Sekarang ini, media massa sedang menyorot polemik tarif pendakwah yang memberatkan umat. Miris dan ironis bila melihat fenomena ini. Sungguh jauh bak bumi dengan langit perbedaannya dengan pendakwah masa Rasulullah. Saya teringat kisah pendakwah muda dari Quraisy, Mushab ibn Umair r.a.

Suatu hari ketika Rasulullah s.a.w. dan para sahabat sedang berada di dalam masjid, Mushab ibn Umair r.a. datang menemui beliau. Melihat kehadiran Mushab, Rasulullah s.a.w. menangis dan menitis air mata. Mushab datang dengan memakai pakaian usang yang bertambal-tambal, sedangkan ketika ia berada di Mekah adalah sosok pemuda yang hidup berlimpah kemewahan kerana sangat dimanjakan oleh ibunya. Rasulullah terharu dengan keadaan Mushab sekarang yang tiada harta hanya sehelai kain usang yang bertambal. Rasulullah s.a.w. menatapnya seraya berkata, Dahulu aku lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. At-Tirmizi)

Mushab ibn Umair adalah seorang pemuda Quraisy yang gagah dan tampan. Ia lahir dan tumbuh besar dalam balutan kesenangan dan kemanjaan dari kedua orang tuanya. Ketika masuk Islam, ia mendapat penentangan keras dari ibunya. Ia dikurung dalam rumah. Mushab lari dari rumah dan ikut hijrah ke Habsyah.

Rasulullah memilih Mushab untuk menjadi duta sekaligus pendakwah yang mengajarkan agama Islam di Madinah. Pemuda cerdas dan berbudi luhur ini mengemban tugas sebagai pendakwah muda di Madinah. Sifat zuhud, jujur dan kesungguhan hatinya telah berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah. Dengan karunia dan hidayah Allah, mereka berbondong-bondong masuk Islam.

Ketika Perang Uhud, Mush’ab ibn Umair diamanati sebagai pembawa bendera perang. Keteguhannya dalam memegang amanah tergambar saat tangan kanannya yang memegang bendera putus terkena musuh, bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Tangan kirinya putus, ia menggunakan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada.Mushab gugur dalam peperangan anak panah terkena pada tubuhnya.

Saat penguburan Mush’ab, jasadnya hanya tertutup sehelai kain kecil. Jika ditaruh di atas kepalanya, terlihatlah kedua belah kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan di kakinya, terlihatlah kepalanya. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda, Tutupkanlah ke bagian kepalanya, sedangkan kakinya tutup dengan rumput idzkhir! Sambil memandangi burdah yang digunakan untuk penutup, Rasulullah berkata, Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada Mushab. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut, hanya dibalut sehelai burdah.

Dengan demikian, menyimak pada kisah Mushab ibn Umair r.a., sudah saatnya seseorang yang bergelar ustadz atau dai, harus mengantongi ijin dalam berdakwahnya dari pihak berwenang seperti MUI ataupun Depag. Tentunya, selain kriteria memiliki ilmu keislaman yang mumpuni, mereka juga harus memiliki akhlak yang mulia sebagai contoh teladan umat.

Advertisements