Tags

,

Bea cukai menjadi gerbang lalu lintas pemeriksaan barang dari luar ke dalam negeri, atau sebaliknya.

Selama ini kasus Bea Cukai menjadi titik poin pencegahan Narkoba masuk ke Indonesia.
Selasa, 18 Nopember 2014, Bea Cukai melakukan Press Conference di Bandara Soekarno Hatta.

Ada tujuh kasus yang diwartakan. Pertama, Senin, 20 Oktober 2014, kecurigaan muncul ketika seorang warga negara Vietnam berinisial PV (31 tahun) yang membawa shabu berbentuk kristal sebanyak 2.582 gram dengan estimasi nilai uang Rp.3.485.000.000.

Kedua, Rabu, 22 Oktober 2014, penumpang seorang laki-laki berinisial PT (27 tahun) warga Vietnam. Barang yang ditemukan 2.604 gram shabu berbentuk kristal bening yang dikemas dalam travel bag. Harga nilai barang sebesar Rp.3.515.000.000.

Ketiga, Senin, 27 Oktober 2014, dengan kecurigaan pada seorang penumpang laki-laki warga Hongkong yang berinisial WL (38 tahun). Dia membawa 2 gram bruto hashish/ekstrak Mariyuana berbentuk pasta hitam yang diselipkan di bagian atas celana dalam. Hasish ini olahan dari tanaman ganja berbentuk pasta dan berefek psychoactive.

Keempat, Rabu, 29 Oktober 2014, dengan kecurigaan pada laki-laki warga Iran berinisial KM (27 tahun). Dia membawa shabu sebanyak 1.614 gram dengan nilai harga 2.174.000.000.

Kelima dan keenam, Sabtu, 1 Nopember 2014, dicurigai dua orang penumpang laki-laki warga Taiwan berinisial LC (40 tahun) dan XW (21 tahun) dengan membawa shabu cair yang disembunyikan di dalam Guci arak.

Ketujuh, Ahad, 2 November 2014 yang dicurigai 1 Perempuan WNI dengan membawa 2.278 shabu yang disimpen pada dinding tas ransel.

Dengan demikian, bea cukai berhasil mencegah penyelundupan Narkoba yang disembunyikan di travel bag, tas ransel, dan celana dalam. Bahkan, dalam pengidentifikasian barang, bea cukai berhasil menemukan Narkoba yang berbentuk lilin dan sabun cair. Maka, bea cukai memiliki peran sangat penting atas pencegahan masuknya Narkoba ke Indonesia.

Advertisements