Setengah hati bukan berarti hatinya sepotong, tetapi setengah hati bisa dikatakan dengan ragu.

Kenapa kali ini menulis tentang setengah hati? Saya tidak tahu, hanya saja kadang saya berada dalam keadaan setengah hati dan ragu. Padahal, dalam melakukan sesuatu itu lebih baik sepenuh hati dan yakin.

Ketika keraguan muncul, apa yang harus kita lakukan. Kalau saya, biasanya diam dan membatalkannya. Karena keraguan ini seringkali malah berakhir dengan kegagalan.

Meraba diri kita ragu atau yakin, maka kembali melihat pada jiwa atau batin kita sendiri. Karena di sinilah kita akan mengetahuinya.

Lalu, bagaimana caranya? Nah, ini saya juga belum tahu. Tapi, saya titip beberapa bait berikut ini:

Ketika sebuah pemikiran muncul
Bersusul dengan pikiran-pikiran pendukung
Baik dan buruk menghantu
Bolak-balik dalam relung seru
Inikah kalbu
Bukan, karena yakin dan ragu terus melaju
Menelusuri sel-sel waktu dalam raga yang terus membiru
Setengah hati berada untuk masa depan yang seru
Tetapi terkungkung dalam masa lalu
Ragu…
Itu aku atau debu
Setengah waktu terpupus dalam bilur-bilur ragu
Pilu
Maju
Kini, ada debu
deru
sapu
syahdu

Advertisements