Tags

,

DSC06546

Registrasi prabayar kartu telepon dalam proses pembenahan. Mulai bulan Agustus, para pembeli kartu perdana harus membawa identitas ketika melakukan pembelian untuk diregistrasi oleh penjual kartu perdana. Sistem ini sebagai upaya perbaikan sistem demi keamanan dan kenyamanan pengguna kartu telepon prabayar.

Sebagaimana kita ketahui, penipuan melalui telepon sudah seringkali kita dengar. Saya sendiri hampir setiap hari mendapat sms hadiah dari salah satu perusahaan terkenal di Indonesia. Tidak hanya itu, banyak spam sms yang promo atau jualan masuk ke nomor telepon. Salah satu pengelaman yang pernah saya tertarik adalah ketika saya sedang mencari kosan dan nego-nego harga, besoknya ada sms masuk tentang kirim aja ke nomor rek sekian-sekian untuk pembayaran kontrakan. Untung tidak saya hiraukan, hanya saja saya tertariknya kok bisa kebetulan saya lagi ngurus kontrakan atau kosan ada sms seperti itu masuk.

Ada lagi cerita teman, dia bercerita bahwa ibunya yang tertipu oleh penipu yang menelepon bahwa adik bungsunya ada di kantor polisi dan membutuhkan uang segera. Kebetulan, telepon adik bungsu teman saya tidak bisa dihubungi, maka sang ibu pun yang kebetulan sudah tua menyetor dalam bentuk pulsa sebanyak Rp400ribu. Teman pun mengurus penipuan tersebut ke kantor polisi, namun saying polisi malah seperti mencurigai adiknya berkejasama dengan penjahat untuk mendapatkan uang. Dan parahnya, pak polisi pun minta uang untuk pengurusannya. Oknum polisi yang memang menyebalkan, bukannya menolong yang kesulitan malah memanfaatkan kesulitan untuk kepentingannya sendiri.

Ada banyak kisah penipuan, maka regulasi pendataan kartu telepon prabayar sangat penting. Bukan hanya bisa dipakai untuk penipuan, tetapi bisa dimanfaatkan untuk terorisme.

DSC06543

Untuk menyikapi hal tersebut, bertempat di Gedung Indosat, Jakarta, 16 Juni 2014, ASTI (Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia) mengajak masyarakat untuk mendukung perbaikan registrasi telepon prabayar. Ini sesuai dengan Surat Edaran BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) No. 161/BRTI/V/2014agar peyelenggara telekomunikasi melaksanakan registrasi prabayar sesuai dengan Peraturan Menteri No. 23 Tahun 2005 tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi.

Adapun prosedur registrasi telepon prabayar, sebagai tahap awal dengan meregistrasi kartu perdana. Tahapan registrasinya diubah, yang awalnya pelanggan bisa mengisi data ID sendiri dengan sms ke 4444, sekarang penjual kartu perdana yang mengisi langsung registrasi. Caranya mudah, pembeli kartu perdana harus membawa KTP, SIM atau paspor sebagai ID. Setiap kartu akan tervalidasi ke ID masing-masing pengguna yang tercantum di dalam Departemen Dalam Negeri.

Bagi anak-anak atau pelajar yang berlum mendapat KTP, SIM atau Paspor, maka mereka bbisa menggunakan identitas orang tua mereka. Kedisiplinan ini menjadi titik awal dalam pembenahan system telekomunikasi di Indonesia.

Di sisi lain, operator pun melengkapi dirinya dengan Distribution Monitoryng System sehingga dapat diketahui semaksimal mungkin dari outlet mana registrasi pelanggan tersebut dilakukan. Perubahan proses ini diharapkan mampu mendrong akurasi data pelanggan prabayar akan semakin membaik. Dengan meningkatnya akurasi data pelanggan prabayar, pemerintah dan operator melindungi pelanggan prabayar dari penipuan atau sms/telepon spam melalui layanan tellekomunikasi prabayar, serta dapat melakukan tindakan penegakkan hukum bagi penipu. Demikian kata Alexander Rusli, ketua umum ASTI.

 

Advertisements