IDWriters merupakan kumpulan para penulis Indonesia. Para penulis ini berkumpul dalam sebuah website yang memperkenalkan kiprah dan karya mereka. Sebagai pemula, kalau istilah Sunda menyebutnya masih lelengkah halu, saya merasa termotivasi untuk terus menulis dan menulis. Walau malas terus menerus menjadi kerikil dalam setiap tulisan. Menjadi penulis bukanlah hal yang sulit tetapi sekaligus tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan dan pembelajaran untuk terus menulis dan membaca.

Kamis, 29 Januari 2015, saya mengikuti Kamis Literasi yang secara rutin diadakan oleh Nonya Buku sekaligus melihat lounching IDWriters. Kamis Literasi yang diadakan setiap akhir bulan ini menghadirkan Okky Madasari, penulis novel, di antaranya berjudul Pasung Jiwa. Kemudian Salman Faridi, CEO PT Bentang Pustaka, dan Anton Kurnia, penulis dan penerjemah dari Penerbit Serambi.

Menarik menyimak perbincangan mereka. Okky menjelaskan bahwa penulis, penerbit dan pemerintah hendaknya berkolaborasi. Peran pemerintah sangat penting dalam pengembangan karya-karya tulis di Indonesia sekaligus mempromosikannya ke luar negeri. Dengan tulisan, kita telah memperkenalkan budaya Indonesia. Selain sebagai ekonomi kreatif, buku bisa menjadi pengenalan sastra dan budaya Indonesia. Maka, pemerintah harus membantu dalam semua proses tersebut.

Selanjutnya, Salman Faridi, memaparkan bahwa dalam memperkenalkan buku Indonesia ke luar negeri sangat berat biayanya. Dia menyebutkan bahwa penerjemahan buku sastra Indonesia ke bahasa Inggris, biayanya bisa 1o kali lipat dari menerbitkan buku penulis dalam negeri sendiri. Biaya terjemahan ke Bahasa Inggris, minimal Rp.150 ribu per lembar, Bahasa Jerman, Rp.400 ribu per lembar. Suatu ongkos yang sangat mahal. Namun demikian, penerjemahan ini sangat penting. Ada 4 buku Indonesia yang mendapat penghargaan internasional, itu tidak lepas dari proses terjemahannya.

Anton Kurnia memaparkan tentang penulis dan karya sastra. Indonesia pada dasarnya kaya akan ragam budaya dan sastra. Sastra lisan bisa dikembangkan menjadi tulisan. Para penerbit asing, mereka mencari penulis yang menampilkan budaya dan tradisi Indonesia. Karakter ini yang sangat mereka minati. Tidak heran bila buku Roro Jonggrang, Korea Selatan terjemahkan, karena di sana ada unsur ciri khas Indonesia.

Seminar dan diskusi semakin menarik dengan berbagai pertanyaan yang menambah wawsan dan pengetahuan penulisan. Tahun ini, para penulis Indonesia mendapat kehormatan untuk tampil di Festival buku Frankfurt, Jerman. Kesiapan dalam festival ini membutuhkan para penulis Indonesia yang berkarakter dan berciri khas Indonesia.

Berlanjut pada sesi berikutnya adalah launching website IDWriters, yang menampilan para penulis Indonesia. Penggagasnya adalah seorang ahli IT yang gemar membaca, yaitu Valent Mustamim. Berawal dari kesulitan mencari para penulis Indonesia, maka dia menggagas IDWriters. Demikian dalam sambutannya.

Launching IDWriters ini dimeriahkan dengan pembacaan cerpen berbahasa Inggris oleh Rain Chudori, puisi dari Gumira Aji Darma, dan perpormance dari Anji Manji. Selamat dan sukses bai para penulis Indonesia untuk terus berkiprah dan berkarya untuk Indonesia. Selamat… Semoga sukses. 🙂       

Advertisements