Ketika mudik ataupun balik ke kota, tak jarang pemudik dihadapkan dengan jalan yang macet dan kendaraan yang penuh sesak. Ini bagi yang menggunakan kendaraan umum atau bis.

Kalau Cinta Laura menyebut, “becek, naek ojek,” maka di sini saya akan bilang, “Macet dan kegencet.” Iya, itu yang saya rasakan bila naik kendaraan umum atau bis yang selalu penuh sesak.

Salah satunya bis yang sering saya naiki jurusan Ciputat-Kp.Rambutan. Isi yang penuh sesak ini tak menyurutkan penumpang untuk terus naik, atau kesombongan supir atau kenek bis yang menyuruh penumpang turun bagi yang komplen penuhnya penumpang. Bis ini lewat jalur tol, sehingga perjalanan menjadi lebih cepat daripada bis satunya jurusan Lebakbulus-Kp. Rambutan. Maka, dengan memilih mempercepat waktu, terpaksa ataupun tidak, penumpang bertahan naik bis ini. Dan tentu saja, bis yang jarang ini akan memanfaatkan semaksimal mungkin dengan menaikkan penumpang sebanyak-banyaknya. Saya sendiri karena sering naiknya dari Ciputat sudah dalam keadaan berdiri, dan bila sudah penuh sesak, jurus andalan, jurus Bango Terbang dikeluarkan hihihihi… keren ya istilahnya, padahal mah maksudnya jurus berdiri dengan satu kaki dan tangan bergelantungan. Dalam keadaan ini, seringkali ada penjahat memanfaatkan sesaknya kendaraan. Maka, di tempat ini sering terjadi pencopetan dan pelecehan seksual.

Saat naik bis ini, terlebih dahulu kita menyiapkan uang untuk ongkos biar mudah saat diminta. Ketika naik, pilihlah tempat yang sekiranya aman dari persentuhan dengan penumpang lain, bisa di dekat kaca depan ataupun belakang. Sebab tak jarang bila berdiri di tengah atau deket pintu, kenek akan terus bilang, “Digeser… digeser….” Miris memang tapi itulah realitanya. Kenapa saya jadi ngomongin bis dalam kota ya… hehehe…

Kembali ke bis ketika saat mudik. Saat mudik tak jarang orang berani berdiri di dalam bis asalkan ke angkut pulang. Ini sebenernya agak nekad juga sih, tapi memang banyak yang seperti ini.

Saya biasanya memilih tidak naik di bis yang penuh. Masa sudah macet, lama, berdiri pula. Tak terbayang nanti sampai rumah bagaimana pegal-pegalnya badan saya.

Maka, saya pun memilih bis yang bisa duduk walau telat pulang kampungnya. Namun, dalam perjalanan naik bis, kita tidak tahu sebangku dengan siapa, apakah dia menyenangkan atau tidak.

Saya pernah sebangku dengan Bapak-bapak yang sepanjang jalan tidur, dan kepalanya merunduk ke arah kita. Apakah teman-teman pernah mengalaminya? Apa yang biasanya menghadapi orang seperti ini.

Selain menggerutu, maka saya pun duduk dengan mencondongkan ke depan agar tidak bersentuhan. Kalau masih ada bangku kosong sih lebih baik pindah. Tapi kalau nggak ada, alhasil duduk lebih ke depan, tidak nyaman, dan yang jelas tidak bisa tidur.

Demikianlah keadaan pemudik dengan kendaraan umum. Walau berat dan lelah, semua sirna ketika sampai rumah dan bertemu orang tua.

Advertisements