Tags

,

 

Senin, 21 April, kita memperingari Hari Kartini. Sosok inspiratif dalam menuangkan segala ide dan gagasannya dalam secarik kertas surat untuk dikabarkan kepada temannya di luar Nusantara. Catatan-catatannya menjadi inspirasi bagi perempuan penghuni bumi pertiwi.
Sekarang ini, negeri tercinta Indonesia sedang dilanda galau karena banyak tersiar kabar tentang banyaknya kurir Narkoba perempuan dan pengguna Narkoba perempuan. Bukan hanya itu, meningkatnya pemakai Narkoba dari tahun ke tahun menjadi hal yang turut memprihatikan.
Sebagai perempuan yang turut berperan dalam membentuk karakter bangsa, maka peran perempuan sebagai upaya pencegahan penyalahgunaan Narkoba sangat penting. Perempuan sebagai pribadi manusia seutuhnya di muka bumi dengan menjalankan takdir perjalanan hidup dengan keikhlasan. Segala rintangan dan problematika hidup dijalani dengan keikhlasan dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Keikhlasan ini akan menjadikan perempuan berani, kuat, tegar sekaligus sabar. Tidak ada yang dikhawatirkan dan ditakutkan dalam hidupnya, karena dia sudah memasrahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Perempuan yang menjalani hidupnya sesuai peran yang telah Tuhan gariskan. Dia tetap akan memilih untuk menjadi seorang yang bermanfaat, baik bagi dirinya, keluarganya maupun masyarakat di sekitarnya. Kartini menjabarkan segala ide, pikiran dan angannya untuk perempuan-perempuan di sekitarnya. Begitu pula dalam merespon lingkungan, baik keluarga maupun masyarakat, Kartini menuangkan kegelisahan dan keinginannya dalam surat-suratnya yang ia kirimkan kepada sahabat penanya.
Ada kebijakan dalam merespon segala problematika hidup. Kebijakan ini tentu lahirnya dari kesaradan. Sadar pada diri walau berada di dalam berbagai peran. Ketika kabar Narkoba yang banyak menyerbu negeri tercinta, tentu perempuan akan sadar itu untuk mengetahui informasi tentang Narkoba, baik dari jenis, efek, dan penanggulangannya sekaligus pencegahannya.
Dalam jenjang usia, perempuan sebagai ibu memiliki peran penting membantu pendidikan dan perkembangan anak. Sejak anak dalam kandungan, buaian, dan menapaki fase-fase perjalanan.
Ketika hamil, ibu sadar akan kesehatan diri berarti kesehatan bayi dalam kandungannya. Menurut American Pregnancy Association, penyalahgunaan narkoba dapat membuat lebih sulit bagi seorang wanita untuk hamil, namun lebih mudah mengalami keguguran atau bayi dengan cacat lahir. Sebaiknya ibu menghindari obat-obatan yang mengandung zat adiktif yang khawatir memengaruhi janin. Rajin konsultasi pada dokter kandungan akan membantu proses kelahiran.
Ketika sudah lahir, maka ibu akan memberikan ASI kepada bayinya sampai dua tahun. Ibu tetap harus menjaga kesehatan dan asupan makanan terhadap tubuhnya, karena dia menjadi sumber makanan bagi anak melalui ASI. Tidak lupa memeriksa kesehatan anak kepada dokter anak.
Ketika anak sudah masuk usia balita, maka ibu mulai menjaga asupan makanan anak. Jangan jajan sembarangan. Hal ini penting karena adanya permen yang telah diisi oleh zat Narkoba. Membuat makanan dan olahan masakan sendiri akan menjaga anak terhindar dari makanan yang tidak jelas kandungannya.
Memasuki usia sekolah, ibu sudah mulai memberi pengetahuan tentang Narkoba. Tentunya berbeda cara mengomunikasikan antara ke anak-anak dan orang dewasa. Awal yang harus diberi pengertian akan rokok dan efek bahayanya. Ibu juga harus mulai mengawasi anak, dari mulai pertemanan dan pergaulannya. Karena dari sinilah biasanya muncul ketertarikan atau sekedar coba-coba menghisap rokok atau Narkoba.
Memasuki usia remaja, ibu juga harus bisa berkomunikasi sebagai teman sekaligus pembimbing anak. Ibu sebagai teman anak akan memudahkan dalam berkomunikasi dan kdekatan di anatara keduanya. Sebagai teman, biasanya terjalin komunikasi yang dapat saling cerita atau curhat. Ketika anak mendapatkan masalah atau sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, ibu hendaknya dapat memberi bimbingan yang arif dan bijak kepada anak.
Ibu juga harus mengenal teman-teman anak. Ibu perlu tahu siapa saja teman anaknya; kemana mereka pergi, dan apa saja kegiatan mereka. Bila anak membawa teman ke rumah, bergabunglah dengan mereka. Tanyailah dimana mereka tinggal, apa saja kegiatan mereka pada waktu luang dan bagaimana kabar orangtua mereka. Pembiasaan-pembiasaan ini akan membuat anak ataupun teman-temannya menjadi akrab dengan orangtua dan menganggap orangtua sebagai bagian dari kelompok mereka. Dan tetaplah bangun sampai saat anak pulang pada waktu malam. Selanjutnya, menyampaikan harapan kita kepada anak-anak untuk mengikuti peraturan tersebut secara tegas tetapi dengan penuh rasa kepedulian.
Dengan cara seperti ini si anak akan merasa bahwa orangtuanya memperhatikan dan mengetahui semua kegiatan dan teman-temannya. Ini akan membuat si anak akan berpikir untuk melakukan kesalahan-kesalahan kepada orangtuanya.
Dalam mengawasi anak, ibu juga hendaknya bekerjasama dengan guru dan orangtua lain.  Orangtua juga perlu berkonsultasi dan bekerjasama dengan guru, khususnya guru bimbingan konseling (BK). Sebab berada di sekolah, gurulah yang menjadi pendidik, dan pengawas anak. Guru adalah sebagai pengganti orangtua di Sekolah. Dari pagi hingga siang anak dalam pengawasan guru di Sekolah. Guru akan mengetahui anak yang terlibat masalah dan membantu mereka untuk menyelesaikannya. Guru BK berperan untuk menjadi tempat curhat bagi anak/siswa yang mempunyai masalah, baik dirumah maupun di tempat lain, dengan begitu guru bisa mengetahui dan membantu si anak bisa menyelesaikan masalahnya.
Kerjasama yang baik antara orangtua dan guru didalam upaya penanggulangan masalah narkoba sangat diperlukan karena anak merupakan tanggungjawab orangtua dan gurunya. Untuk itu konsultasi secara berkala antara orangtua dan guru bermanfaat bagi pemantauan anak agar sedini mungkin dapat diketahui gejala-gejala awal manakala seorang anak terlibat penyalahgunaan narkoba.
Bila seorang anak dicurigai menyalahgunakan narkoba yaitu dari pemantauan perubahan perilaku dan prestasi belajar yang merosot dan absensi yang tinggi, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan guru dan bila diperlukan tes urine. Apabila positif, maka si anak harus segera diberi perawatan pengobatan.
Ibu memiliki peran dalam membangun karakter generasi muda penerus bangsa. Dalam hal pencegahan penyalahgunaan Narkoba, di antara peran ibu sebagai berikut:
1.      Memberikan bimbingan dan penyuluhan taat beragama serta patuh terhadap hukum.
2.      Melaksanakan bimbingan serta menyalurkan kegiatan anak pada kegiatan positif, seperti olahraga, kesenian dan lain-lain.
3.      Memberikan informasi tentang minuman keras, rokok dan Narkoba, baik jenis, efek bahaya, dan pencegahannya.
4.      Mengawasi anak dalam bersosialisasi, baik dengan keluarga, guru, teman sekolah maupun lingkungan sekitar.
Secara jelas, perempuan dalam setiap perannya memiliki kontribusi dalam perkembangan karakter bangsa, terutama generasi muda. Dengan demikian, jangan sampai perempuan malah terpengaruh atau terbujuk oleh rayuan pengedar Narkoba. Ada beberapa pengaruh buruk yang sangat signifikan apabila perempuan menggunakan Narkoba, yaitu:
1.    Mempengaruhi karir kerja.
2.    Hubungan dengan keluarga.
3.  Mempengaruhi kesehatan tubuh, seperti terganggunya siklus menstruasi,  menopause dini dan sirosis.
4.    Depresi.
Terinspirasi dari Kartini, sosok cerdas yang menuangkan segala idenya dalam surat pena, maka catatan ringan ini semoga menjadi naasihat pada diri penulis sendiri dan beranfaat bagi banyak orang. Semoga kita dapat mewujudkan Indonesia bebas Narkoba di tahun 2015.

 

Advertisements