Tags

“Latihan…latihan…dan terus berlatih…” Demikian kata Ulish Anwar, trainer public speaking, dalam penekanan tentang materi public speaking. Lebih lanjut, Mas Ulish, menjelaskan bahwa dalam public speaking harus memperhatikan intonasi dan gesture tubuh, karena dalam berbicara di depan umum hanya 7% yang memperhatikan isi pesan, 38% cara penyampaian, dan 55% bahasa tubuh.

Hal tersebut menjadi titik poin yang menarik bagi saya yang memang kurang mampu berbicara di depan umum. Sabtu, 18 Oktober 2014 lalu saya berkesempatan mengikuti #Bridiscuss yang diadakan oleh komunitas Blogger Reporter Indonesia (BRID) di restoran WarungKomando. Acara yang menampilkan diskusi sekaligus latihan public speaking ini sangat menarik dan menginspirasi untuk mempraktekkannya langsung.

Bukan hanya Ulish Anwar, hadir juga sebagai pemateri Nurul Nashrullah, yang sering dipanggil Kang Arul, dosen komunikasi media. Secara menarik, Kang Arul menekankan bahwa dalam public speaking yang harus diperhatikan adalah diri kita, si pembicara. Pembicara harus memahami dirinya ketika akan menyampaikan pesan. Dia harus melihat siapa orang yang akan diajak bicara, sehingga ketika mengetahuinya maka akan mudah dalam menyampiakan pesannya. Dengan mengetahui keadaan audience maka pembicara akan mengetahui dengan cara apa pesan yang disampaikan itu agar mudah diterima oleh audience.

Berdiskusi dan berkomunikasi di tempat yang asri dan menyenangkan membuat lupa akan waktu yang terus bergulir menuju tengah hari. WarungKomando menjadi pilihan tepat sebagai tempat berbagai acara dan makan bersama. Suasana yang menyenangkan dan nyaman menjadi asik untuk acara keluarga ataupun kantor.

Berada di Jl. Saharjo No.1 Tebet, WarungKomando mudah diakses dan didatangi. Restoran yang buka sejak Juli 2012 ini tampil dengan menu masakan Indonesia. Sajian iga bakar, bebek bakar, sop iga yang sangat menggoyang lidah membuat saya ketagihan. Belum lagi dengan menu-menu khas Indonesia lainnya yang sangat menyegarkan.
Ketika memasuki restoran, kesan saya pada tempat makan ini unik. Meskipun bangunan terlihat gaya modern, tetapi pernak pernik atau aksesori rumah yang bernuansa zaman dulu membuat saya semakin tertarik. Peralatan dapur tempo dulu tersusun rapi dalam lemari kaca. Kaset-kaset lama menghiasi atap plafon. Poto-poto pemilik restoran, Eko Patrio dan Viona, suami istri artis ini sangat artistic.

Tidak berlebihan bila Bridiscuss pertama BRID diadakan di tempat yang menarik dan menyejarah ini, penuh dengan pernak pernik masa lalu.

Advertisements