Tags

Karanghawu dalam deburan ombaknya mengingatkanku pada masa lalu. Ketika pertama bertemu pantai dan bermain bersama teman kuliah, saat bersama berlari-lari dan bermain ceria. Gulungan ombak hampir menghempaskan kita berlima. Kita saling berpegangan untuk bertahan, dan remaja yaang sedang bermain bola air berhasil menolong kita.

Alhamdulillah, rasa syukur kami haturkan ke ilahi rabbi karena masih memperkenankan kami hidup. Terima kasih juga pada remaja yang sedang bermain bola, karena telah berhasil menolong kami.

Lima belas tahun telah berlalu. Karanghawu sudah berbenteng pagar. Aku pun tak berani mendatangi karang tinggi tersebut. Pesisir yang terlihat dari jalan, kini terhalang bangunan. Ada yang permanen dan panggung, berbentung saung. Aku mlipir ke arah BTS yang tinggi, di sana sepi tak seramai karang yang menjulang tinggi.

Berbicara Karanghawu berpadu antara mistis dan eksotis. Karang yang tinggi dipercaya ada petilasan penguasa samudra, debur ombak yang tinggi menjadi bukti kehadirannya. Ada banyak cerita mengenai kemagisan Karanghawu.

Beberapa bulan lalu, tepatnya sekitar bulan September, aku dan teman-teman berniat untuk jalan-jalan ke daerah Cisolok. Tepatnya ke Karanghawu.

Kami berangkat hari Jumat, sepulang kerja, sekitar jam 11 malam dari Bekasi. Dengan mobil sewaan, kami berniat jalan-jalan menghirup pantai Karanghawu. Perjalanan lancar sampai Pelabuhan Ratu, tapi karena malam saya tidak begitu tahu jalan. Kami banyak berjalan. Lima belas tahun telah mengubah Pelabuhan Ratu. Pada saat bertanya yang terakhir, kebetulan memasuki daerah Cisolok, kami dihadang oleh dua orang laki-laki. Kami menanyakan jalan ke Karanghawu, mereka menunjukkan jalan sambil meminta uang sebesar Rp.30.000 untuk mobil, Rp.25.000 untuk motor. Saat itu, kami memberi mereka uang Rp.30.000.

Aku tertegun dengan ulah mereka. Kenapa masuk daerah perkampungan harus bayar uang. Apakah memang masuk Cisolok harus membayar uang? Perasaanku itu tindakan preman, dan ketika melihat mobil polisi, itu pun tindakan oknum polisi. Tidakkah mereka berpikir bahwa tindakan tersebut hanya akan mengurangi para pengunjung yang datang?
Dugaanku benar, ketika pulang, papan pemungutan itu tidak ada. Sayang, waktu itu lupa untuk tidak memotonya. Iya, keserakahan seringkali memutus kesejahteraan.
Fajar datang ketika kami sampai pantai. Kami shalat dan beristirahat di mushola restoran yang ada di pinggir jalan. Suasana sejuk dan dingin melenakan kami akan keindahan negeri. Debur ombak menjadi musik bagi pengelana yang sedang berjalan mencari jejak.

Sang surya… Engkau datang dengan keanggunan
Di antara debur ombak sayup-sayup terdengar kicau burung yang bernyanyi riang
Insan yang dalam gerak mengamati alam.
Persentuhan antara aku dengan semesta
Sebagai bagian dari makhluk ciptaan Tuhan
Kisah mistik dan tempat eksotis membuat Karanghawu tetap banyak peminat yang datang untuk menikmati keindahan alam. Sayang,  manusia seringkali merasa pemilik alam, sehingga keegoisan menutup keindahan pantai Karanghawu, Cisolok, Sukabumi.

Advertisements