Tags

,

Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik seorang laki-laki maupun perempuan.” (QS. Ali Imran [3]: 195)

Perempuan adalah cahaya kehidupan. Demikian coretan sekaligus bubuhan tanda tangan Maman Suherman, penulis Re:

Re: Kisah seorang perempuan yang menjalankan perjalanan takdirnya sebagai pelacur, ya… pelacur lesbian. Kondisi yang membuat Re menjadi pelacur, tetapi jiwanya tetap hidup untuk menuntaskan tugasnya sebagai makhluk Tuhan.

Re: Perempuan yang berada dalam lingkaran gelap setan pelacuran tampil bagaikan cahaya dalam kegelapan dengan kasih sayangnya sebagai perempuan sekaligus ibu, tegar dan kuat dalam menjalankan takdirnya tanpa mengeluh, mandiri pandangan hidupnya walau berada dalam jerat hutang perdagangan perempuan, dan merdeka pola pikirnya walau berada dalam ancaman dan kekerasan.
Re: Perempuan yang menjalankan hidupnya dalam lingkaran setan pelacuran, tetapi jiwanya melesat menuju keabadian. Pekerjaan yang dijalani sebagai perjalanan untuk menyelesaikan tugasnya sebagai makhluk Tuhan. Dia bergerak dan terus berjalan menuju muara kasih sayang. Secarik surat Re: dalam halaman terakhir buku ini yang menanyakan surga, mengingatkan saya akan hadis Rasulullah saw yang menceritakkan seorang perempuan pelacur yang memberi minum pada seekor anjing kehausan dan perempuan ini pun sama berada dalam kehausan lalu meninggal, dan dikabarkan bahwa perempuan ini berada dalam surga atas kasih sayangnya terhadap sesama makhluk Tuhan.
Re: Bukan hanya memaparkan kisah seorang perempuan dalam menjalankan takdirnya, tetapi penulis mengajak untuk Rethinking, berpikir kembali tentang pola pikir terhadap perempuan sekaligus mengajak untuk memikirkan kembali kekerasan dan perdagangan perempuan dan anak yang sudah berpuluh-puluh tahun terjadi di Indonesia.
Ada banyak perbenturan ide mengenai perempuan, dari feminisme sampai digiring pada persepsi sosial dan agama. Dari semua paham tersebut, maka kita, terutama saya sebagai perempuan harus berpikir kembali akan pola pikir perempuan yang terkonstruk selama ini dan sadar akan diri dan lingkungan sekitar.
Re: Catatan skripsi yang mendeskripsikan pelacuran dan trafficking(perdagangan) perempuan serta anak tahun 80-an di Indonesia, khususnya ibu kota Jakarta yang dikemas ulang dalam sentuhan fiksi yang inspiratif. Penelitian ini kembali dilakukan tahun 2013 untuk mengukuhkan menjadi buku Re; dan ternyata perdagangan perempuan dan anak masih memiliki pola yang sama, hanya medianya saja yang berbeda.
Berbeda dengan deskripsi penelitian pelacuran yang sebelumnya pernah saya baca dalam buku Jakarta Undercover, karya Muamar Emka, yang menyajikan tulisannya dengan penggalan-penggalan kisah perjalanannya sendiri dalam menelusuri berbagai tempat pelacuran. Dalam persepsi saya, buku tersebut menggiring para pembaca yang tidak tahu menjadi penasaran, dan ingin mencoba menelusuri tempat-tempat yang dia sebutkan.
Re: buku yang bukan hanya menyajikan fakta bahwa Indonesia sudah berada dalam keadaan darurat perdagangan perempuan dan anak, tetapi penulis berhasil menghadirkan sosok perempuan inspiratif yang menjadi cermin bagi kita semua, terutama perempuan.

Judul buku: Re:
Penulis: Maman Suherman
Tebal: vi + 160; 13,5×20 cm
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2014
Sabtu, 3 Mei 2014, saya berkesempatan bertemu langsung dengan penulis buku Re: Maman Suherman. Bukan hanya memaparkan latar belakang penulisan buku Re: Kang Maman, biasanya penulis dipanggil berhasil menyadarkan kami yang hadir bahwa pelacuran itu tidak lepas dari jeratan perdagangan perempuan dan anak. Lalu, sebagai perempuan, ibu, warga negara Indonesia dan makhluk Tuhan, apa yang bisa kita lakukan untuk dapat membantu saudara-saudara kita atau turut mencegah eksploitasi dan perdagangan perempuan dan anak? Catatan yang harus kita pikirkan bersama demi generasi penerus bangsa.

Bagi saya sendiri, Re adalah sosok perempuan inspiratif yang memberi pelajaran akan kesadaran. Kesadaran untuk senantiasa mengingat Allah dan menjadi makhluk yang berserah diri kepada kehendak Allah. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Lahaula wala quwwata illa billah.
Advertisements