Tags

,

Sabtu, 6 Desember 2014, bertempat di depan Blok M Square, saya berkesempatan mengikuti acara Pentas Kolaborasi Asyik. Ada pameran kreatif dan unik yang dipamerkan dengan gaya asyik.

Pentas yang menampilkan pentas seni daerah sangat menarik. Langit mendung, awan berarak gelap tak menghalangi para pengunjung untuk datang memasuki area pentas.

Kolaborasi Asyik 2014 ini sebagai pentas dari rangkaian aktivitas workshop yang digagas oleh Karel Anderson dengan penggiat komunitas, Vicky Sianipar, Bram Kushardjanto (Gelar Nusantara), Bob Merdeka (Ma Icih) dan Eko Supriyamto (pelaku seni tari).

Acara yang didukung oleh Sampoerna Kretek ini dihadiri oleh berbagai komunitas kerajinan lokal, Komunitas Pengrajin Sandal Bandol, Komunitas Pengrajin Pelepah Pisang, Komunitas Batu Mojokerto, Pengrajin Topi Bambu di bawah bimbingan penggiat komunitas Karel Anderson. Dimeriahkan dengan penampilan komunitas pertunjukkan seni, yakni Komunitas Paguyuban Karuhun Sunda dan Komunitas Kreasi Musik Sampah (Kresipah) di bawah Joko Suranto, seorang etnomusikolog asal Klaten yang akrab disapa Joko Gombloh.

Komunitas seni urban (Kresipah) dan rural (Sisingaan) yang memiliki karya pertunjukan bertolak belakang, akan saling melengkapi dalam menghadirkan karya kolaborasi bersama. Demikian kata Bram Kushardjanto. Dengan konsep Do Your Own (DYO), pengunjung dimungkinkan untuk membuat sendiri berbagai hasil kerajinan lokal dari materi yang dimiliki oleh para komunitas. Bagi anggota komunitas, hasil karya pengunjung dapat menjadi inspirasi mereka dalam membuat karya-karya berikutnya. Lanjut Bram.

Benar apa yang dikatakan oleh Bram, ketika saya masuk arena pameran, saya ditawari belajar bersama membuat lukisan pelepah pisang. Di sana sudah ada gadis cantik yang sedang asyik melukis dengan pelepah kurma. Komunitas Pelepah Pisang yang berasal dari daerah Serang ini menghasikan karya lukis yang cantik dan unik.

Di depan stand Komunitas Pelepah Pisang ada Komunitas Pedas, komunitas yang konsen dengan karya tulis dan sastra. Puluhan buku sudah dihasilkan oleh komunitas ini. Komunitas Pedas ini turut tampil dalam pembacaan puisi dengan asyik. Sungguh menyenangkan bisa sastra sekaligus berkarya.

Kemudian saya berjalan ke stand sandal yang terbuat dari ban bandol. Pengrajin ini sudah ada sejak tahun 1995. Selanjutnya ke stand topi bambu. Komunitas yang berasal dari daerah Tangerang ini memamerkan dan mengajarkan pembuatan topi bambu. Di sini saya selfie dengan topi bambu besar. Ada topi yang lebih besar lagi. Topi besar ini akan dilelang dan uangnya akan digunakan untuk membantu pengrajin lainnya di daerah mereka.

Setelah puas bercengkrama dengan Komunitas Topi Bambu, saya berlanjut ke stand Komunitas Pengrajin Batu Mojokerto, Trowulan. Pengrajin yang menghasikan hasil tiruan dari batu-batu Trowulan, Majapahit ini asyik diajak ngobrol. Mereka memahat patung-patung batu dengan indahnya. Batu-batu itu dihadirkan dari berbagai daerah di Jawa. Batuan yang digunakan oleh mereka adalah batuan ijo dan batuan andesit. Komunitas yang dipimpin oleh Arif Budi Laksono ini biasa menjual patung seharga Rp500 ribu sampai Rp50 juta, tergantung dari kerumitan pembuatan patungnya.

Saya juga sempat berbincang dengan Raka AB, ketua Paguyuban Karuhun Sunda. Pembentukan secara komunitas sudah empat tahun mendirikan budaya seni sisingaan. Seni tari Sisingaan yang berasal dari daerah Subang ini memiliki sejarah filosofi kesemangatan perjuangan dari penjajah Belanda. Menyimbol melawan penjajahan Belanda dengan menduduki singa. Maka, Seni Tari Sisingaan sebagai bentuk perlawanan kepada penindasan.

Rangkaian kegiatan Kolaborasi Asyiik 2014 ini diharapkan dapat menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan pertemanan antar komunitas karena di dalamnya terkandung banyak hal dan potensi positif. Demikian kata Karel.

Semangat ekonomi kreatif sangat penting, apalagi menghadapi Asean Community 2015. Semoga pentas kolaborasi asyik ini menjadi pemicu dalam ekonomi muda kreatif. Maju terus pemuda Indonesia. 🙂

Advertisements