Tags

Belum satu minggu kita memperingati Hari Kartini, hari lahirnya sosok perempuan inspiratif negeri tercinta Indonesia, kita dikejutkan dengan berita penangkapan dua ibu rumah tangga yang menjadi pengedar Narkoba.

Kamis, 24 April 2014, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengumumkan tentang ditangkapnya dua pengedar Narkoba oleh BNN. Dua kurir yang ditangkap BNN itu adalah ANC, 32 tahun, dengan membawa 3.603,32 gram sabu dan Jul, 30 tahun yang memiliki 4.067,1 gram heroin.

Tanggal 16 April 2014, ANC berhasil ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) di halaman parkir gerai Seven Eleven, Daan Mogot, Jakarta Barat. Pada hari yang sama, BNN juga menangkap Jul di Apartemen Sudirman Park, Jakarta Pusat.

ANC dan Jul adalah ibu rumah tangga. Mereka berkolaborasi dengan jaringan Narkoba Internasional. Dalam bisnis Narkoba ini, Jul merupakan koordinator pengedar. Saat ditangkap oleh BNN, Jul mengaku bahwa sabu yang dimilikinya atas perintah Benny untuk mengambil sabu dari seorang pria Pakistan dengan imbalan Rp2-3 juta.

Adapun ANC aktif menjadi kurir Narkoba sejak bulan Februari. Bermula dari perkenalannya dengan bandar narkoba bernama Benny, warga negara Nigeria, lewat situs jejaring sosial. BEN menawarkan uang sebesar 32 juta untuk menyewa sebuah rumah di kawasan Taman Surya Palem, Jakarta Barat. Tergiur dengan tawaran itu, ANC pun akhirnya dimanfaatkan oleh BEN untuk memuluskan usahanya mengedarkan narkoba. Sedangkan ketiga pria tersebut BEN alias HEN, Benny dan pria pakistan hingga kini masih dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). (sumber: Tempo.co dan Kompas.com)

Miris ketika membaca pemberitaan tersebut. Ibu rumah tangga yang semestinya berada di garda depan dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba, tetapi malah terjebak dengan jerat bisnis Narkoba internasional.

Kebutuhan ekonomi dan gaya hidup hedonis seringkali menjadi pemicu ketergodaan dalam melakukan bisnis haram ini. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan akan efek bahaya Narkoba bisa menjadi salah satu pengabaian dalam memilih bisnis Narkoba. Padahal berdasarkan hasil penelitian dari para ahli di laboratorium, khusus narkoba jenis heroin, per-satu gramnya dapat digunakan oleh 200 orang, sehingga bila dikalikan dengan jumlah heroin yang dibawa tersangka, berarti sekitar 4.000-an orang pengguna dipastikan akan menderita akibat dampak negatif heroin. Demikian jelas Inspektur Jenderal Polisi Deddy Fauzi Elhakim, Deputi Bidang Pemberantasan BNN.

Refleksi Kartini sebagai Ibu Rumah Tangga

Sudah waktunya perempuan-perempuan Indonesia, terutama para ibu mengetahui dan memahami informasi tentang Narkoba. Harga seorang Ibu bagi sebuah bangsa lebih penting dari profesi apa pun di muka bumi. Selain sebagai pembekalan diri dengan ilmu pengetahuan, ibu rumah tungga juga memiliki tugas sebagai orang pertama dalam mendidik putra putri mereka. Seorang ibu akan lebih mengetahui psikologi anaknya dalam penyampaian ilmu daripada orang lain.

Tidak berlebihan bila RA Kartini menjadi tokoh inspirasi perempuan menekankan pentingnya pendidikan. Perempuan yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879 dan wafat di Rembang, Jawa tengah pada tanggal 17 september 1904. Ia wafat pada usia 25 tahun, akibat komplikasi persalinan. Meskipun usianya terbilang pendek tetapi ia tetap hidup dalam ingatan ratusan juta manusia Indonesia bahkan dunia.

Dalam penggalan suratnya yang dikirimkan pada Prof. Anton dan istrinya, tanggal 4 Oktober 1902, menuliskan, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Jelaslah bahwa hal yang ditekankan dalam surat tersebut adalah pentingnya pendidikan bagi para perempuan, sebagai ibu yang bertugas menjadi pendidik pertama bagi anak-anak mereka.
Peran perempuan sebagai ibu rumah tangga merupakan tugas mulia. Ada banyak hal penting yang sering dianggap sepele, seperti dalam merawat anak. Ketika anak masih bayi lalu pipis, ibu mengganti popoknya, menimangnya agar diam dari tangis dengan kata-kata santun dan ramah. Tersenyum dan mengajak mereka tertawa. Hanya bayi yang memiliki rasa amanlah yang akan mampu mengembangkan kepribadian yang baik pada dirinya kelak hingga dewasa.

Hal demikian penting tetapi tak terpikirkan. Ketika ibu mengajak tersenyum, ibu telah membahagiakan mereka, berarti mengembangkan otaknya. Para ahli juga menyimpulkan, bahwa bayi yang tak pernah diajak berkomunikasi dan tersenyum akan mengalami keterbelakangan. Sungguh harga perkembangan otak manusia tak bisa dinilai dengan uang. Manfaatnya yang begitu vital bagi kehidupan manusia nyaris sama harganya dengan nyawa manusia itu sendiri.

Peran Ibu dalam Meningkatkan Ekonomi Sosial

Sungguh memprihatinkan tentang ibu rumah tangga yang menjadi kurir Narkoba. Pemberitaan ibu rumah tangga yang menjadi kurir Narkoba bukan kali ini saja, maka dibutuhkan sosialisasi wawasan pencegahan penyalahgunaan Narkoba kepada para ibu. Ibu rumah tangga sebagai pendidik pertama harus memiliki pengetahuan dan wawasan luas. Mengambil spirit RA Kartini, ada beberapa hal yang mesti ibu rumah tangga perhatikan, di antaranya, pertama, kaum ibu dapata meningkatkan nilai tambah pada peran sosialnya. Ibu mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai kondisi masyarakat dan lingkungannya.

Kedua, ibu mengolah informasi yang masuk menjadi bekal untuk meningkatkan cakrawala pengetahuan dan pemahaman terhadap beraneka permasalahan. Ketiga, mengkaryakan diri secara aktif bagi mereka yang memiliki kesempatan.

Selain berwawasan luas, pada dasarnya ibu rumah tangga mempunya potensi besar untuk mengelola bisnis rumahan, karena disela-sela waktu luangnya mengurus rumah dan keluarga, dapat menjalankan bisnis rumah yang bermanfaat.
Di era perkembangan teknologi sekarang ini, ada banyak peluang ibu rumah tangga dalam menjalankan bisnis di rumah. Sebaiknya, dalam menjalan bisnis ini sesuai  dengan hobi dan kemampuan yang dimiliki. Tetapi terkadang, bagi orang yang memiliki kemauan keras, dia dapat melakukan bisnis di rumah tanpa batasan tersebut.
Aktifitas yang seperti rutinitas, apabila dikembangkan dapat menjadi bisnis. Apalagi di zaman internet dan sosial media sekarang ini, pemasaran sudah bukan hal yang sulit. Ada beberap contoh kegiatan bisnis dari rumah tanpa mengganggu aktifitas sebagai ibu rumah tangga, di antaranya:
1. Memasak. Ibu dapat mengembangkan aktifitas memasaknya menjadi bisnis catering atau membuat kue-kue.
2. Menulis. Kegiatan menulis di sela rutinitas pekerjaan rumah tangga dapat dilakukan di blog atau menulis buku.
3. Belanja. Siapa bilang hobi belanja menghabiskan uang? Bagi ibu yang kreatif, hobi belanja dapat disalurkan dengan menjadi reseller baju, sepatu, kosmetik dan sebagainya. Ibu dapat melakukan bisnis rumahan dengan jual beli online.

Kini, sudah waktunyalah ibu rumah tangga dipandang sebagai profesi yang membutuhkan keahlian tinggi. Bukan hanya sekadar dalam retorika, tapi usaha ke arah itu pun seyogyanya kita galakkan. Ibu rumah tangga yang cerdas, berwawasan dan kreatif.

Tidak mudah teriming-iming atau tergoda dalam jeratan para Bandar Narkoba dan dapat menjadi orang pertama yang mendidik anak bangsa dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Semoga kita tidak melupakan spirit RA Kartini bagi para perempuan, bahwa perempuan itu harus berwawasan luas, karena perempuan adalah pendidik pertama anak-anak bangsa.

 

 

Advertisements