Tags

,

Menuju Komunitas ASEAN 2015 menjadi harapan sekaligus tantangan bagi warga Indonesia. Sebagai anggota ASEAN, mau tidak mau seluruh warga Indonesia harus menghadapi Komunitas ASEAN 2015. Mengapa ada Komunitas ASEAN? Dalam era globalisasi saat ini, kerja sama dan sinergi negara ASEAN harus lebih ditingkatkan. Agar hubungan antar negara ASEAN lebih akrab, komunitas menjadi wadah alternatif dalam bekerja sama dengan memiliki tujuan yang sama. Ada tiga pilar penting yang dikukuhkan oleh Komunitas ASEAN, yaitu komunitas politik dan keamanan ASEAN, komunitas ekonomi ASEAN, dan komunitas sosial dan budaya ASEAN.

Ketiga pilar ini saling bersinergi satu dengan lainnya dalam Komunitas ASEAN. Dalam satu wilayah bertetangga, tentu tidak akan lepas dari perselisihan. Namun demikian, perselisihan ini hendaknya seperti sendok dan garfu, persentuhan yang memiliki tujuan yang sama dan saling bekerja sama. Dan ini malah semakin mengakrabkan negara-negara Komunitas ASEAN.

Lalu, apa peran blogger dalam mensosialisasikan Komunitas ASEAN 2015? Menyimak ketiga pilar yang diusung oleh Komunitas ASEAN 2015, di sini kita akan melongok kembali ke keadaan negara kita tercinta, Indonesia. Pertama, politik dan keamanan. Sudahkah politik kita stabil dan negara kita aman? Kita dapat melihat dari berita-berita media massa tentang fenomena yang terjadi pada politik dan keamanan negara kita. Bila saya melihat dalam hal politik, negara kita cukup stabil walau banyak gonjang ganjingnya apalagi menjelang Pemilu 2014. Membangun politik yang stabil dan keadaan yang aman, ini dibutuhkan kerja sama antara rakyat dan pemerintah.

Pemerintahan yang tegas, adil, jujur, dan amanah itu yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Maka, ketika ada sempalan-sempalan pemberontakan atau terorisme, pemerintah langsung bertindak. Begitu pula dengan warga negara Indonesia, dalam proses menjalankan kewarganegaraannya hendaklah berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.

Apabila keadaan negara kita stabil dan aman, maka tidak akan ada pencaplokan wilayah. Pihak luar akan berpikir dua kali dalam memasuki wilayah Indonesia. Begitu pula dengan penduduk yang wilayahnya dicaplok oleh negara lain, mereka akan menolak dan melakukan perlawanan sebagai wujud nasionalisme.

Para politisi bijak masih banyak di Indonesia, Jiwa-jiwa patriotisme masih bertebaran di wilayah Indonesia. Mengabarkan tentang mereka menjadi sebuah ruh dalam berbagi cerita di media sosial.

Kedua, ekonomi. Persaingan ekonomi ini sangat terasa sekali. Banyak pemberitaan yang menggambarkan bagaimana warga Indonesia memilih menjadi konsumtif daripada produktif. Pemerintahannya pun lebih memilih mengimpor daripada berproduktivitas. Dan yang lebih ironis, ketika warga dan pemerintah lebih memilih mengekspor hasil produksi warga daripada memasarkannya di negeri sendiri. Yang terlihat sekarang, kita mengekspor barang-barang yang berkualitas bagus dengan menerima barang impor yang kualitasnya jelek.

Di sini letaknya pemerintah harus bersikap adil, jangan sampai muncul istilah tikus mati di lumbung padi. Lalu, menghadapi Komunitas ASEAN 2015, sudah siapkah warga Indonesia berkompetisi dengan warga negara lain? Sosialisasi Komunitas ASEAN 2015 ini sangat penting. Ini untuk memersiapkan dari sekarang warga negara yang aktif, rajin, dan kreatif.

Pengrajin, petani, peternak, dan pengusaha harus siap bersaing dengan warga negara lain. Kita harus menunjukkan kreatifitas kita dalam berbisnis, keahlian dalam bertani dan berternak, sehingga rakyat kita-lah yang menjadi tulang punggung ekonomi ASEAN. Insya Allah.

Dan wajah-wajah para pekerja keras dan optimis ini layak untuk dikabarkan di media sosial, mereka bisa menjadi inspirasi dan motivasi dalam meningkatkan rezki. Hasil karya atau usaha mereka dapat turut didagangkan melalui media sosial, sehingga pangsa pasar menjadi lebar dan produktivitas semakin meningkat.

Ketiga, sosial dan budaya. Dalam hal ini, sudahkah kita mencintai suku dan budaya kita? Ada banyak ragam bahasa, seni dan budaya di negeri tercinta ini, maka mencintai dan memeliharanya sebagai suatu bentuk perwujudan identitas negara kita. Pengklaiman bahwa ini adalah seni dan budaya kita, harus dituangkan dalam pengamalan.

Bahasa daerah kita pakai dalam bersosialisasi di media sosial. Seni dan budaya pun kita khabarkan dan menjadi kebanggaan ketika kita tampilkan di media sosial.

Dengan demikian, menuju Komunitas ASEAN 2015 ini ada banyak tantangan yang akan kita hadapi. Namun jangan takut, karena itu akan kita jadikan peluang untuk terus maju ke depan. Sudah saatnya kita bersatu padu saling membahu membangun negeri ini.

Komunitas ASEAN 2015 adalah peluang bagi kita untuk menjadi negara maju  sekaligus tantangan untuk terus berkreasi dan berkarya.

Kata dan foto sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan keindahan Indonesia. Saya bangga menjadi blogger Indonesia.

MERDEKA!!!

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements