Transaksi jual beli pada dasarnya menekankan pada kejujuran dan kepercayaan. Ketika suatu transaksi sudah dikhianati, maka runtuhlah sikap saling mempercayai dalam proses jual beli.

Kemarin, saya menukar handphone dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari sebelumnya. Sebelumnya saya sudah browsing dan mencari hape yang pas dan cocok dengan keuangan saya yang terbatas.

Di salah satu situs tersebut disebutkan tempat jualnya. Karena merasa cukup dekat tempatnya, saya pun memilih datang ke mall tersebut.

Karena waktu sudah sore dan mall itu luas, maka saya iseng bertanya ke salah satu toko handphone M*******m, adalah hape yang saya inginkan. Si penjual pun bilang ada dan menunjukkan barangnya, dengan dus yang terbuka. Terjadilah tawar menawar, dan penjual setuju dengan harga tawaran saya.

Dia pun meminta simcard hape saya, melihat kartu yang dimasukkan pada hape yang dipajang tersebut saya protes karena hapenya bukan dari dus yang bersegel. Dia pun pergi ke toko lain untuk mengambil hape baru. Ketika dia datang, lagi-lagi dus sudah dalam keadaan terbuka. Tapi sebelum saya bicara, penjual bilang bahwa dus dibuka karena untuk memeriksa barangnya. Walau dus sudah terbuka, saya mempercayainya karena melihat hapenya yang dibungkus plastik.

Penjual memasukkan kartu memori dan kartu telepon saya ke hape tersebut. Dia lalu menyuruh saya mencoba hapenya. Saya lalu tes untuk memoto, dan hasilnya ada garis-garis hijau. Saya pun protes karena hasilnya bergaris. Si Mbak penjual pun mengambil hape tersebut dan dia bilang bahwa itu settingan dari kameranya.

Lagi, saya percaya begitu saja ucapan si penjual. Dan tidak memeriksa kontak no hape, email, data hape yang ada di pengaturan. Saya langsung aja membayarnya, dan percaya begitu saja pada si penjual.

Ketika sampai kosan, saya heran dengan kontak nama Rian Setiawan, padahal saya tidak mengenalnya. Dan dalam kontak memori pun yang ada nama dia, berada pada posisi dia yang punya hape.

Selanjutnya, saat mau buka email, di situ sudah ada alamat email lain. Ketika saya memasukkan email saya, tidak bisa. Setelah otak-atik akhirnya saya memilih factory data reset hape. Dan benar saja, ketika diinstal ulang, nama yang tercantum di kontak tidak ada. Alamat email pun dalam keadaan kosong. Factory data reset adalah untuk megembalikan hape ke posisi seperti keluar dari pabriknya.

Dari pengalaman di atas, ada beberapa hal yang harus sadari oleh pembeli, yaitu:
1. Membeli dengan sadar, sehingga keganjilan-keganjilan yang samar saat transaksi jual beli tersadari.
2. Fokus pada tempat dan barang yang akan dibeli, sehingga terhindar dari godaan penjual yang terkadang menawarkan barang lama dan bekas dengan disulap menjadi baru.
3. Teliti sebelum membeli.

Semoga ini pengalaman terakhir saya, dan semoga teman-teman tidak mengalaminya.

Advertisements