Tak terpikirkan sebelumnya tentang ide PLN. Perusahaan yang berada di bawah panji BUMN sudah hadir dengan sebaik-baiknya. Ahad, 21 September 2014, pada acara yang digelar oleh blogdetik dengan PLN, saya berkesempatan mendengarkan langsung para narasumber PLN yang menjabarkan kiprah PLN selama 69 tahun. Umur PLN sama dengan usia kemerdekaan Republik Indonesia. Angka unik yang saya menafsirkannya sebagai perputaran yang menjadi titik balik PLN untuk pelayanan secara utuh kepada masyarakat. Dari acara tersebut, menjadi inspirasi saya dalam menyikapi kritik yang selama ini ditujukan kepada PLN menjadi ide solusi bagi PLN dalam pelayanannya kepada para pelanggan.

Selama ini saya secara langsung telah merasakan manfaat dari energi listrik. Saya mendapat penerangan di kala gelap, dapat menonton TV dengan energi listrik, mendapatkan air sumur dari pompa energi listrik, dan masih banyak yang saya rasakan langsung dari kekuatan energi listrik. Di usia yang ke-69 PLN, tentu banyak yang sudah dilakukan oleh pihak PLN. Dari mulai sumber pembangkit tenaga listrik, infrastrukturnya, dan pelayanan komunikasi. Semua itu tentu tidak lepas dari kerjasama PLN dengan berbagai pihak.

Desa saya yang berada di kaki Gunung Galunggung sudah lama mendapatkan aliran energi listrik. Dan sudah hampir satu tahun, keluarga kami beralih pembayaran listrik dari yang pascabayar menjadi prabayar. Selama pascabayar, kami melakukannya dengan mengumpulkannya pada salah seorang warga, kemudian dia ke tempat pembayaran listrik di kota. Namun, setelah setahun beralih ke prabayar pulsa rekening listrik, kebiasaan itu tidak ada karena belum semua di kampung kami pindah ke rekening prabayar.

Berada di pelosok desa, pembayaran dengan prabayar agak menyulitkan bagi kami karena harus pergi ke kota terlebih dahulu. Untungnya adik saya sedang kuliah di Kota Tasikmalaya, jadi bisa ditanggulangi bila listrik sudah berbunyi. Lalu bagaimana dengan keluarga yang lainnya? Dari hal tersebut saya memikirkan adanya mobil keliling listrik. Kenapa mobil keliling listrik?

Pertama, mobil keliling listrik dapat menjadi depot pembayaran listrik setiap warga di desa-desa, sehingga memudahkan para warga desa membayar listriknya. Pembayaran listrik ini memang sudah diserahkan ke pihak swasta, sehingga penjualan rekening listrik bisa dilakukan seperti penjualan pulsa telepon. Siapa saja yang memiliki bisnis pulsa dapat melakukan penjualan rekening listrik. Akan tetapi, tempat kami yang memang berada di kampung, jauh dari kota, jarang yang menjual isi ulang rekening listrik. Kalau isi ulang pulsa telepon memang ada, itu pun hanya sedikit. Mengingat pentingnya listrik, maka saya berharap pihak PLN dapat berkoordinasi dengan aparat desa untuk pelayanan pembayaran listrik dengan salah satunya pelayanan secara mobile, yaitu adanya mobil keliling ke desa-desa untuk penjualan pulsa rekening listrik.

Kedua, sebagai sosialisasi listrik pintar atau listrik prabayar. Di kampung saya belum semua telah mendaftar listrik pintar, masih banyak yang pembayaran listriknya pascabayar. Dengan adanya mobil keliling ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga untuk memindahkan rekening pulsa listriknya ke sistem listrik prabayar.

Ketiga, akses pelayanan langsung kepada konsumen. Berbeda dengan di kota-kota, di kampung-kampung yang berada di daerah-daerah pelosok, infrastruktur internet tidak seperti di kota. Pemahaman akan adanya fasilitas media sosial sebagai media konsultasi belum begitu dipahami. Dalam hal ini membutuhkan pendidikan internet yang komprehensif. Bukan hanya pemberitahuan bahwa PLN telah siap melakukan pelayanan melalui media sosial, tetapi warga desa pun harus paham terlebih dahulu tentang internet. Dengan demikian, mobil keliling ini menjadi salah satu media alternatif dalam pelayanan komunikasi langsung antara PLN dan pelanggannya.

Keempat, sebagai sosialisasi hemat listrik. Tidak semua paham akan pentingnya penghematan energi listrik. Saya masih melihat warga yang mengabaikan penggunakan listrik sesuai dengan yang diperlukan. Walaupun sudah banyak di kampung saya yang sudah paham akan keterbatasan energi listrik. Mereka menggunakan listrik seminimal mungkin, karena bagi yang prabayar, penghematan listrik juga mempengaruhi pulsa rekening listrik. Pemahaman akan penghematan tersebut, yang menjadikan banyak warga menghemat listrik.

Kelima, media pengaduan pelanggan. Kita sering mendengar curhatan warga ketika lampu mati di media sosial. Mereka dapat mengungkapnnya dan bisa mengadukan langsung ke pihak PLN. Lalu bagaimana dengan yang ada di desa, yang belum memiliki sarana informasi internet? Maka, ketika terjadi mati lampu, warga sebagai pelanggan wajib mengetahui alasannya. Dalam komunikasi bisnis, menjaga hubungan antara produsen dan konsumen sangat penting. Dengan mengetahui penyebab terjadinya mati lampu, maka itu akan menumbuhkan kepercayaan pelanggan kepada PLN.

Keenam, mobil keliling adalah media public relation PLN. Setiap kabar dari PLN dapat dikabarkan secara langsung kepada pelanggannya. Kabar kenaikan listrik atau penghapusan subsidi PLN bagi yang memiliki 1900 KWH dapat tersampaikan dengan persuasif.

Demikianlah beberapa alasan kenapa saya mengajukan mobil keliling di daerah-daerah yang jauh dari infrastruktur PLN. Tidak lain untuk memudahkan PLN dalam berkomunikasi dengan pelanggannya. Mobil ini ada hanya di daerah-daerah saja, bukan di kota-kota yang sudah tersedia fasilitas infrastruktur PLN. Semoga ide saya dipertimbangkan dan menjadi bahan masukan dalam menciptakan hubungan atau kerjasama antara pelanggan dengan PLN.

Advertisements