Tags

 

Sangat memprihatinkan ketika akhir-akhir ini kita melihat banyak berita yang mengabarkan tentang penangkapan kurir Narkoba atau orang-orang yang menggunakan Narkoba. Data dari Badan Narkotika Nasional sendiri menunjukkan bahwa pengguna Narkoba dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2008, pengguna Narkoba sudah mencapai 3,3 Juta, dan tahun ini, 2014 sudah mencapai 4 juta orang. Maka, tahun 2015, dikhawatirkan akan mencapai 5,1 juta orang. Hal yang sangat mengkhawatirkan dan menjadi tugas bersama dalam memikirkan keadaan bangsa dan generasi penerus agar tidak tergerogoti terus oleh Narkoba.

Komunikasi efektif sangatlah penting dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba, konten materi sangat penting. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) atau Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan menunjukan bahwa materi atau konten yang tidak tepat, seperti testimoni untuk mengingatkan dan menyadarkan masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, ternyata kurang memberi dampak positif. Bahkan, tidak mengubah perilaku seseorang, baik itu menggunakan media leaflet, booklet, buku atau poster yang menyeramkan. Demikian jelas Yappi Manafe, Deputi Pencegahan Badan Narkotika Nasional, Kamis, 14 April 2014 di gedung BNN saat Focuss Group Discussion (FGD) dengan para blogger.
Komunikasi yang tepat dalam penyampaian materi sangat penting, sehingga penyampaian pesan ini sesuai dengan yang diharapkan oleh si penyampai pesan. Ketika dipaparkan testimony, seringkali malah ada yang penasaran. Begitu pula ketika digambarkan dalam bentuk visual akan bahaya Narkoba, kadang penerima pesan malah menafsirkannya “keren” tubuh bisa seperti itu padahal hal tersebut merupakan penyakit.
UNODC sebagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani Narkoba dan kejahatan menekankan standarisasi internasional dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba dengan berbasis ilmu pengetahuan. Standar pencegahan berbasis ilmu pengetahuan menjelaskan tentang intervensi dan kebijakan serta komponen‐komponen dan fitur‐fitur yang efektif bagi sistem pencegahan nasional (setiap negara) dengan hasil yang positif.
Ketika berbicara Narkoba, maka cara memberitahukannya bahwa Narkoba, seperti ganja atau shabu merupakan obat yang bila disalahgunakan akan merusak otak. Otak merupakan organ vital sebagai komando dari setiap gerak atau aktivitas. Pemaparan secara ilmiah dan logis ini diharapkan mampu diterima oleh semua kalangan.
Arah kebijakan Indonesia sendiri seperti yang dinyatakan oleh Bapak Anang Iskandar, Kepala Badan Narkotika Nasional, dalam blognya menyebutkan bahwa arah kebijakannya dengan menjadikan  penduduk Indonesia yang belum terlibat masalah Narkoba menjadi imun terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba melalui partisipasi aktif seluruh komponen masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia dengan menumbuhkan sikap menolak terhadap penyalahgunaan narkoba (www.anangiskandar.wordpress.com).
Adapun intervensi yang dilakukan dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba ada lima target group.
1.      Family (Keluarga)
Keluarga memiliki peranan penting sebagai tonggak awal dalam mencegah penyalahgunaan Narkoba. Keluarga yang berwawasan dan berilmu pengetahuan tentang Narkoba akan terhindar dari bahaya Narkoba. Keluarga merupakan pendidikan non formal pertama anak dalam mengetahui Narkoba. Orang tua yang berwawasan Narkoba, mereka akan menyampaikannya dengan komunikasi efektif sehingga mudah dimengerti oleh anak ketika menyampaikan informasi tentang Narkoba.
2.      School (Sekolah)
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang bisa mengajarkan tentang wawasan Narkoba, baik jenis, pengaruh dan pencegahannya. Pengetahuan ini bisa disisipkan dalam semua mata pelajaran. Tidak hanya itu, sekolah dapat mengadakan kegiatan ekstrakulikuler yang dapat memfasilitasi dan menjadikan pelajar ini aktif dalam kegiatan yang bermanfaat.
Guru sebagai pengajar harus mengetahui akan informasi mengenai Narkoba. Peranan guru sebagai pemberi informasi pada murid sangat penting, karena terkadang murid akan sangat mendengar penjelasan dari gurunya daripada keluarganya.
3.      Community (Komunitas atau masyarakat)
Komunitas adalah kumpulan orang yang memiliki tujuan atau hobi yang sama. Komunitas ini bisa menjadi kegiatan positif yang dapat mengarahkan setiap anggotanya berwawasan Narkoba, sehingga dalam kegiatan lebih memilih yang bermanfaat dan jauh dari Narkoba.
Begitu pula dengan masyarakat. Anggota masyarakat yang berkesadaran dan berwawasan informasi Narkoba, mereka akan lebih hati-hati dan waspada ketika ada masyarakat yang mencurigakan.
Komunitas dan masyarakat ini sangat penting, karena pergaulan ini seringkali yang memengaruhi seseorang, apakah menuju kea rah yang lebih baik atau buruk. Maka, komunitas atau masyarakat berwawasan informasi Narkoba akan turut menjaga dan memelihara keutuhan negara dan bangsa.
4.      Workplace (Tempat kerja)
Tempat kerja bukan hanya sebagai tempat usaha dalam menghasilkan uang, tetapi bisa menjadi wadah pergaulan. Di tempat kerja bisa diberi tahu informasi berkenaan dengan Narkoba. Karena tak jarang, pergaulan di tempat kerja bisa mengarah pada penyalhgunaan Narkoba. Wawasan Narkoba sangat penting untuk benteng diri dari berbagai pengaruh beban kerja atau pergaulan.
5. Health sector (Sektor kesehatan)
Kesehatan merupakan hal penting dalam mencegah penyalahgunaan Narkoba. Puskesmas, klinik, rumah sakit sangat penting berwawasan Narkoba, sehingga dapat mengetahui akan jenis, gejala, pengaruh, rehabilitasi sekaligus pencegahan penyalahgunaan Narkoba.
Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mengetahui orang yang akan diajak bicara. Begitu pula dengan pencegahan penyalahgunaan Narkoba, ada kategori berdasarkan umur dalam penyampaian materi Narkoba. UNODC sendiri membagi beberapa kategori umur, yaitu usia dini atau balita (0 – 5 tahun), anak-anak (6 – 10 tahun), remaja awal (11 – 14 tahun), remaja  (15 – 18/19 tahun) dan dewasa (20 – 25 tahun).
Dengan mengkategorikan rentang usia ini diharapkan dapat melakukan komunikasi tepat dalam penyampaian materi Narkoba yang berpengetahuan. Ada tiga model pencegahan penyalahgunaan Narkoba, yaitu:
1.      Pencegahan Primer.
Pencegahan dengan melakukan berbagai upaya pencegahan penyalahgunaan Narkoba sejak dini agar tidak menyalahgunakan Narkoba. Pencegahan sejak dini sangat penting sebagai benteng dalam menghadapi segala bujuk rayu dan ancaman para pengedar Narkoba.
Kita dapat mencari informasi mengenai Narkoba, baik jenis, efek, rehabilitasi sekaligus pencegahannya. Ketika kita sudah mengetahui tentang Narkoba, maka menyebarkan informasi kepada orang lain agar sadar terhadap penyalahgunaan Narkoba.
2.      Pencegahan Sekunder.
Pencegahan yang dilakukan sebagai inisiasi untuk menyadarkan pengguna Narkoba agar tidak berkembang menjadi kecanduan, menjalani terapi dan rehabilitasi. Pencegahan ini juga mengarahkan  agar yang bersangkutan melaksanakan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari‐hari (healthy lifestyle).
Pencegahan kali ini sebagai bentuk penyadaran agar terlepas dari kecanduan dan terbebas dari zat-zat Narkoba. Untuk penyadaran akan kecanduan Narkoba perlu dukungan semua pihak, terutama keluarga. Pencegahan ini bisa dimulai dengan mengubah gaya hidup menjadi gaya hidup sehat, dari mulai kebiasaan minum dan merokok sampai ke pergaulan.
3.      Pencegahan Tertiary.
Pencegahan ini ditujukan bagi orang-orang yang telah menjadi pecandu Narkoba. Rehabilitasi merupakan cara untuk memulihkan ketergantungan, sehingga bisa kembali bersosialisasi dengan keluarga dan masyarakat.
Ada banyak tempat rehabilitasi, bahkan pemerintah menyediakan Instansi Penerima Wajib Lapor (IPWL) dan klinik gratis untuk layanan deteksi dini Narkoba.
Dari data pencegahan di atas, kita dapat memperhatikan faktor penyebab penyalahgunaan Narkoba. Ada tiga faktor yang menjadi penyebab terjadinya penyalahgunaan Narkoba. Upaya pencegahan dan penanggulangan pun harus melibatkan ketiga faktor tersebut agar berhasil. Ketiga faktor tersebut, yaitu:
1.      Narkoba
Faktor Narkoba berbicara tentang farmakologi zat, yaitu jenis, dosis, cara pakai, pengaruhnya pada tubuh, serta ketersediaan dan pengendalian peredarannya. Ada lima jenis Narkoba yang banyak dikonsumsi oleh pecandu di Indonesia, yaitu heroin, ganja, kokain, ekstasi, dan shabu.
2.      Individu
Individu merupakan faktor penting dalam pencegahan Narkoba. Seseorang harus bertanggung jawab atas perilakunya dan tidak boleh mempermasalahkan orang lain atau keadaan. Tanggung jawab adalah pengambilan keputusan, yang dilakukan atas pertimbangan mengenai apa yang baik dan buruk atau apa yang benar atau salah. Tanggung jawab masalah nilai, norma dan pedoman hidup.
Sumber masalah kecanduan adalah diri sendiri, yakni keyakinan adiktif, kepribadian adiktif dan pola piker adiktif. Seorang pecandu mengambil jalan pintas dan menghindar dari seseorang atau sesuatu hal yang mengharuskannya menghadapi perasaan dan persoalan. Ia berputar-putar dalam suatu lingkaran setan, untuk menghindari persoalan dengan membius diri sendiri. Lingkaran setan adiksi itu adalah pola pokor adiktif, suasana hati adiktif, dorongan adiktif dan perilaku adiktif.
Berhenti menggunakan Narkoba adalah awal dalam perjalanan pecandu dalam proses pemulihan, bukan akhir pemulihan. Ia harus keluar keluar dari lingkaran setan adiksi yang menyebabkannya berputar-putar. Ia harus memutus lingkaran setan adiksi: pertama-tama dengan berhenti memakai Narkoba, kemudian mengubah perilakunya secara mendasar. Ia harus mengubah gaya hidupnya.
3.      Lingkungan.
Penyalahgunaan Narkoba harus dipahami dari masalah perilaku yang kompleks, yang juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan berbicara tentang keluarga, kelompok sebaya, kehidupan sekolah dan masyarakat luas, media massa, dan penegakkan hukum setempat.
Di era internet sekarang ini peran Blogger sangat penting dalam penyampaian informasi yang tepat dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba berdasarkan standar internasional.

Kita perlu meningkatkan daya tangkal terhadap kecanduan Narkoba dengan mengembangkan rasa memiliki dan keakraban, rasa berarti dan berguna, kesempatan menikmati kesenangan dan mengembangkan kreativitas, perasaan kemandirian, mengembangkan potensi pribadi, vitalitas dan semangat hidup, kepastian akan masa depan, menerima dan menghargai diri sendiri serta orang lain, dan terampil menolak tawaran Narkoba.

Advertisements