Tunjangan Hari Raya atau sering disingkat THR menjadi dana tambahan dalam berhari raya. THR ini merupakan hal yang dinanti semua orang, apalagi di saat kenaikan barang pangan sekarang ini. THR juga menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan sekunder lainnya, seperti baju baru atau kue-kue lebaran.

Bagi karyawan yang gajinyabdi bawah UMR, tak jarang THR juga menjadi biaya andalan dalam membayar hutang-hutang yang ada selama ini.

Kesenjangan sosial yang tinggi di Indonesia ini, arti THR berbeda-beda. Bagi karyawan yang gajinya di bawah UMR, THR sangat dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, misalnya bila biasanya makan dengan tahu dan tempe, maka dengan adanya THR, saat lebaran bisa makan ayam dan ketupat.

Berbeda dengan orang yang kebutuhan sehari-harinya sudah terpenuhi dan bergizi, maka uang THR sering menjadi ajang hura-hura.

Maka, agar uang THR tidak mengalir begitu saja, maksudnya cepat habis, hendaknya uang THR tidak dipakai untuk berfoya-foya.

Jangan lupa, di sekitar kita masih banyak orang yang kekurangan pangan, maka berbagi menjelang lebaran, semoga turut menceriakan mereka saat lebaran. Setidaknya, ketika lebaran mereka tidak memikirkan makan dengan apa?

Tidak hanya itu, sisihkan uang untuk pembayaran zakat fitrah dan zakat harta bagi yang mampu.
Sekalipun ada sesuatu barang yang diinginkan, maka manfaatkan pada barang yang berguna dan berharga. Hal yang terpenting adalah janganlah membeli suatu barang yang membuat orang lain iri. Karena selain menimbulkan kecemburuan sosial, dapat juga mengundang pencuri datang.

Oleh karena itu, Ketika THR kita datang, lebihkan pemberian kita kepada saudara, fakir dan miskin. Maka, THR kita adalah THR mereka juga.

Advertisements