan dengan Wali Songo. Kesembilan wali ini pernah menyebarkan ajaran Islam di daerah sini.
image

Sungai berbatu dengan air yang bening tak akan menyangka berada di kawasan industri Karawang. Pohon-pohon hijau dan sawah-sawah menjadi pemandangan yang mengasikan untuk mencuci mata dan menyegarkan pikiran.

Sepanjang sungai ini banyak tenda-tenda, bahkan dekat curug ada mushola dan MCK. Setiap malam Jumat, apalagi malam Jumat Kliwon, curug ini selalu ramai oleh peziarah. Demikian kata juru kunci curug yang sekaligus pemilik warung yang kami singgahi warungnya.

Maka, tidak heran bila banyak tenda di pinggiran sungai dekat curug. Berbeda dengan curug yang pernah saya lihat, di sini sepertinya selalu ramai pengunjung untuk berziarah. Saat itu masih sepi, hanya ada beberapa orang yang sudah ada di sana.

Keindahan dan kealamiahan suatu sungai dan air menjadi satu paket. Tetapi di sini, pinggiran sungai, bahkan berada di aliran sungai, tenda-tenda itu berdiri untuk menompang mencari rezeki dari para pengunjung.

Habitat sungai dan air terjun telah menjadi wahana ekonomi. Alam dalam setiap dimensinya mungkin menangis, melihat ulah manusia yang sudah melupakan diri sebagai bagian dari alam semesta.

Perjalanan yang membawa hikmah tentang pembelajaran untuk mencintai alam. Anugerah kekayaan alam menjadi karma bagi jiwa-jiwa yang serakah.

Advertisements