Tags

Ketika menginginkan makan, maka yang terbayang adalah nasi dan lauk pauknya. Sudah menjadi pengetahuan umum, kalau menyebut makan, maka pasti nasi. Nasi yang merupakan makanan yang berasal dari padi menjadi bahan makanan pokok sebagian besar warga Indonesia. Namun sayang, sekarang ini beras menjadi salah satu bahan pangan impor. Padahal padi menjadi salah satu rempah dan palawija yang sudah ada di Indonesia berabad-abad silam.
Dalam tradisi Sunda atau Jawa sendiri, ada Dewi Sri atau Dewi Pohaci, yang dikenal dengan Dewi Padi sekaligus dewi kesuburan dan kemakmuran. Saya teringat juga dengan dongeng masa kecil tentang Putri Purbasari. Putri yang diasingkan ke hutan dan mendapat tantangan dari kakanya, Putri Purbalarang dalam hal bercocok tanam, termasuk di dalamnya padi. Hasil panen yang memuaskan, itu menunjukkan bahwa Purbasari telah berhasil sekaligus memenangkan tantangan kakaknya.
Tentunya, untuk mendapatkan hasil panen yang memuaskan dibutuhkan teknik bercocok tanam yang baik. Dalam rangkaian berikutnya, keberhasilan pertanian dan peternakan patut disyukuri. Tradisi mensyukuri panen raya ini sudah agak langka, tetapi saya masih bisa menemukannya di Kampung Sindang Barang, Bogor.
Setiap tahun, Kampung Sindang Barang Bogor mengadakan upacara seren taun sebagai bukti syukur ke ilahi rabbi dalam menerima gemah rempah. Dalam rangkaian ini saya mengenal kembali tradisi-tradisi panen yang sudah mulai terabaikan. Ada banyak gelak tawa dan hiburan dalam perayaan ini.
Tradisi beriringan menuju tempat upacara yang memamerkan hasil pertanian dan usaha, yang kemudian dibagikan kepada masyarakat setelah ritual acara selesai.
Sang surya sudah beranjak dari sepenggelahan, sinarnya menebar hangat dalam segarnya udara desa di kaki Gunung Salak. Gelak tawa dan senyuman menghiasi wajah-wajah penduduk Desa Sindang Barang. Senda gurau selalu terselip dalam setiap perbincangan. Mereka terlihat bergembira dan bersuka ria.
Mereka berbaris panjang untuk melakukan perjalanan menuju alun-alun KBS (Kampung Budaya Sindang Barang), tempat berlangsungnya upacara. Dalam barisan tersebut, masyarakat membawa hasil tani dan usaha mereka untuk disedekahkan dan dibagikan dengan masyarakat lainnya.
Kelompok yang paling depan dalam iring-iringan adalah warga yang membawa padi kering terbaik untuk disimpan di dalam leuit (peti). Leuit sendiri adalah tempat menyimpan padi kering yang bisa tahan cuaca.
Kelompak dua adalah tujuh putri cantik, dengan salah seorangnya membawa bunga, kemudian pembawa dongdang kendi yang berisi air dari 7 sumber mata air, kemudian dongdang yang membawa padi yang terbaik, lalu ada para ibu dan bapak yang berpakaian hitam seperti jawara, selanjutnya diiringi oleh kelompok masyarakat yang membawa hasil tani dan usaha mereka masing-masing. Ada yang dari RT, keluarga dan sekolah. Semua yang mereka bawa adalah untuk disedekahkan dan dibagikan dengan masyarakat lainnya. Dongbang-dongbang itu dihias dengan sangat menarik, ada yang berbentuk mobil-mobilan dengan isinya kue dan ada yang seperti tempat perebutan panjat pinang yang isinya sandal semua. Rerata yang mereka bawa adalah buah-buahan seperti nangka, rambutan, mangga, jeruk, rambutan, dan lengkeng. Ada juga hasil palawija seperti kol, sawi, terong dan kacang panjang. Bahkan, ada yang membawa pete dan terasi. Adapun sandal, karena kebanyakan warga Sindang Barang pengrajin sandal dan sepatu. Ada yang membawa kue-kue, nasi dan bakakak (bakar) ayamnya. Iring-iringan semakin meriah dengan hampir semua masyarakat desa ikut iring-iringan menuju alun-alun KBS.
Sebelum berangkat, ketua rombongan membuka dan memberi aba-aba, selanjutnya semua iring-iringan diberi wewangian menyan dengan pembawa menyan mengelilingi semua rombongan yang berangkat.
Jalan yang menanjak dan menurun tetap membawa semangat bagi pengangkat dongdang, mereka tersenyum dan tertawa sambil bersenda gurau menghalau rasa lelah.
Setelah semua berkumpul di alun-alun, upacara adat pun langsung dimulai. Dalam prosesi ini pupuhu kampung budaya menyipratkan air yang telah didoakan oleh para kiyai ke orang yang hadir. Tidak hanya itu, dongdang-dongdang sedekah pun didoakan terlebih dahulu sebelum diperebutkan. Tetua kampung juga menyimpan padi ke leuit untuk persiapan pada musim panen berikutnya.
“Ini adalah adat, bukan agama,” seru wakil bupati Garut, Karyawan Faturahman dalam sambutannya setelah ritual adat selesai.
“Ritual seren taun di Sindang Barang ini baru dimulai lagi tahun 2006, setelah terakhir kali diadakan pada tahun 1970 oleh kakek Pak Maki. Pak Maki adalah pupuhu Kampung Budaya Sinda Barang. Seren taun yang asalnya adalah sedekah bumi dibangkitkan kembali untuk melestarikan tradisi sunda,” kata Hendra M. Astari, pupuhu Napak Tilas Peninggalan Budaya. “Sebetulnya, meskipun pakum tetapi di tingkat RT atau keluarga di Desa Sindang Barang masih ada yang melakukan sedekah bumi, maka dipimpin oleh Pak Maki, dengan mendata dan mengadakan pertemuan demi pertemuan antar warga tentang ritual sedekah bumi, maka disepakatilah prosesi seren taun sekarang ini,” lanjut Hendra.
Seren taun ini bukan hanya bersedekah dan berbagi rezki, tetapi sekaligus pementasan berbagai karya seni dan atraksi sunda, seperti pencak silat, tari jaipongan, wayang golek, tari adu seeng, karinding dan yang lainnya

Dari rangkaian acara tersebut, bukan hanya makan, tetapi ada gemah rempah mahakarya Indonesia. Syukur pun dalam setiap asupan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh kita. Betapa mahakarya Tuhan telah memberi inspirasi dalam setiap tatanan kehidupan dan kearifan dalam berkehidupan.

Advertisements