Lebaran sudah berlalu, kue-kue sudah dibuat dan disajikan. Lalu, dua minggu setelah lebaran ini masih adakah sisa-sisa kue lebarannya?

Kue sisa lebaran, biasanya kalau di daerah Sunda disebut dengan kakaren lebaran. Tentunya kue-kue ini biasanya yang tahan lama, seperti kue nastar, mocil (molen kecil), saroja, bidara, rangginang, opak atau kicimpring.

Saya akan menyebut beberapa khas makanan di daerah saya, Tasikmalaya.
1. Saroja.

Kue saroja ini sering disebut juga dengan kembang goyang. Makanan ini rasanya asin dan warnanya kecoklatan. Bahan utamanya adalah tepung beras, diaduk dengan bumbu, dan santan kelapa.

Kue ini dicetak dengan cetakan, lalu digoyang-goyang di panasnya minyak goreng, maka tak heran kalau kue ini disebut dengan kembang goyang.

2. Rangginang

Kue rangginang ini berbahan ketan. Biasanya keluarga kami menggunakan ketan hitam. Ketan ini dimasak, lalu dicampur bumbu. Setalah itu dicetak langsung dijemur sampai kering, kemudian digoreng. Makanan ini bisa bertahan lama bila tidak digoreng.

3. Opak

Opak makanan yang terbuat dari ketan. Ketan dimasak lalu dicampur parutan kelapa, kemudian ditumbuk disertai bumbu sampai halus. Adonan ini kemudian dicetak, lalu dijemur sampai kering. Memasak opak ini selain digoreng minyak bisa disangarai pada pasir panas.

Selain menjadi camilan makanan, opak bisa menjadi pengganti oncom dalam pembuatan tutug omcom.

4. Kicimpring

Makanan ini berbahan utama singkong. Singkong diparut lalu dibumbui dan langsung dicetak. Setelah dicetak, lalu diuapkan pada air mendidih. Kemudian dijemur sampai kering. Selanjutnya kecimpring siap digoreng.

5. Bidara

Kue ini terbuat dari terigu dan sagu. Keduanya diulenin bersama bumbu. Bidara ini dibentuk seperti huruf B atau angka 8. Setelah dicetak lalu digoreng, kemudian dimasukkan ke dalam gula yang sudah dicairkan. Bidara ini sering disebut dengan angka delapan.

Demikianlah beberapa kakaren lebaran. Lalu, mana kakaren lebaran teman-teman?

Advertisements