Remaja berseragam suporter orange duduk-duduk di atas atap angkot. Merah dan biru melaju di Jalan Gatot Subroto. Saya saksikan itu dari balik jendela Transj. Mereka bernyanyi riang tanpa memikirkan kecepatan laju kendaraan. Saya tidak tahu kalau hari ini, Senin, 11 Januari 2015 ada pertandingan sepakbola.

Teringat bertahun-tahun lalu ketika masih rutin naik 510. Di Pasar Jumat bis dihadang oleh remaja seumuran anak SMP yang berseragam suporter jingga. Mereka memaksa naik, tetapi bukan di dalam bis, mereka memilih atap bis atau menggantung di dinding bis. Tentu saja supir marah, dan penumpang pun marah. Namun, anak-anak itu malah balik marah dan menunjuk bapak-bapak tua penumpang di bangku depan.

Gubernur sudah berganti, bahkan tiga kali dengan sekarang. Tapi saya masih menyaksikan atraksi mereka di medan jalan.

Remaja sering disebut sebagai masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Ada banyak pendapat mengenai batasan usia remaja. Namun demikian, dari fenomena remaja di atas, saya ingin mengambil contoh pembentukan karakter pada remaja.

Pertama, Nabi Muhammad. Kisah Nabi Muhammad saw saat remaja adalah masa bersama pamannya, Abu Thalib. Muhammad sudah dikenal sebagai pribadi yang jujur dan amanah. Dia menggembala ternak untuk membantu perekonomian pamannya.

Kedua, Nabi Yusuf. Menjelang remaja Yusuf dihadapkan dengan kenyataan bahwa saudara-saudaranya sendiri yang membuangnya ke sumur. Setelah selamat dari sumur, Yusuf dijual menjadi budak oleh penolongnya. Kemudian, Yusuf menjadi budak di wilayah istana.

Jejak langkahnya penuh petualangan. Namun demikian, Yusuf senantiasa memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah swt. (Baca QS Yusuf).

Ketiga, Nabi Ismail. Tatkala berjumpa sang ayah, Ibrahim, yang mengabarkan tugas ilahi rabbi untuk menyembelihnya. Kelapangan dan keilhlasan Ismail, menjadi contoh teladan bagi kita semua dalam menerima semua takdir Allah.

Dari contoh teladan di atas menggambarkan pentingnya pendidikan karakter sejak dini. Penanaman ketauhidan, kejujuran, amanah dan bertanggungjawab jawab, menjadi bekal masa remaja ketika berhadapan dengan banyak orang. Hal tersebut menjadi perisai dalam pergaulan remaja.

Tulisan ini hanya sekedar catatan diri akan fenomena remaja yang saya lihat, dengan mengambil garis karakter para nabi ketika remaja. Wallahu’alam

Advertisements