Stop Eksploitasi Anak Menjadi Media Promosi Rokok!

Stop eksploitasi anak menjadi media promosi rokok suatu imbauan dari Yayasan Lentera Anak (YLA). Dengan visi terwujudnya negara demokratis yang ramah anak, YLA menyuarakan untuk pemberhentian anak sebagai media promosi rokok.

Dalam fanpage facebook Kantor Berita Radio, YLA mengungkapkan penemuannya bahwa salah satu produk rokok telah melakukan promosinya melalui anak melalui program CSR beasiswa bulutangkis. Dalam seleksi atau audisi beasiswa, YLA menemukan adanya eksploitasi anak untuk promosi rokok.

Program kegiatan Audisi Beasiswa Bulutangkis adalah kegiatan yang sudah berlangsung selama 10 tahun dan merekrut 23 ribuan anak yang dikumpulkan, diaudisi, dengan batas usia minimal usia anak 6 tahun. Dari total 23 ribu anak yang ikut, maka yang dapat beasiswa hanya 200an orang saja.

Dalam kegiatan tersebut, YLA menemukan kalau anak-anak yang ikut audisi wajib pakai kaos khusus. Warnanya persis seperti bungkus rokok, juga dengan tulisan merk rokok besar-besar di bagian dada. Di sini, anak-anak tampak seperti iklan berjalan. Karena itulah Yayasan Lentera Anak menyebut: ini adalah eksploitasi anak.

Talkshow melalui media KBR menghadirkan narasumber Reza Indragiri selaku Pakar Psikologi Forensik, Yayasan Lentera Anak dan Nina Mutmainah Armando selaku
Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dengan dipandu host oleh Don Brady.

Dengan jumlah perekrutan 23.000 peserta audisi, yang diterima beasiswa hanya 200 anak. Suatu seleksi yang tidak seimbang antara jumlah batas perekrutan dengan jumlah penerima beasiswa. Reza Indragiri menuturkan bahwa peserta audisi menggunakan kaos yang berlogo dan bernama merk rokok tersebut. Hal tersebut dianggap Reza sebagai bentuk eksploitasi anak dengan menjadikannya media promo berjalan.

Reza menekankan bahwa indikator eksploitasi anak itu di antaranya:

  1. Anak menggunakan atribut promo rokok.
  2. Banyaknya media promo di daerah yang menjadi tempat audisi.

Dari indikator di atas menunjukkan, pertama, adanya eksploitasi ekonomi pada anak. Kegiatan audisi ini memberi banyak keuntungan pada penyelenggara, bukan pada anak itu sendiri.

Kedua, adanya relasi tidak seimbang antara yang mengksploitasi dan yang dieksploitasi. Meskipun anak-anak terlihat senang dan gembira, sesungguhnya mereka sedang dimanfaatkan. Penilaian ini, Reza menyebutkan bahwa hal tersebut ada referensi regulasinya.

Nina Muthmainah Armando memaparkan tentang pesan iklan. Brand rokok tersebut memberikan pesan kontrakdiktif atau dualitas yang bertentangan. Bila melihat dari materi iklan berupa kaos yang lebih menonjolkan merk rokoknya dengan lebih besar daripada kata audisi. Dari sini terlihat jelas pesan yang ingin disampaikan bahwa kegiatan ini untuk mempromosikan merk rokok dengan menjadikan anak sebagai peraga promo sehingga menghasilkan brand image atau pencitraan akan merk rokok tersebut.

Menarik ketika dalam mengkaji pesan dari promo kaos yang digunakan oleh peserta audisi ini. Kegiatan yang sudah berlangsung 10 tahun dan sejak tahun 2015 bukan hanya dilakukan di daerah tertentu saja tetapi dilakukan promo audisi di berbagai kota di Indonesia.

Kegiatan CSR rokok ini menjadi media promo dengan menggunakan media anak. Nina melihat bahwa pesan dari promosi tersebut adanya penanaman pesan akan citra rokok pada anak-anak.

Eksplotasi anak pada merk rokok sudah digaungkan sejak tahun 2014 oleh Ketua Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), Ibu Siti, bahwa rokok telah mengeksploitasi anak dari hulu ke hilir.

Kegiatan CSR beasiswa rokok ini di satu sisi positif, tetapi di sisi lain berbahaya dengan pesan promo mengajak anak merokok sejak dini. Reza lebih lanjut menyebutkan bahwa iklan rokok oleh anak ini menimbulkan kognitif desonanse, yang artinya ketidakharmonisan secara kognitif. Penimbulan psokologis ini memang disengaja dengan dijalankan secara masif dan terencana.

Ketika rokok sebagai benda berbahaya yang menimbulkan kematian ini dicitrakan baik dengan menggunakan media anak ini untuk mengaburkan pada masyarakat bahwa rokok itu tidak berbahaya. Dan hal yang menjadi perhatian ketika anak yang mempromosikan ini lebih berpotensi untuk merokok.

Reza menambahkan, berdasarkan survei 2018 ditemukan 19 juta perokok generasi belia. Dari kegiatan kampanye audisi badminton ini menunjukkan bahwa atlit yang dihasilkan hanya sedikit sedangkan perokok belia sangat banyak.

Dari paparan talkshow ini menunjukkan bahwa pada dasarnya ketika ada audisi beasiswa bagi anak dari industri rokok sebagai orangtua atau orang dewasa lebih baik tidak memilihnya untuk turut serta. Karena dengan mengikutinya bisa menjadi bagian dari iklan berjalan rokok dan anak kita berpeluang untuk merokok sejak dini. Oleh karena itu, stop eksploitasi anak menjadi media promosi rokok.

Advertisements