Awalnya saya biasa aja, walau beberapa teman bilang bahwa hijab yang sekarang sedang fenomena itu sudah tidak syar’i. Kok bisa mereka bilang begitu?

Alasannya karena istilah hijab yang ngetrend sekarang banyak yang tidak menutup dada, padahal menutup dada itu satu paket dengan menutup kepala. Ini merujuk pada QS. An-Nur ayat 21.

Ini menjadi kegalauan tersendiri, bila hijab itu suatu trendcenter dalam berjilbab, maka tidak berlebihan bila hijab itu dianggap merk, brend, seperti Rabbani atau Shafira.

Mendengar pendapat tersebut, saya cuma manggut-manggut, membiarkan pendapatnya. Karena mengenai memakai jilbab sendiri ada ada yang mewajibkannya dan ada yang tidak. Maka, mengenai fenomena hijab sekarang ini saya tidak begitu menghiraukannya. Karena kalau sejak awal menutup kepala itu sudah dicap tidak syar’i, khawatir malah mereka tidak mau berkerudung. Walau awalnya hanya mengikuti trend, siapa tahu nantinya berjilbab seperti yang teman saya sebutkan. Wallahu’alam.

Namun, malam ini saya tergelitik dengan seseorang yang berpendapat bahwa ketika hijab yang model lama (model lama ini banyak yang menutup dada, ini pendapat saya) itu dijauhi dan orang-orang enggan berteman dengannya, tidak lincah dan banyak yang jomblo.

Mendengar perkataan tersebut ingin sekali saya membantahnya, namun sayang orang tersebut dalam posisi pemberi sambutan. Jadi tidak ada diskusi.

Kembali saya teringat dengan pendapat teman di atas. Iya, saya pun berpikir apakah hijab itu sebuah merk dagang sampai untuk mengangkatnya ada orang yang berpendapat tentang jilbab demikian. Ini seperti iklan yang tidak fair, mengangkat satu merk dan menjatuhkan yang lain.

Miris. Bila memang benar berjilbab sudah seperti ini. Saya yang awalnya membiarkan trend hijab dan mengikuti fenomena ini menjadi berpikir kembali tentang apa itu hijab dan jilbab. Wallahu’alam bishshawab.

Advertisements