Tags

, , ,

Ketika pulang kampung, saya sempat berkunjung ke salah satu inabah yang ada di daerah Pagerageung, Tasikmalaya. Tadinya saya ingin berkunjung ke Pesantren Suryalaya, pesantren tarikat Naqsabandiyah terbesar di Tasikmalaya. Selain itu, pesantren ini juga terkenal dengan pesantren rehabilitasi Narkoba.
Saya tertarik dengan sistem rehabilitasi yang digunakan oleh Pesantren Suryalaya sehingga pesantren ini mendapat berbagai penghargaan dari luar dan dalam negeri atas keberhasilannya dalam merehabilitasi para pecandu Narkoba. Baiklah, saya akan memulainya dengan menelusuri Pesantren Suryalaya dengan Tarikat Qadariyah Naqsabandiyah. Kenapa demikian? Karena setelah saya telusuri, titik poin ajaran di pesantren ini menjadi dasar dalam bimbingan rehabilitasi para pecandu Narkoba.
Saya sudah lama mendengar ada tempat rehabilitasi para pecandu Narkoba di Pesantren Suryalaya, keinginan untuk melihat pesantren ini selalu terhalang karena jarak yang cukup jauh dari tempat tinggal saya. Walau satu kabupaten, tapi jarangnya kendaraan di tempat saya membuat saya agak kesulitan ke luar desa. Eits… saya malah curhat deh, hehehe…
Pesantren Suryalaya merupakan pesantren yang menerapkan tarikat Naqsabandiyah. Waktu saya di desa, saya tidak begitu paham tentang tarikat, termasuk Tarikat Qadiriyah Naqsabandiyah. Karena kebetulan, di dekat desa saya juga ada salah satu pesantren yang menggunakan Tarikat Idrisiyah.
Setelah menemukan perpustakaan, saya baru tahu bahwa tarikat adalah suatu tahapan menuju kesufian. Begitu pula dengan Tarikat Qadiriyah Naqsabandiyah merupakan jalur tahapan menuju kesufian. Ada empat ajaran pokok yang diusung oleh tarikat ini, yaitu kesempurnaan suluk, adab, zikir, dan murakabah.
Pesantren yang mulai dirintis tahun 1905 oleh Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad ini menjadi pelopor pesantren untuk rehabilitasi Narkoba di Tasikmalaya. Adapun awal pembentukan rehabilitasi dengan nama inabah diadakan pada masa KH. Shohibul Wafa Tajul Arifin atau sering disebut Abah Anom.
Abah Anom merupakan tokoh agama dan sosok inspiratif yang menjadi teladan bangsa. Abah Anom telah berhasil menangani rehabilitasi pecandu Narkoba melalui metode zikir. Sejak tahun 1980 mendirikan Inabah VII yang bertempat di Rajapolah, Tasikmalaya.
Inabah, Tempat Rehabilitasi
 Tadinya saya ingin datang langsung ke Pesantren Suryalaya, tetapi kata saudara saya, bahwa di Pesantren Suryalaya tidak ada pecandu Narkoba. Saya yang tidak begitu tahu tentang Pesantren Suryalaya dan Inabah semakin penasaran. Maka, Selasa, 11 Februari 2013, dengan diantar oleh Uwa (kaka ibu), saya pergi menuju Pesantren Suryalaya. Namun, saudara memastikan dulu inabah dengan menanyakan kepada kenalannya tentang inabah yang terdekat. Kami pun diarahkan ke Inabah XX.
Saat itu, saya tidak tahu apa itu inabah dan bagaimana metode rehabilitasinya. Ketika menuju Inabah XX, bayangan saya yang dihadapkan pada gedung, ternyata saya bertamu ke sebuah rumah yang asri. Saya bertemu dengan salah satu pembina Inabah XX, Pak Dudin. Dengan ramah, Pak Dudin memaparkan tentang metode inabah tersebut.
Metode Inabah, baik secara teoritis maupun praktis berdasarkan Al-Qur’an, hadis dan pendapat para ulama. Inabah sendiri artinya pengembalian atau pemulihan. Ada empat tahapan dalam inabah, yaitu mandi, shalat, zikir dan pembinaan.
Pak Dudin menjelaskan bahwa ketika si pengguna Narkoba diantar keluarganya ke Inabah, si pengguna Narkoba ini langsung dimandikan. Tidak hanya itu, Pak Dudin juga menjelaskan keseharian dalam rehabilitasi Narkoba.
Jadwal harian:
Pukul 02.00 WIB waktunya mandi, shalat tobat dan shalat tahajud, terus zikir.
Pukul 03.00 WIB waktunya istirahat.
Pukul 04.00 WIB waktunya Shalat Shubuh, zikir.
Pukul 06.00 WIB waktunya istirahat, sarapan, dan olah raga.
Pukul 10.00 WIB waktunya belajar agama seperti membaca dan hapalan Al-Quran.
Pukul 15.00 WIB waktunya Shalat Ashar.
Pukul 16.00 WIB waktunya Olah raga.
Pukul 18.00 WIB waktunya Shalat Maghrib, Shalat sunnah dan zikir.
Pukul 19.00 WIB waktunya Shalat Isya.
Pukul 19.30 WIB waktunya makan malam.
Pukul 21.00 WIB waktunya Shalat Hajat, istirahat tidur.
Demikian rutinitas pembinaan metode inabah yang dilakukan selama empat bulan. Setelah empat bulan, mereka dievaluasi hasilnya. Mereka biasanya sudah lepas dari ketergantungan. Ada yang menarik dari rehabilitasi metode inabah ini bahwa anak bina sama sekali tidak boleh menyentuh lagi zat Narkoba. Mereka benar-benar putus dengan Narkoba. Apabila ada anak bina yang sakaw atau kecanduan, mereka langsung dimandikan. Inabah XX terletak di Puteran, Suryalaya, Tasikmalaya. Ada 60 anak bina yang sedang dibimbing di sini.
Pasien yang ingin direhabilitas, baik itu melalui orang tua maupun keluarganya, mereka menghubungi Pondok Pesantren Suryalaya, kemudian dibina di inabah-inabah. Inabah ini tersebar di rumah warga, bukan hanya di daerah Tasikmalaya. Bahkan, ada juga yang di luar negeri. Tak jarang, pihak pesantren atau inabah menjemput sendiri pasien karena keadaan pasien yang tidak memungkinkan dibawa oleh keluarganya. Tapi tak jarang juga orang tua atau keluarga yang membawa anak atau saudaranya ke Pesantren Suryalaya.
Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba
Setelah empat bulan pembinaan di inabah, para pasien Narkoba ini bisa pulang ke rumahnya masing-masing. Tetapi, bagi yang masih sekolah, maka para pasien bisa melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren Suryalaya.
Mengingat pendidikan mempunyai peranan penting untuk membentuk akhlak serta budi pekerti mulia dan dalam mencerdaskan bangsa serta untuk menanamkan ideologi dalam proses integrasi nasional. Semangat awal pendirian pesantren ini adalah untuk memfasilitasi belajar agama Islam, maka dunia pendidikan menjadi ciri khas tersendiri di Pesantren Suryalaya.Selain itu, terselenggaranya pendidikan formal yang baik juga dapat meningkatkan taraf dan mutu kehidupan bangsa.
Lembaga pendidikan ini juga tetap berkonsep pada tarikat Qadiriyah Naqsabandiyah. Adapun lembaga pendidikan formal umum yang tersedia di sini:
1.      Taman Kanak-kanak (TK).
2.      Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).
3.      Sekolah Menengah Umum (SMU).
4.      Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
5.      Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi.
Adapun lembaga pendidikan formal keagamaan, yaitu:
1.      Madrasah Tsanawiyah.
2.      Madrasah Aliyah.
3.      Madrasah Aliyah Keagamaan.
4.      Institut Agama Islam.
Tidak hanya itu, jenjang dari pendidikan formal juga diiringi dengan pengajian tradisional. Penekanan materi yang disampaikan adalah al-Qur’an dan tajwid, fikih, akidah, akhlak, tasawuf, nahwu, sharaf dan bahasa Arab.

Ponpes Suryalaya bukan hanya menyadarkan pengguna Narkoba dengan menggunakan metode ajaran agama Islam, tetapi pesantren ini juga berpartisipasi dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba.
Metode penyembuhan atau rehabilitasi yang bagi para pasien di atas sebetulnya kebiasaan yang diterapkan juga bagi para santri, seperti mandi atau wudhu, zikir, shalat wajib lima waktu, shalat tahajud atau qiyamullail, dan puasa sunah Senin dan Kamis. Kebiasaan-kebiasaan di pesantren ini diharapkan dapat menjadi kebiasaan bagi para pasien juga.

Perjalanan yang menghabiskan waktu selama dua jam bolak balik tidak sia-sia. Penjelasan Pak Dudin tentang inabah dan Pesantren Suryalaya menambah wawasan saya mengenai rehabilitasi dan cara penyembuhan secara islami.
Advertisements