Tags

, , ,

Pengguna Narkoba Lebih Baik Direhabilitasi daripada di Penjara. Tahun 2014 sebagai Tahun Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba. Demikian tulisan spanduk yang saya baca ketika memasuki gedung Smesco, Jl. Gatot Subroto, Pancoran, Jakarta Selatan. Di lantai dasar ini kita langsung disambut spanduk peringatan penyalahgunaan Narkoba.

 

Hidup Sehat tanpa Narkoba Bersama Kita Selamatkan Pengguna Narkoba. Narkoba lebih baik Direhabilitasi daripada di Penjara. Demikian spanduk yang tertera ketika saya naik ke lantai dua. Ada juga spanduk yang bergambar dengan tetap menyampaikan pesan, “Masa Depan Gemilang, Tanpa Narkoba.”

Pergelaran Seni Budaya Anti Penyalahgunaan Narkoba di Gedung Smesco, dengan dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Sari Gumelar. Sebuah even yang digelar dalam rangka tahun penyelamatan anti penyalahgunaan Narkoba ini mengambil tema, “Bersama Kita Selamatkan Pengguna Narkoba.”
Acara Pergelaran Seni Budaya dan Forum Komunikasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba iniatas inisiatif dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Kementrian Pemberdayaan Perempuan serta Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB).

Kemeriahan acara sudah terasa ketika memasuki pintu masuk gedung Smesco. Banyak ibu, mahasiswa dan pelajar Indonesia yang turut menyaksikan perhelatan. Acara ini didokumentasikan oleh para awak media, serta disiarkan langsung oleh TVRI. Saya bersama Blogger Reporter Indonesia (BRid) turut menyaksikan dan mendokumentasinya dengan tulisan dalam blog kami.

Waktu acara berlangsung dari pukul 09.00 – 12.00 wib dengan diawali menyanyikan lagu kebangsaan Republik Indonesia, Indonesia Raya. Dengan khidmat dan khusu semua menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara pun berlanjut pada sambutan oleh perwakilan SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu) dan kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional, Komjen Pol Drs. Anang Iskandar.

Ada tiga simpulan yang saya catat tentang penyalahgunaan Narkoba dari sambutan Pak Anang Iskandar, , yaitu pertama, pemahaman tentang penyalahgunaan Narkoba. Para pengguna Narkoba itu selain telah melakukan tindakan illegal, sebenarnya mereka telah malanggar hak hidup mereka karena para pengguna Narkoba memiliki resiko hidup. Secara fisik dan mental, mereka terganggu. Selain itu, dapatmengakibatkan putus sekolah, kecelakaan, bermasalah dengan orang lain, dan sebagainya. Oleh karena itu, hindari Narkoba.

Kedua, penyelamatan pengguna Narkoba merupakan membangun kembali masyarakat yang terkena Narkoba. Oleh karena itu, para pengguna Narkoba perlu direhabilitasi. Jangan menganggap pengguna Narkoba itu keren, sebab pada dasarnya pengguna Narkoba itu sakit, mereka sedang mengidap penyakit dan mendatangkan penyakit. Sudah saatnya membuang anggapan bahwa menggunakan Narkoba sebagai bagian gaya hidup, segeralah ke rehabilitasi. Maka, jauhi Narkoba.

Ketiga, ketika pengguna Narkoba tertangkap polisi, maka hal yang paling bagus adalah merehabilitasinya, bukan memenjarakan mereka, segera menghubungi Instansi Penerima Wajib Lapor (IPWL).  Dengan demikian, berhati-hatilah dengan rayuan Narkoba.

Selepas sambutan, rangkaian acara pun berlanjut pada dialog interaktif dengan narasumber Bapak Komisaris Jendral Polisi Anang Iskandar selaku Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Ibu Linda Sari Gumelar selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bapak Basuki Yusuf Iskandar selaku Kepala badan Peneliti  SDM Kementrian Kominfo dengan dipandu oleh Anya Dwinove.

Dalam diskusi ini, para narasumber memaparkan bahayanya penyalahgunaan Narkoba dan pentingnya merehabilitasi para pengguna Narkoba. Pengguna Narkoba di Indonesia itu ada 4 juta. Demikian kata Pak Anang Iskandar. Solusi terbaik mereka adalah dengan merehabilitasinya. Oleh karena itu, tahun ini BNN mendorong penegak hukum, kalau ada pengguna Narkoba yang tertangkap, maka didorong untuk merehabilitasinya. Jelas Pak Anang Iskandar.

Untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba, maka mulai dari keluarga. Ketika seorang anak menggunakana Narkoba, Ibu Linda Sari Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menjelaskan bahwa kunci kepribadian seorang anak itu di keluarga. Komunikasi dimulai sejak dini, dari seorang ibu dan ayah, sehingga ketika anak berada di lingkungan masyarakat, mereka kuat. Tidak hanya itu, Bu Linda juga menekankan bahwa dalam menyikapi penyalahgunaan Narkoba di masyarakat yang terpenting adalah dengan pencegahan dan rehabilitasi para pengguna Narkoba.

Ketika banyak perempuan yang dimanfaatkan menjadi kurir, Ibu Linda memaparkan bahwa untuk mencegah hal tersebut dengan pemberdayaan perempuan dan pemberian informasi bahaya Narkoba. Perempuan yang menjadi kurir itu karena tidak ada pemahaman akan bahaya Narkoba dan ingin cepat kaya. Perempuan harus tahu hal-hal yang ada di lingkungannya, dan jangan mau dimanipulasi.

Di era globalisasi sekarang ini, pengedaran Narkoba semakin luas dan memiliki banyak media, salah satunya adalah dengan menggunakan internet. Bapak Basuki Yusuf Iskandar, Kepala Badan Peneliti  SDM Kementrian Kominfo, memaparkan bahwa penggunaan internet lebih banyak digunakan oleh generasi muda sekarang. Karena internet itu murah, mudah diakses, dapat menyamarkan identitas, dan transaksi pun dapat dilakukan dengan tersebunyi. Saat ini, Kominfo hanya dapat membantu controlling content, sehingga jika ada content website yang dicuriga sebagai perdagangan Narkoba, maka Kominfo pun akan memblokir website tersebut.

Dialog semakin seru dengan banyaknya tanggapan pertanyaan dari para pelajar dan peserta lainnya. Banyaknya peserta yang bertanya, menunjukkan kesadaran dan antusiasme mereka akan bahaya penyalahgunaan Narkoba. Semoga para peserta yang hadir, panitianya menyebutnya ada 2500 peserta, menjadi agen sosialisasi bahaya penyalahgunaan Narkoba, setidaknya mereka sendiri tahu akan bahaya Narkoba dan menghindarinya.

Acara semakin menarik dengan tampilnya Teater Indonesia. Mereka menjabarkan pentingnya memelihara lingkungan dan menjauhi bahaya Narkoba dengan cantik.

Advertisements