Tags

, ,

Perjalanan dimulai dari Jl. Dipati Ukur, Bandung, menuju Situ Cisanti, danau yang memiliki mata air. Dari sini hulunya Sungai Citarum.

image

Musim hujan baru di mulai, hampir setiap hari Indonesia bagian barat diguyur hujan, termasuk Jakarta dan Bandung. Namun demikian, tak menggoyahkan saya dan teman seperjalanan untuk terus berjalan, melihat mata air Sungai Citarum.

image

Sungai purba yang sering saya baca, telah mengembangkan berbagai peradaban, sampai sekarang Citarum tetap mengalir dengan gerusan zaman dan keserakahan manusia.

Sungai yang berhulu di kaki Gunung Wayang dan bermuara di pelabuhan Karawang, telah memendar berbagai cerita dan kisah bagi peradaban manusia.

Teringat ketika ke Situs Candi Batujaya, Karawang, proses pembuatan candinya tidak lepas dari peran Sungai Citarum yang menjadi lintas transportasi cepat dalam membawa bahan bangunan. Demikian kata Prof. Hasan Djafar, peneliti Situs Batujaya.

Kembali ke perjalanan, saat itu kami tidak tahu arah jalan, hanya dengan mengandalkan kata kunci Situ Cisanti, kami mengikuti petunjuk Google map sekaligus bertanya ke warga.

Masuklah kami ke wilayah Majalaya, lalu Ciparay. Setelah itu melewati Pacer, Cibeureum, lalu Kertasari. Dalam perjalanan setelah Kecamatan Pacer, kami melewati bukit-bukit sayuran menghijau, halimun dan bayangan pohon-pohon yang menjadi benteng bukit-bukit sayuran.

Ketika memasuki perhutani, hampir saja kami melewati wilayah Situ Cisanti. Di sana tertera petilasan Dipati Ukur. Untuk memastikannya, kami pun bertanya akan Situ Cisanti. Ternyata, benar. Plang yang bertuliskan Petilasan Dipati Ukur adalah Situ Cisanti.

image

Kami langsung menuju mushola karena waktu shalat zhuhur hampir masuk ke ashar. Air wudhu terasa dingin dan sejuk, sekaligus menyegarkan. Selesai shalat, kami langsung menuju ke danau yang letaknya agak bawah. Di sana sudah banyak pengunjung yang menikmati keindahan danau dan kesegaran alam.

Di pinggiran danau banyak warga yang sedang memancing, ada yang naik perahu keliling danau, ada juga yang asik bercengkrama di pinggiran danau. Sungguh indah dan menyejukkan. Perjalanan yang cukup jauh bagi yang pertama kali datang sungguh dapat terobati dengan keindahan danau ini.

Kami berjalan mengelilingi danau. Ketika kami sedang asik bermain, salah seorang teman mengajak kami melihat mata air Sungai Citaru. Dia bersama juru kunci yang merawat mata air Sungai Citarum.

Kami pun masuk ke daerah yang berpintu gerbang, di sana ada batu besar berdiri, lalu ada seperti rumah yang kata juru kunci adalah petilasan Dipati Ukur. Kami menuju mata air Sungai Citarum yang airnya jernih. Subhanallah, inilah mata air Sungai Purba Citarum. Gumam saya dalam hati. Semoga dari mata air ini yang menuju Sungai Citarum mengalir keberkahan bagi manusia dan alam sekitar.

Hujan mulai turun, maka kami pun cepat berlari keluar menuju pinggiran danau, yang seterusnya mencari tempat berteduh. Langit mendung, gerimis berhenti sejenak, kemudian turun lagi ketika kami sudah menuruni bukit tersebut dan kembali pulang.

Tidak banyak yang mengenal siapa sebenarnya Adipati Ukur, yang sekarang namanya terukir menjadi nama jalan, dan tempat Universitas Pajajaran.

Saya pun hanya mengetahui sedikit kisahnya dari beberapa tulisan yang saya baca. Ringkasnya, Adipat Ukur merupakan seorang wedana dari Tatar Ukur, yang erat berkaitan dengan Bandung. Ukur hancur oleh Susuhunan Mataram. Adipati Ukur memimpin penyerangan ke Batavia melawan Belanda, namun dalam strategi penyerangan dikabarkan kalah oleh Belanda.

Sultan Mataram yang saat itu memantau penyerangan, dan mendengar kabar tersebut lalu memerintahkan dan mengadakan sayembara untuk menangkap dan membunuh Adipati Ukur karena kalah dari Belanda.

Adipati Ukur terus berjalan, dan berjalan. Dia seorang yang sakti dan kuat. Keberadaannya tidak ada yang mengetahuinya. Namun sayang, tetap saja ada pengkhianat. Ada yang menyebutkan, bahwa Adipati Ukur pun kalah oleh sahabatnya sendiri yang tahu rahasia kelemahan dari kesaktiannya.

Tempat persembunyian dicurigai berada di daerah Gunung Lumbung, daerah Cililin. Saya teringat sewaktu reunian ke rumah teman dari Cililin, mobil kami sempat nyasar ke daerah yang ada tulisan petilasan dan makam Dipati Ukur.

Hujan gerimis mengantarkan kami pulang dari lereng Gunung Wayang. Perbukitan sayuran menjadi hal yang pertama kami paham, bahwa pohon-pohon yang berguna untuk menyerap air telah berganti dengan sayuran. Erosi dan banjir pun bisa sekali-kali menghantui penduduk negeri.

Kebutuhan agro ekonomi telah memangkas pohon-pohon besar menjadi hamparan palawijaya. Jangan heran bila hujan langsung banjir datang, erosi menyerang, karena itu adalah ulah dari kesewenang-wenangan manusia yang sudah tidak bersahabat dengan alam.

Advertisements