Tags

,

Mendengar banyaknya ibu yang terlibat kasus korupsi membuat diri ini terhenyak. Begitu pula dengan istri yang bekerja sama dengan suaminya dalam melakukan tindakan korupsi. Tidak ada yang menyangka bahwa seorang ibu ataupun istri akan melakukan tindakan korupsi. Sebagai perempuan, calon istri dan ibu, hati bergetar memohon perlindungan Sang Maha Kuasa agar terhindar dan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan jahat dan zalim tersebut.

Perempuan dalam perjalanan kehidupan berumah tangga bisa menjadi pendorong keluarga menuju kebaikan, ataupun sebaliknya menuju keburukan. Iya, begitu pula dalam tindakan korupsi, ibu bisa menjadi pendorong suami untuk melakukan tindakan korupsi, atau mencegah suami dalam melakukan korupsi.

Fenomena banyaknya ibu yang masuk penjara karena korupsi, menjadi renungan betapa pentingnya penerapan nilai-nilai moral bagi perempuan dalam pencegahan korupsi. Dan sangat penting ibu rumah tangga memahami motif-motif korupsi dan bahayanya agar tidak terjerat dalam kasus korupsi.

Betapa tidak, Indonesia merupakan negara Pancasila dengan masyarakat beragama, kita memiliki sejumlah ormas agama, ribuan madrasah dan pesantren, ustadz dan pemuka agama lainnya, tetapi korupsi mampu berkembang dengan massif. Korupsi yang telah mewabah, dan ada yang bilang membudaya sungguh sangat memprihatinkan.

Pemaknaan korupsi bukan lagi terbatas pada pencurian, pembobolan, dan penjarahan uang negara yang mengakibatkan kerugian keuangan negara dan perekonomian negara sekaligus memiskinkan rakyat secara massif. Dan ternyata perbuatan-perbuatan tersebut telah memporakporandakan bangunan dan kualitas nilai-nilai otentik kemanusiaan.

Ada tiga kategori korupsi yang oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebutkan, pertama, corruption by need, pelakunya kelas menengah ke bawah karena tidak mampu bertahan hidup wajar.  Kedua, corruption by greed, dengan pelaku kelas atas seperti pejabat tinggi, elit politisi dan kekuatan bisnis gelap karena mental serakah. Ketiga, corruption by design, dengan pelakunya para perumus dan penentu kebijakan publik dari Undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri/lembaga negara, peraturan daerah tingkat I dan II. Begitu pula dengan putusan hakim, termasuk hakim konstitusi yang terindikasi mafia peradilan. Kategori terakhir ini yang sangat merusak tatanan nilai negara dan kemanusiaan.

Rumah tangga sebagai gerbang karakter dalam berkebangsaan memiliki peran penting dalam membangun karakter antikorupsi. Rumah tangga merupakan lingkup terkecil yang akan terus berkembang pada lingkungan RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten, wilayah, dan negara. Maka ibu, pendidik awal pembentukan karakter antikorupsi.

Kemajuan teknologi dan trend gaya hidup menjadi tantangan tersendiri bagi ibu dalam pendidikan karakter.    Salah satu efek negatif dari teknologi adalah individualisme.

Berkurangnya bercengkrama, mengobrol dan bercanda di dalam rumah telah berganti dengan asyiknya berbicara di media sosial. Berkunjung antar tetangga sudah berganti dengan menyapa di media sosial. Peran rumah tangga seakan telah diambil oleh peran media sosial.

Belum lagi dengan gaya hidup yang selalu berubah sehingga menjadikan sifat konsumtif. Mengikuti gaya hidup seakan menjadi korban iklan, karena akan terus mengikuti perkembangan iklan yang ditayang. Hidup sederhana menjadi tantangan di lingkungan konsumtif.

Penerapan nilai jujur, amanah dan sederhana sangat penting dalam membangun karakter di dalam rumah tangga. Dengan demikian, sangat besar peran ibu dalam membangun pendidikan karakter antikorupsi.

Advertisements