Terdengar suara pengumuman bahwa hari ini akan diadakan perlombaan untuk memeriahkan perayaan 17 Agustus.

Tempat perlombaan yang hanya terselang beberapa rumah dari rumah saya, maka pengumuman tersebut terdengar jelas.

Lomba kali ini memang seperti spontanitas dari keinginan paman yang merasa sepi acara pada peringatan 17 Agustus tahun ini. Maka paman pun berinisiatif mengumpulkan dana dengan meminta sumbangan ke warga seikhlasnya.

Warga masih dalam euforia lebaran dan libur sekolah, sehingga perayaan pun hampir terlupakan.

Saya teringat masa kecil ketika 17 Agustus tiba. Setiap RT menyiapkan jampana, yaitu sejenis tandu yang di dalamnya ada tumpeng bersama lauk pauknya. Ibu-ibunya memakai kebaya, dan bapak-bapak bersiap dengan celana pangsinya. Ada juga warga yang berpakaian baju tentara masa kemerdekaan.

Waktu itu saya masih SD. Dari sekolah, semua murid disiapkan untuk berbaris bergabung dengan warga menuju lapangan kecamatan. Kampung kami berada di ujung desa, maka kami harus lebih pagi menuju kampung lainnya yang sudah siap menunggu kami.

Kami berjalan berbaris melewati kebun dan sawah bergabung dengan kampung lainnya yang satu desa menuju kecamatan.

Setiap RT, RW, Kampung, dan Desa menampilkan keunikannya kreatifitasnya masing-masing. Karena jampana yang unik dan bagus akan mendapat hadiah. Begitu juga dengan kekreatifan dari masing-masing kampung ketika berkumpul di lapangan.

Ah, masih teringat ketika upacara yang terasa lama bagi usia saya yang masih SD, saya mendatangi nenek dan kakek yang kebetulan kakek seorang RT, maka saya minta makan tumpengnya.

Setelah penilaian, jampana pun langsung kami bongkar dan makan. Kami botram (makan bersama) di lapangan. Dan itu bukan dari kampung kami saja, dari kampung lainnya juga sama, hehehehe…

Setelah upacara selesai, kami pun pulang. Jampana yang isinya penuh sudah kosong dimakan saat di lapangan. Rakus atau pada lapar ya hehehehe

Kami pulang dengan jalan kaki. Perjalanan yang jauh melewati beberapa kampung dan desa tak terasa, karena saya dan keluarga sering berhenti di tukang bakso atau kupat tahu, hehehehe

Tujuh belas Agustus merupakan momen yang sangat indah bagi saya walau saat itu saya belum tahu jelas apa fungsinya semua itu.

Kini, upacara itu tidak kami hadiri. Tidak ada pawai. Sepi. Mungkinkah meriahnya 17 Agustus masa kecil hanya kenangan saja?

Iya, waktu kecil aku mengikuti perlombaan 17 Agustus yang dilaksanakan keesokan harinya, 18 Agustus. Perlombaan memasukkan paku ke botol, makan kerupuk, kelerang di sendok, menojos air, lomba balon, memasukkan jarum sambil ditutup mata… dari lomba itu, saya belum pernah menang walau diadakan setiap tahun hehehe (ketahuan deh dudulnya hahahaha…).

Lagu sebagai backsound mulai diputar, yang terdengar lagu dangdut. Lalu panitia mulai memandu lomba. Tahun ini perlombaan yang diadakan adalah lomba makan kerupuk, memasukkan paku ke botol, balap karung, lomba balon, sepak bola.

Setiap perlombaan selalu mengundang decak tawa warga, karena kelucuan para peserta. Warga yang asalnya tak peduli, ikut hadir dan menyaksikan perlombaan.Tahap demi tahap perlombaan telah usai, pemenang lomba pun sudah diumukan. “Bukan hadiah yang terpenting, tapi suka cita permainannya yang penting,” ucap sang MC.

Alhamdulillah, dengan dana seadanya, perlombaan pun telah berhasil dilaksanakan. Dan warga pun turut merayakan dan bergembira dengan acaranya. Semoga tahun depan lebih semangat lagi… 🙂
MERDEKA!!!

Advertisements