Tags

, ,

Semalam saya berbicara dengan salah seorang guru Sekolah Dasar (SD) tentang Narkoba. Pembicaraan yang berawal dari keadaan sekolah yang sudah menyelesaikan tes. Kami pun berbincang tentang salah seorang muridnya yang baru seminggu selesai tes, ayahnya meninggal.
Anak kecil yang sudah ditinggal figure ayah, maka peran ibu, guru dan lingkungan sekitar berperan dalam membimbing dan mengarahkan anak menjadi anak yang baik, cerdas, dan berguna bagi nusa dan bangsa. Menjadi anak yatim bukan pilihan, tetapi takdir dari anak tersebut untuk menjalani kehidupannya.
Teman saya yang seorang guru pun menuturkan bahwa anak-anak seperti ini membutuhkan kasih sayang atau perhatian lebih dari guru. Bukan berarti guru menggantikan peran ayah, tetapi guru berperan turut membantu untuk membimbing dan mengarahkan anak menuju anak yang cerdas dan berakhlak mulia.
Sebetulnya tindakan guru sebagai pendidik memang seperti demikian. Pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa diberlakukan untuk seluruh tingkat pendidikan di Indonesia dengan menyisipkan pendidikan berkarakter dalam proses pendidikan. Nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa sebaiknya ditanamkan pada siswa sedini mungkin. Tempat yang tepat dalam penanaman nilai-nilai karakter tersebut berada di sekolah dasar (SD) dengan guru-guru profesional dalam bidangnya, termasuk Narkoba. Para guru menyisipkan informasi Narkoba dalam mata pelajaran yang diberikan kepada murid.
Ketika berbicara Narkoba, teman yang guru Matematika ini mengajarkannya pada pelajaran berhitung. Misalnya, saat mengajar hitungan secara contoh ekonomi jual beli, guru menyisipkan agar jangan beli jajan makanan sembarang termasuk permen dan tidak membeli jajan di tempat atau orang tidak kita kenal.
Sang guru pun menceritakan alasannya, karena permen mengandung banyak gula yang bila makan kebanyakan akan membuat sakit batuk. Jajan harus di tempat atau orang yang kita kenal, karena kita tahu jajanan yang kita makan itu bersih atau tidaknya.
Sisipan tentang informasi jenis Narkoba memang sedikit malah nyaris tidak ada. Tetapi, di sini guru mulai mengajarkan untuk menjaga kesehatan. Tentunya, larangan dengan sekaligus memberikan alasan akan lebih diterima oleh anak-anak. Seperti contoh di atas, ketika anak-anak diberi alasan bahwa permen dapat menimbulkan sakit batuk, bagi anak yang pernah merasakan sakit batuk akan mendukung ucapan guru dan memikirkan kembali ketika akan membeli permen.
Begitu pula dengan jangan jajan sembarang sekaligus alasannya sebagai tanda bahwa anak harus tahu makanan yang dia beli itu sehat atau tidak. Dengan orang yang kita kenal, maka kita akan tahu orang tersebut dalam kesehariannya bersih atau jorok. Saat memberikan informasi ini ada dialog antara anak dan guru, maka informasi yang diberikan kepada anak murid bisa terus berkembang sesuai pengetahuan yang mereka tahu.
Di sini saya melihat bahwa guru sebagai pendidik harus memiliki kemampuan komunikasi yang persuasive. Guru mengetahui kadar pengetahuan anak, sehingga ketika informasi yang diberikan disesuaikan dan diolah pesan dengan sederhana agar anak SD mudah mencernanya. Tentu beda penyampaian materi informasi Narkoba antara anak SD, SMP dan SMA. Masing-masing memiliki gaya penyampaian yang berbeda.
Penanaman nilai karakter yang paling baik adalah dengan teladan. Pada dasarnya anak-anak hanya mencontoh perilaku orang dewasa. Pentingnya pengembangan budaya dan karakter anak ini sudah dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, dengan adanya Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Kebijakan ini tertuang dalam kurikulum tahun 2010. Kita akan mengintip kurikulum 2010 yang mengembangkan nilai-nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Nilai-nilai  yang  dikembangkan  dalam  pendidikan  budaya  dan  karakter  bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber  berikut ini.
1.      Agama 
Masyarakat  Indonesia  adalah  masyarakat beragama sehingga kehidupan  individu, masyarakat,  dan  bangsa  selalu  didasari  pada  ajaran  agama dan  kepercayaannya.  Secara  politis,  kehidupan  kenegaraan  pun  didasari  pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan  itu, maka nilai-nilai pendidikan  budaya  dan  karakter  bangsa  harus  didasarkan  pada  nilai-nilai  dan kaidah yang berasal dari agama.
2.      Pancasila 
NKRI ditegakkan  atas  prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan  dalam pasal-pasal UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi  nilai-nilai  yang  mengatur  kehidupan  politik,  hukum,  ekonomi, kemasyarakatan,  budaya,  dan  seni.
Pendidikan  budaya  dan  karakter  bangsa bertujuan mempersiapkan  peserta  didik menjadi warga  negara  yang  lebih  baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya.
3.      Budaya
Tidak  ada  manusia  yang  hidup bermasyarakat tidak didasari oleh nilai-nilai budaya masyarakat itu. Posisi  budaya yang  demikian  penting  dalam  kehidupan  masyarakat  mengharuskan  budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.
4.       Tujuan Pendidikan Nasional
Rumusan kualitas warga  negara  Indonesia dikembangkan  oleh  satuan  pendidikan.  Tujuan  pendidikan  nasional  memuat  nilai kemanusiaan yang harus dimiliki oleh warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Berdasarkan keempat sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini:
Ø  Religius: sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
Ø  Jujur: Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
Ø  Toleransi: Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
Ø  Disiplin: Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Ø  Kerja Keras: Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Ø  Kreatif: Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
Ø  Mandiri: Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Ø  Demokratis: Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
Ø  Rasa Ingin Tahu: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
Ø  Semangat Kebangsaan: Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
Ø  Cinta Tanah Air: Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
Ø  Menghargai Prestasi: Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
Ø  Bersahabat/Komunikatif: Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
Ø  Cinta Damai: Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
Ø  Gemar Membaca: Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
Ø  Peduli Lingkungan: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
Ø  Peduli Sosial: Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
Ø  Tanggung Jawab: Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
Perlu kita sadari bahwa Pendidikan Budaya dan Katarkter bangsa bukan merupakan mata pelajaran, akan tetapi gerakan menanamkan nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia kepada peserta didik. Tidak menambah jam pelajaran karena diintegrasikan dalam pembelajaran.

Adapun  nilai-nilai karakter yang dimaksud pada prinsipnya merupakan acuan dalam mengintegrasikan  nilai yang perlu dikembangkan ke dalam mata pelajaran di kelas.  Jadi ada peluang  menanamkan nilai yang sama untuk matapelajaran yang berbeda bentuknya sudah berbeda.

Dengan demikian, pada dasarnya pendidikan budaya dan karakter bangsa ini memiliki ruh atau semangat yang sama dengan pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Hal yang terpenting dalam hidup ini adalah lebih baik mencegah daripada mengobati. Ketika mulai terlihat adanya ketimpangan moral atau adanya dekadensi moral pada generasi muda, maka segenap penduduk saling bahu membahu untuk mengobatinya dan berupaya mencegah agar tidak menular pada generasi muda lainnya.

Hal terpenting dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa ini adalah keteladanan. Bahkan, seorang profesional pun belum tentu dapat memberi teladan yang baik. Oleh karena itu, nilai-nilai budaya dan karakter dapat dimulai dan diterapkan oleh siapa saja dan dimana saja terlepas latar belakang seseorang.

Spirit pencegahan penyalahgunaan Narkoba adalah dengan memiliki budaya dan karakter bangsa. Mencegah lebih baik daripada merehabilitasi. Jadi, mari kita bersama-sama memberi teladan yang baik untuk masa depan generasi penerus bangsa.
Advertisements