Tags

Kemarin, 21 April, kita memperingati Hari Kartini. Sosok pejuang perempuan yang sadar akan keadaan perempuan-perempuan di sekitarnya. Catatan-catatannya menjadi barisan yang menjadikannya sosok penuh inspirasi. Namun, di era digital sekarang ini, kita mendapatkan berbagai berita di media massa ataupun elektronik yang memberitakan tentang tertangkapnya kurir perempuan yang membawa Narkoba. Tak terbayangkan bila perempuan-perempuan ini adalah kurir Narkoba. Jerat bisnis Narkoba, menjadikan mereka mendapatkan hukuman berat dalam penjara. Kenapa bisa demikian?

Sebagai cermin, dengan berdasarkan berbagai sumber, di sini akan dipaparkan beberapa perempuan yang menjadi kurir Narkoba. Merri Utami (Mut) adalah seorang WNI  yang terpikat dengan seorang pria berinisial J. Mereka berkenalan di salah satu mal di Jakarta. Pertemanan tersebut berlanjut pada hubungan asmara. Dengan iming-iming akan dinikahi dan dibiayai hidup Rp1 juta setiap minggu, Mut bersedia ikut J ke Nepal untuk jalan-jalan. Namun, Mut malah ditinggal di Nepal dengan teman pacarnya, sedangkan J pulang lebih dulu ke Indonesia beralasan karena ada urusan bisnis.

Di Nepal, teman J menitip tas kepada Mut. Tas baru yang mereka bilang bahannya dari kulit sehingga terasa berat ketika dibawanya. Setiba di bandara Soekarno-Hatta, Mut malah langsung diciduk oleh petugas Kantor Pelayanan Bea Cukai (KPBC) karena dalam tasnya terdapat 1.1 kilogram heroin. Saat itu Mut baru sadar bahwa ia telah diperalat dan ditipu oleh pacara untuk membawa heroin.

Ada juga Edith Yunita Sianturi (EYS) berusia 26 tahun, ia bernasib sama dengan Merri Utami. Seorang laki-laki asing berinisial W yang mengaku memiliki toko di Tanah Abang, Jakarta Pusat mendekati EYS, lalu mereka pacaran. Suatu hari W mengajak EYS jalan-jalan selama seminggu di Bangkok. Namun, EYS diam saja di hotel dan tiketnya pun ditahan B. Sebelum pulang ke Indonesia, B memberikan tas baru  untuk EYS sebagai contoh buat toko W di Jakarta. Namun ternyata, di dalam tasnya terdapat a heroin 1 kilogram, EYS pun akhirnya diamankan oleh petugas.

Perempuan lain yang menjadi kurir Narkoba adalah Meirika Pranola (Prn) alias Ola. Perempuan yang sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tak bisa menolak ketika disuruh oleh suaminya membawa heroin. Prn tertangkap ketika akan menyelundupkan 6,5 kilogram heroin dan kokain ke London. Ia menyimpan benda haram itu di rumah kontrakannya di Bogor. Walaupun tertekan, Prn malah merekrut sepupunya, Rani Andriani (Rni) alias Melisa Aprilia. Awalnya, Rni menolak, tapi akhirnya ia menerima juga pekerjaan berisiko tinggi. Rni takut Prn dipukuli oleh suaminya. Rni tertangkap ketika akan menyelundupkan 3,5 kilogram heroin di bandara Soekarno-Hatta.

Bukan hanya warga negara Indoneia, nasib tragis juga dialami oleh warga negara asing, di anataranya Nonthanam M. Saichon  (NMS). Gadis Thailand yang berusia 22 tahun ini menerima pekerjaan berat sebagai kurir Narkoba, tanpa mengetahui resikonya. Bandar memberinya $1.200 US, dengan syarat gadis ini menggunakan pakaian dalam berisi bubuk putih sebelum berangkat ke Jakarta dan jangan bertanya barang dan alasan penyimpanannya di sana.

Dengan dibekali tiket Bangkok-Jakarta pp plus uang tunai $200, NMS menuju Jakarta dan tertangkap di Bandara Soekarno-Hatta karena menyembunyikan 600 gram heroin di bagian pinggang, di balik BH, di paha, di perut yang dibalut dengan korset, dan di selangkangan.

Kisah berikutnya masih warga Thailand yang bernama Bunyong Khaosa Aral (BKA). Berbeda dengan sebelumnya, BKA yang berusia 43 tahun ini sudah tahu bahwa perbuatannya menyelundupkan Narkoba masuk pada tindakan criminal. Namun karena dorongan kebutuhan ekonomi untuk membiayai anaknya, hanya dengan imbalan uang AS$500, BKA menelan 45 kapsul seberat 400 gram dalam perutnya. Aksi nekad dalam dalam penyelundupan Narkoba. Namun demikian, janda beranak dua yang terlihat gelisah dan mencurigakan ini mudah diketahui oleh petugas di bandara bahwa ia membawa Narkoba.

Kisah-kisah di atas menjadi cermin atas tindakan mereka sebagai kurir Narkoba. Mereka tidak mengetahui tentang efek bahayanya penyalahgunaan Narkoba. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar, menyoroti banyaknya perempuan yang menjadi kurir narkoba dari dalam negeri ataupun luar negeri karena kelemahan perempuan yang mudah terbujuk rayu. Pola hidup perempuan yang konsumtif memicu dorongan untuk melakukan tindak pidana, terutama tergabung dalam sindikat narkoba. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan ini sangat penting untuk mencegah  pemanfaataan perempuan sebagai kurir Narkoba. Demikian tutur beliau dalam acara Pergelaran Seni Budaya Antipenyalahgunaan Narkoba di Jakarta, Selasa, 24 Maret 2014.

Keterbatasan informasi, minimnya akses, dan stereotype perempuan sebagai yang lemah lembut membuka peluang perempuan untuk terlibat lebih jauh dalam pasar narkoba. Rendahnya pengetahuan terkait narkoba dan hukum menjadikan mereka sebagai elemen tak berdaya dalam mata rantai jaringan pengedaran narkotika. Akibatnya, perempuan sering dijadikan salah satu mata rantai dalam jaringan pengedaran narkoba, karena adanya pandangan produsen yang melihat perempuan tidak akan dicurigai ketika membawa barang-barang ilegal.

Dari kasus-kasus di atas terlihat jelas bahwa modus perekrutan kurir Narkoba:

  1. Berkenalan.
  2. Pacaran.
  3. Menikah.
  4. Merayu dengan materi atau uang.
  5. Diajak jalan-jalan.
  6. Memberi uang atau imbalan pekerjaan.

Tidak hanya itu, para kurir perempuan ini memiliki latar belakang sebagai berikut:

  1. Mudah dirayu.
  2. Lemah secara pisik.
  3. Tidak tahu tentang Narkoba.
  4. Kebutuhan ekonomi.
  5. Gaya hidup konsumtif.

Fenomena perdagangan perempuan terlihat dalam kisah tragis para perempuan yang berpeluang menjadi terpidana mati itu. Tampaknya, perempuan yang menjadi terpidana kasus narkotika itu diumpankan sebagai perisai. Salah satu strategi jebakan adalah mendekati perempuan-permpuan muda, yang kemudian bergantung secara finansial. Sebagai kompensasi diajak jalan-jalan ke luar negeri, perempuan itu dikirim sebagai pembawa narkotika. Lalu, perempuan itu membawa narkotika dengan barang khas perempuan, disempunyikan di balik BH, atau malah ditelan dalam perut.

Kemiskinan, ketidaktahuan, hubungan kekuasaan yang timpang antara perempuan serta laki-laki, budaya dan lainnya, merupakan faktor yang ditengarai menyebabkan perempuan terperangkap dalam jaringan peredaran narkotika. Perempuan yang dijadikan sebagai salah satu mata rantai jaringan pengedaran narkotika –kurir-, kadang-kadang dipandang sebagai kriminal bukan sebagai korban. Padahal apa yang dilakukannya bukan karena pilihan sendiri, tetapi lebih disebabkan ditipu atau dieksploitasi.

Hal yang patut menjadi perhatian adalah modus operandi penggunaan perempuan dalam jaringan Narkoba internasional. Perempuan mulai direkrut sebagai pembawa Narkoba karena adanya stereotipe di masyarakat bahwa terkait dengan seksualitasnya, perempuan cenderung tidak dicurigai ketika membawa barang-barang illegal.

Dengan demikian, sangat penting adanya kampanye pencegahan penyalahgunaan Narkoba pada para perempuan, terutama perempuan muda agar tidak mudah terjebak dalam jaringan Narkoba. Kalau melihat dari kasus-kasus kurir Narkoba di atas, perempuan yang tertangkap itu justru korban dan menjadi bagian dari mata rantai mafia Narkoba internasional.

Sosialisasi bahaya penyalahgunaan Narkoba diharapkan dapat memberi kesadaran perempuan untuk tidak mudah begitu saja percaya kepada orang yang baru dikenalnya atau terbujuk dengan asmara dan materi.
Semoga Kartini menjadi titik terang yang memberi pencerahan akan pentingnya pengetahuan atau informasi pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Para pengedar Narkoba akan melakukan segala cara untuk melancarkan usahanya. Dan kita, sebagai perempuan selain belajar dan mencari pengetahuan serta informasi, kita juga harus sadar atas hal yang kita lakukan. Semangat, Indonesia Anti Narkoba itu bisa.
Advertisements