Langit senja tak nampak oleh terangnya sang surya. Walau jam sudah menunjukkan pukul 5, tapi terang masih seperti tengah siang. Seharusnya bulan ini sudah masuk penghujan, tapi hujan enggan menyapa negeri tercinta.
Bunyi hape terdengar nyaring mengagetkan Raisa yang sedang melamun.
“Siapa?” Gumam Raisa sambil mengambil hape dari dalam tasnya. “Hah Awan, ada apa ya, tumben.”
“Hallo,” sapa Raisa.
“Hallo… apa kabar Mbak?”
“Baik, Pak.”
“Masih kerja di penerbitan?”
“Iya.”
Hening sejenak.
“Mbak, sudah ada calon suami?”
“Belum, kenapa gitu Pak?”
“Alhamdulillah.”
“Kok?” Tanya Raisa bingung.
“Saya ingin bicara dengan Mbak, besok Mbak ada waktu?”
“Besok kan saya kerja.”
“Pulang kerja Mbak, kita ketemuan, terserah Mbak maunya dimana?”
“Baik Pak, di mall aja ya?”
“Oke, sampai ketemu besok,” kata Awan menutup pembicaraan. Hati Raisa berdebar kencang.
“Ah, kenapa tadi nggak nanya maksudnya apa?” Gerutu Raisa kesal.

Waktu yang dilalui Raisa serasa lama, saat pertemuan pun tiba.
Setelah sms-an waktu dan tempatnya, Raisa bertemu juga.
Setelah tegur sapa, Raisa duduk. Dia menatap Awan yang sepertinya tidak ada perubahan masih seperti dulu.
“Katanya kurus, tp kayaknya nggak ada perubahan.” Kata Awan sambil tersenyum.
Raisa hanya tersenyum simpul sambil mengaduk minumannya.
“Aku akan melamarmu.”
Glek. Uhuk…uhuk… Raisa yang sedang minum langsung tersedak.
“Kenapa?” Replek Awan mengambil tisu dan memegang tangan Raisa.
“Istri Bapak bagaimana? Bukannya Bapak nggak ada niat nikah lagi sama siapa pun, termasuk saya?” Tanya Raisa setelah diam beberapa saat.
“Kami bercerai.”
“Maksudnya?”
“Iya, kami bercerai baik-baik, setahun yang lalu,” Awan meminum minumannya. “Sekarang dia sudah bersuami,” lanjutnya sambil tersenyum.
Hening sesaat dalam keramaian mall.
“Kenapa Bapak bercerai?”
“Perbedaan yang terlalu tajam, dan tidak bisa diteruskan lagi.”
“Kenapa Bapak memilih saya? Apa karena dulu saya menawarkan diri?”
“Iya. Dan saya harus bertanggung jawab atas apa yang dulu saya lakukan kepada Mbak. Dulu saya nggak bisa dan nggak berani.” tatap Awan lembut.
“Dulu, saya berpikir harus menikah dengan Bapak. Tapi sekarang entahlah, setelah perlakuan Bapak, saya akan pikirkan dulu.”
“Mbak, saya minta maaf.”
Raisa terdiam.
Bunyi hape terdengar nyaring. Raisa bergegas mengambil telepon.
“Halo …”
“Halo Rai, Sabtu pulang ya ke rumah. Ka Luki mau melamar Rai. Akhirnya…selamat ya Rai.” Terdengar suara di seberang telepon bersemangat.
“Apa Ka?”
“Ka Luki mau datang melamar minggu depan. Papa dan Mama dah tau semua. Hih…Dinda seneng banget, akhirnya Dinda nggak sia-sia berusaha sekuat tenaga menjodohkan kalian hehehe…”
“Iya Ka. Tapi kok Ka Luki nggak bilang sama Rai.”
“Yaaa…tau sendiri kan kalau Ka Luki itu pendiam. Dia tadi ngomongnya sama Ka Gani.”
“Oh…”
“Selamat ya… Asyiiiiik akhirnya Dinda bikin kebaya hehehe.”
“Alah si Kaka mah ada-ada aja.”
“Udah dulu ya Rai, si dede nangis.”
Raisa menyimpan hape. Awan yang duduk di depan Raisa hanya menatapnya selama mendapat telepon.
“Siapa Mbak?”
“Kaka sepupu.”
“Kerja di tempat sekarang gimana? Nyaman?” Awan seakan ingin mengalihkan pembicaraan.
“Iya, alhamdulillah.”
Raisa melirik jam tangannya.
“Kenapa, mau pulang.”
“Iya Pak, sudah malam.”
“Aku antar ya. Kan udah malam.”
“Nggak usah Pak.”
“Nggak apa-apa, sekalian pulang juga.”
Raisa pun mengikuti Awan.

“Mbak, aku kangen.” Awan mencium tangan Raisa.
Raisa menarik tangannya pelan.
“Maafkan aku Mbak. Dulu, aku melakukan itu demi kebaikan kita bersama. Aku selalu ingat Mbak, bahkan selalu terngiang-ngiang tangisan Mbak yang kadang terbawa mimpi.”
Raisa hanya menatap jalanan yang macet. “Maafkan aku Mbak. Aku ingin Mbak bahagia, walau awalnya kita sama-sama sakit. Tapi itu yang terbaik buat kita, terutama buat Mbak.”
Raisa hanya diam.
“Saudara Mbak yang di Jakarta alamatnya dimana?”
“Di Jakarta Barat.”
“Kalau dari Pasar Tanah Abang dekat?”
“Iya.” Raisa menjelaskan alamat rumah saudaranya.
Hening dalam mobil mengantarkan keduanya ke kosan Raisa.

Sabtu sore Raisa sudah ada di rumah saudaranya. Dia baru pulang kuliah.
“Assalamu’alaikum,” terdengar suara yang salam di luar rumah.
“Wa’alaikumussalam,” terdengar suara saudara Raisa menjawab.
Raisa yang sedang naik ke lantai dua tidak menghiraukan lagi perbincangan saudara dan tamunya. Ia langsung masuk kamar.
“Raaaai…ada tamu.” Teriak saudaranya.
“Tamu? Siapa ya?” Gumam Raisa bingung. Ia segera keluar kamar dan turun ke lantai bawah.
“Rai, ada tamu, kenal nggak? Pamanmu lagi di kamar mandi.” Kata bibinya.
Raisa hanya mengangkat bahu tanda nggak tahu. Dia berjalan ke ruang tamu. Dia kaget begitu melihat Awan dan dua orang laki-laki yang lebih tua dari Awan.
“Bapak?” Tanya Raisa kaget.
“Iya. Saya ingin bertemu pamanmu. Kenalkan, ini kakak-kakak saya.” Raisa bersalaman dengan mereka.
“Paman lagi di kamar mandi.” Kata Raisa sambil agak kebingungan.
“Iya, pamannya Rai lagi di kamar mandi,” kata Bibi yang datang menemui mereka.
Raisa pamit ke belakang.
“Bapak, temen Raisa dimana?” Terdengar pertanyaan Bibi yang mulai menginvestigasi tamunya.
Raisa tidak memikirkan apa-apa, ia hanya menuangkan air sirup dan menyediakan makanan yang kebetulan sudah ada untuk jamuan tamu besok.
“Siapa Rai?” Tanya Paman dari kamar yang sudah berpakaian rapi.
“Teman Rai…”
“Mau apa?”
“Nggak tau.”
“Ya udah, paman ke depan aja dulu.”
Raisa hanya mengangguk setuju.
Ketika Raisa ke depan, pembicaraan Awan dan pamannya sedang menghangat dalam perkenalan.
“Jadi, maksud kedatangan kami ke sini ingin melamar Neng Raisa buat adik kami, Awan.”
Paman dan Bibi saling berpandangan.
“Kami sebagai wakil orang tua tentu saja sngat senang dengan niat baik Bapak. Tetapi, kami tidak bisa mengambil keputusan, karena yang berhak memutuskannya adalah Raisa.” Kata paman. “Bagaimana Raisa?”
Raisa hanya diam, tidak menjawab apa-apa.
Paman dan Bibi mulai terlihat gelisah.
“Bapak, Ibu, saya berjanji akan menyayangi Raisa seumur hidup saya.” Kata Awan penuh harap. Raisa hanya diam.
“Bagaimana Raisa?” Tanya Paman.
Raisa mengangguk pelan.
“Alhamdulillah,” terdengar serempak suara dari Awan dan keluarganya.
Paman dan Bibi Raisa hanya bengong, namun dengan cepat paman sadar. “Alhamdulillah Raisa telah bersedia menerima pinangan De Awan. Tetapi, tentunya ini hanya awal karena De Awan dan keluarga harus melamar langsung ke orang tua Raisa yang ada di kampung.”
Perbincangan paman bibi Raisa dan keluarga Awan dalam acara lamaran nanti sangat seru. Terdengar sms bunyi dari sakunya. Raisa membukanya.
“Makasih sayang. Aku akan selalu mencintaimu. Love you, Awan.”

Advertisements