Mengenal Perpustakaan Digital Cipikabookmate

Kemajuan teknologi komunikasi telah menggiring pada perkembangan penerbitan buku, salah satunya digital book. Buku digital seringkali kita kenal dengan electronic book atau e-book.

image

Saya sendiri sebagai editor sudah terbiasa membaca buku dari layar computer, maka ketika hadir ebook, maka mata saya sudah terbiasa membaca di balik layar digital.

Tidak seperti buku yang akan terasa berat apabila kita ingin membacanya di perjalanan, tetapi bila buku tersebut sudah berbentuk ebook, kita bisa membacanya lewat smartphone. Di sini, terasa keringanan sekaligus menjadi kelebihan dari ebook.

Ebook kini hadir pada aplikasi Cipikabookmate. Aplikasi yang menyediakan buku-buku lokal, nasional ataupun internasional. Layanan aplikasi digital book ini menyajikan konsep perpustakaan, yaitu satu kali bayar, bisa baca sepuasnya.

image

Senin, 24 Agustus 2015, saya mendapat kesempatan hadir pada launching Cipikabookmate yang diprakarsai oleh Indosat. Dengan pertimbangan trend membaca masyarakat Indonesia, serta target pengembangan Cipika.co.id, maka meluncurkan layanan aplikasi Cipikabookmate.

Launching ini diiringi dengan talkshow eBook sebagai lifestyle. Para pembicara terdiri dari editor, penulis ebook, bookmate dan Indosat. Ada Nukman Luthfie yang memaparkan tentang manfaat dan kelebihan ebook. Sophie Navita sebagai penulis ebook juga memaparkan tentang ebook yang sudah ditulisnya dalam bahasa Inggris, serta karya-karyanya yang banyak mengulas tentang makanan.

Ada Carlos Karo-karo dari Indosat yang memaparkan Cipika Bookmate sebagai terobosan untuk meningkatkan daya baca buku masyarakat Indonesia melalui ebook. Selanjutnya, Simon Dunlop dari Bookmate sebagai rekanan Cipika memaparkan bahwa aplikasi ini sebagai mobile reading untuk memudahkan masyarakat dalam membaca buku. Salman sebagai editor menyebutkan bahwa ebook dan buku print saling melengkapi bagi para pembaca buku.

Menarik ketika menyimak para pembicara yang memaparkan akan pentingnya Peran eBook sebagai salah satu media baca untuk membuka wawasan dan pengetahuan masyarakat Indonesia.

Saat ini, saya sendiri masih belum bisa lepas dari membaca buku-buku yang diprint out, tetapi menyambut baik kehadiran ebook, apalagi bila modelnya seperta Cipikabookmate yang bisa dibawa kemana-mana.

Cara Dwoanload Aplikasi Cipikabookmate

Cipikabookmate sudah hadir di playstore Android ataupun IOS. Saya sendiri langsung menginstallnya dari Playstore. Berikut cara-caranya:
1. Install “Bookmate” dari Playstore.
2. Klik tombol daftar/masuk dengan menggunakan nomer telepon kita saat pendaftaran. Setelah itu akan ada SMS kode verifikasi ke nomer handphone yang kita kirimkan.
3. Isi kode tersebut saat daftar.

Mudah bukan? Hanya itu saja cara daftar Cipikabookmate. Bookmate sendiri merupakan aplikasi yang sudah digunakan oleh banyak negara, dan bisa melihat dari 9 bahasa.

Untuk pembelian, pilih buy subscription atau langganan, lalu pilih metode pembayaran. Pembayarannya bisa melalui kartu kredit, kartu debit, PayPal, Dompetku, dan carrier billing.

Sekarang, smartphone kita bertambah lagi fungsinya sebagai media perpustakaan yang menyediakan bacaan, sehingga kapan saja ingin baca eBook, maka tinggal buka aplikasi Cipikabookmate.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

[Fiksi] Darmaraja 3; Sembilan Pusaka

Sembilan pusaka sudah berderet di depan Gandasasmita. Ada pedang, tombak, kujang, keras, samurai, trisula, tongkat, pisau, dan jarum. Gandasasmita kaget, karena sembila pusaka itu berderet tepat di hadapannya ketika ia membuka mata dari meditasi.

“Untuk apa semua ini?” Tanya Gandasasmita dalam hati.
“Untuk keperluanmu Kakang Pangeran,” ujar seorang perempuan yang sekarang nampak berdiri tegak di belakang deretan senjata.
“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Gandasasmita tegas.
“Itu hadiah dari saya karena sudah membantu mengambil selendang dari sungai,” jawab Arumi. “Sembilan senjata itu hadiah dariku. Itu pusaka kerajaan yang khusus aku berikan kepadamu.”
“Tapi aku sudah memiliki senjata sendiri, tidak membutuhkan banyak senjata,” jawab Gandasasmita. “Lagipula, saya hanya membantu, tidak menginginkan balasan atau imbalan.”
“Itu hadiah Kang,” sela Arumi. “Terima saja sebagai kenang-kenang dan untuk menambah senjata yang suah ada.”
“Tidak, terima kasih.”
“Aku akan tersinggung kalau Kakang tidak menerimanya,” kata Arumi agak sedikit cemberut.
“Maaf, tapi aku tetap tidak bisa menerimanya. Terima kasih.” Gandasasmita menangkupkan kedua tangannya.
“Baiklah, aku tidak memaksa,” kata Arumi. “Tapi saya berharap, Kakang bisas inggah ke istana atau rumahku.”
“Maaf, yang ini juga aku tidak bisa ikut. Aku sedang terburu-buru,” Gandasasmita langsung berdiri dan bersiap pergi.

Arumi menatap kesal pada Gandasasmita yang menolaknya terus-terusan. “Tapi aku tidak bisa memaksanya untuk saat ini,” gumamnya sambil menatap yang pergi.
“Putri…” tiba-tiba seekor ular hitam besar berada di hadapan Arumi.
“Wangu, hadang laki-laki itu di perbatasan,” kata Arumi.
“Baik, Putri.”
“Dan jangan sakiti dia,” lanjut Arumi.

***
Derap langkah cepat membangunkan Sang Ratu yang sedang beristirahat. “Ada apa Gudo, kau membangunkan tidurku,” kata Ratu.
“Maaf Ratu, sembilan senjata pusaka kerajaan hilang,” kata Gudo.
“Hilang?” Kata Ratu kaget. “Kok bisa hilang?”
“Ampun Ratu, tadi saya ketiduran.”
“Gudo!” Bentak Ratu.
“Ampuuun…”
“Baiklah, kenapa kamu sampai ketiduran, biasanya kamu waspada. Makanya, aku menugasimu menjaga pusaka negara,” Ratu melembut.
“Saya sepertinya kekenyangan setelah makan daging yang diberikan oleh gusti putri, Ratu.”
“Aku mengerti Gudo,” kata Ratu sambil berdiri. “Sekarang pergilah, kembali ke tempat tugasmu. Aku yang akan mencari sendiri sembilan pusaka tersebut.”
“Baik, Ratu,” Gudo langsung mundur pergi.
“Aku harus mencari Arumi, sebelum dia melanggar peringatan para Batara,” gumam Ratu.

Langkah Gandasasmita semakin cepat, dia merasa seakan ditelikung waktu dan ingin lepas dari itu. Duduk di dekat batu besar pinggir sungai bermaksud untuk istirahat sejenak. Tetapi lepas dari meditasi, dia dihadapkan dengan perempuan yang selendangnya dia ambil. “Kenapa dia bisa berada di hadapanku dan memberiku hadiah sembilan senjata?” lirihnya. “Tapi ya sudahlah, aku harus segera melanjutkan perjalanan.”

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mengelola Keuangan Lebaran Menjadi Lebih Baik

Ada yang bilang bahwa hidup itu pilihan. Apakah memiliki banyak harta, biasa aja atau tidak ada. Kadang, dari pilihan hidup membentuk hal tersebut, karena sebagaimana dikatakan Safir Senduk bahwa dalam mengelola harta itu tergantung dari kepribadian atau karakter kita. Maka, apa yang kita dapatkan adalah hasil dari pilihan hidup kita. Kok bisa begitu?

Saya berpendapat demikian, apalagi setelah mendapat pencerahan dari pakar perencanan pengelola keuangan Safir Senduk. Sabtu, 1 Agustus 2015, bertempat di Plaza Indonesia, saya mengikuti talkshow bijak pengelolaan keuangan yang diadakan oleh Sunlife.

Safir Senduk menyebutkan tiga hal dalam mengelola keuangan, yaitu memiliki investasi sebanyak mungkin, siapkan dana untuk masa depan dan atur pengeluaran. Tiga hal tersebut tentu berkaitan dengan karakter atau kebiasaan kita. Ada keterkaitan antara memiliki banyak harta dengan pola gaya hidup.

Benang merah yang saya pahami dari pemaparan Safir Senduk, bahwa karakter seseoranglah yang akan membawa seseorang menjadi kaya atau tidak. Teori otak kanan dan kiri dalam keterkaitan prilaku pun menjadi gambaran, bagaimana karakter orang yang berbeda-beda.

Dengan demikian, seseorang menjadi kaya atau tidak dengan mengenal karakter diri sendiri. Dari sini saya mulai mengamati karakter saya, baik dalam berprilaku maupun gaya hidup, termasuk dalam pengelolaan keuangan.

Saat ini, profesi saya sebagai blogger. Blogger sendiri telah masuk pada kategori profesional, bila melihat dari contoh profesi yang Safir Senduk tawarkan, yaitu karyawan, profesional dan pengusaha.

Dalam kategori profesional, makin banyak orang meminta jasanya, makin banyak penghasilannya. Hal demikianlah yang saya sadari. Meskipun menekuni bidang Blogger baru setahun, saya menyadari bahwa dalam menjalankan pekerjaan saya harus bersikap profesional.

Sebagai Blogger pemula, penawaran jasa kepada saya belumlah banyak. Fluktuatifnya pendapatan ini yang membuat saya harus bisa mengelola keuangan sebaik mungkin. Ketidakjelasan pendapatan ini menjadi saya akan memilih berhemat dalam keuangan. Aktivitas jajan makanan atau kulineran dan jalan-jalan, harus saya pertimbangkan dengan uang yang saya dapatkan. Namun alhamdulillah, hobi kulineran dan jalan-jalan ini terwadahi dengan aktivitas ngeblog, sehingga pembiayaan menjadi ringan.

Ada dua tabungan yang saya siapkan, pertama, tabungan bisnis. Tabungan sebagai proses alur transaksi dari pendapatan yang saya dapatkan setiap ada proyek blogger ataupun hadiah perlombaan ngeblog. Kedua, tabungan pribadi. Dari tabungan bisnis tersebut, saya transfer setiap bulannya ke tabungan pribadi yang saya gunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang sudah saya tetapkan kategori dananya.

Hal tersebut yang saya lakukan dan alhamdulillah dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari meskipun baru menjadi blogger pemula. Tentunya, hal ini harus saya sertai dengan profesionalisme pekerjaan yang saya lakukan.

Dalam poin pengelolaan keuangan yang Safir Senduk sebutkan, saya memulainya dari urutan ketiga, yaitu mengatur pengeluaran. Dengan hal demikianlah, saya berharap dapat menyiapkan dana untuk masa depan, termasuk memiliki investasi sebanyak mungkin.

Metode yang saya lakukan dengan memiliki dua tabungan serta perhitungan rincian bulanan dapat membantu saya ketika lebaran. Setidaknya lebaran kemaren saya tidak memiliki hutang untuk keperluan lebaran, karena pos-posnya sudah saya perhitungkan sebelumnya, seperti ongkos pulang kampung dan balik mudik dan zakat fitrah dapat terpenuhi.

Sesuai keadaan uang, saya melihat pakaian saya masih banyak yang layak pakai dan bagus, maka saya tidak membeli baju lebaran. Saya menyiapkan pos-pos yang memang penting ketika lebaran. Adapun cemilan, kue lebaran atau makanan lebaran, saya masukkannya pada pos makanan bulanan biasa karena saya masih tinggal sama orangtua ketika pulang kampung.

Di saat sekarang ini memang waktu saya untuk berhemat dan benar-benar mengatur pengeluaran. Saya menyesal ketika menjadi karyawan saya banyak mengikuti keinginan seperti jalan-jalan dan kulineran. Tidak memikirkan masa depan, seperti waktu sekarang, yang berada pada masa transisi. Di sini memang pentingnya menyisihkan dana untuk masa depan, salah satunya dengan asuransi dan investasi. Pelajaran memang pahit, tetapi ini menjadi cambuk untuk bisa mengatur keuangan lebih baik.

Lebaran kali ini menjadi momen untuk introspeksi diri, baik dalam gaya hidup dan pengelolaan keuangan. Dalam kehidupan, menyadari kesalahan merupakan momen hidayah untuk menjadi hidup lebih baik.

Posted in keuangan, Lifestyle | Tagged , | 5 Comments

Alasan Makan Buah dan Menerima Tantangan Sunpride

Tidak mudah bagi anak kos untuk membiasakan diri berpola hidup sehat, seperti makan sayuran atau buah-buahan dan teratur. Ketika pulang kampung sehabis liburan lebaran, saya mengubah pola makan saya menjadi banyak sayuran dan buah-buahan. Terutama membiasakan makan buah-buahan. Padahal sebelumnya karena merasa ribet menyetok buah-buahan di kos, saya sangat jarang makan buah. Tetapi karena suatu alasan tertentu, selepas lebaran saya berusaha berlatih membiasakan diri makan buah-buahan dan ikut tantangan 7 hari memakan buah-buahan dan menuliskannya.

Setiap hari saya membeli buah-buahan, baik banyak maupun sedikit, yang penting setiap hari saya makan buah. Alasan yang membuat saya harus makan buah-buahan adalah ketika seminggu setelah lebaran, saya susah buang air besar. Waktu itu saya sudah makan sayuran dan lalaban. Setelah susah buang air besar, ada terasa sakit ketika buang air besar. Mama menganjurkan saya makan buah-buahan.
image

Saya sangat khawatir karena seperti ada luka atau sejenis nanah. Waktu itu saya berisik mengeluh ke Mama karena sakit kalau buang air besar. Kata Mama, tidak apa-apa, yang penting makan sayuran dan buah-buahan. Kemudian, saya pun membiasakan diri makan buah-buahan. Hari pertama dan kedua, masih terasa sakit. Maka, saya pun berencana pergi ke dokter untuk mengobatinya.

Namun, karena waktu itu ada halangan, saya tidak jadi ke dokter, lagi pula besoknya saya harus kembali ke Jakarta. Mama meneguhkan saya, dengan membiasakan makan buah-buahan, insya Allah sembuh. Sepotong apel yang sudah dikupas dan dibuat sedemikian rupa agar tidak hitam menjadi bekal saya di perjalanan.

Saya memikirkan ketika di kosan akan sulit makan buah-buahan yang selama ini memang jarang saya lakukan. Kalau di rumah, Mama selalu menyiapkan buah-buahan. Tetapi karena sakit kalau buang air besar, maka saya bertekad untuk makan buah-buahan setiap hari.

Hari pertama, saya pergi ke tukang sayur untuk membeli buah-buahan. Saya membeli pepaya dan tomat. Saya mengupas dan menyimpannya di kotak. Setelah itu saya mencuci tomat yang saya beli satu kilo.

Sambil kerja saya makan pepaya diselingi tomat. Alhamdulillah tidak terasa enegh, saya memakannya dengan semangat sampai habis kedua buah-buahan tersebut. Ketika buang air besar, alhamdulillah sudah tidak sakit lagi. Dan gerenjulan seperti nanah sudah tidak ada.

Hari kedua, saya membeli apel dan pepaya. Walau sudah tidak sakit lagi, saya ingin melanjutkan makan buah-buahan agar tidak kembali lagi sakit seperti kemarin. Apel saya potong-potong dan langsung saya makan. Adapun pepaya, saya makan ketika siang selepas shalat zhuhur.

Hari ketiga, saya pergi ke tukang sayur untuk membeli buah-buahan, ternyata yang ada hanya pepaya california, maka saya pun membeli pepaya. Dan untuk tambahan lainnya, ketika saya pergi ke minimarket dan melihat nanas yang cantik, saya pun membelinya. Wuih, rasanya mantap dan segar. Saya mengupas pepaya pagi harii dan langsung memakan habis buahnya. Selepas zhuhur, saya mengupas nanas. Siang-siang makan nanas memang segar dan langsung melek, nggak ngantuk.

Adapun hari keempat, saya membeli pisang dan salak dari tukang sayur. Saya menjadikan kedua buah makanan ini sebagai cemilan, kalau lapar, saya memakannya secara berselang seling.

Hari kelima, saya membeli pepaya dan buah naga. Saya memakannya pun secara bertahap dan menmpatkan pada tempat makan, jadi kalau lapar, saya makan pepaya atau buah naga.

IMG_2999

Hari keenam, saya membeli banyak jenis buah-buahan biar nggak merasa bosan. Kali ini saya membelinya secara ngeteng ke tukang rujak dan supermarket, jadi ada banyak buah-buahan yang saya dapatkan.

Hari ketujuh, saya membeli lengkeng, pepaya dan semangka. Saya membelinya dari supermarket yang kebetulan saya sedang ada keperluan ke sana.

Bagi anak kos, memang menyetok buah-buahan menjadi pilihan, saya memilih membelinya setiap hari, baik ke tukang sayuran, minimarket ataupun tukang rujak buah. Hal yang menjadi acuan saya adalah memakan buah-buahan setiap hari, banyak ataupun sedikit.

Sebenarnya, ingin rasanya mengolah buah-buahan menjadi puding atau agar-agar, tetapi karena keterbatasan peralatan masak, maka saya memilih memakannya langsung. Jadi, tidak ada alasan bagi anak kos untuk tidak makan buah-buahan. Selain rasanya memang enak, terbukti buah-buahan menyehatkan badan.

Ketika sakit tersebut, saya menyadari bahwa selama ini kita memikirkan kesehatan seputar mulut, termasuk gigi, tetapi seringkali melupakan kesehatan anus, tempat buang air besar atau tempat keluar kotoran dari yang kita makan. Padahal sama aja, asupan makanan bisa memengaruhi keduanya. Maka, asupan makanan yang sehat, seperti buah-buahan, dapat menjaga dan melihara kesehatan tubuh kita.

Di antara buah-buahan lokal yang saya makan, ada buah yang sudah memiliki brand Sunpride. Sudah lama saya mengenal brand ini, terutama pisang. Dan kalau membeli pisang, saya memilihnya. Kemulusan dan buahnya yang besar-besar, membuat saya memilih pisang Sunpride.

Saya pernah makan jambu biji sunpride, rasanya enak. Buahnya yang besar dan mulus, maka akan selalu tertarik untuk membelinya. Rasanya pun sangat enak. Namun sayaang, kemaren di sekitar tempat kos, saya tidak mendaptkannya.

Kalau pepaya, saya suka dengan warna orange kemerah-merahan. Sayang legit kalau dimakan. Beberapa kali saya sempat memakannya.

Adapun nanas adalah makanan yang sangat saya suka. Rasanya segar. Di supermarket sekitar kosan saya, sudah banyak yang menjual nanas Sunpride.

Sebenarnya, masih banyak buah-buahan yang dihadirkan oleh Sunpride, seperti semangka, jeruk dan melon. Pengawasan dan pemeliharaan dari mulai lahan tanam, penanaman, pemupukan, pengairan, penyiangan, dan pemanenan yang membuat Sunpride hadir sebagai buah lokal unggulan. Tiada yang tidak menginginkannya.

Memakan buah-buahan bukan lagi hal yang memberatkan. Dengan berlatih untuk biasa memakannya setiap hari, menjadikan tubuh sehat dan segar. Tantangan Sunpride sendiri menjadi salah satu motivasi untuk biasa memakan buah-buahan. Salam sehat, dan selamat menikmati…

Posted in Kesehatan, Lifestyle | Tagged | 5 Comments

Five Foodie Islands; Menikmati Makanan Sumatera

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ragam suku dan budaya. Indonesia sangat terkenal akan kekayaan rempah-rempah dan makanannya. Bila kita menelusuri satu wilayah ke wilayah lainnya di Indonesia, maka kita akan mendapatkan ciri khas makanan tersebut.

IMG_2974

Sejarah mencatat, bahwa para pedagang VOC telah berhasil membawa rempah-rempah Indonesia dan memperdagangkannya. Titik tolak kedatangan dan kemenetapan mereka di bumi pertiwi adalah ketertarikan akan rempah-rempah Nusantara. Setiap kepulauan memiliki ciri khas tanaman tertentu, yang tentunya berkaitan dengan cita rasa dari setiap makanan yang dihidangkan.

Tidak berlebihan, bila Hotel Indonesia, sebagai icon tempat bersejarah di Indonesia mengadakan promosi tentang makanan khas Indonesia. Sungguh kekayaan makanan Indonesia bila diorganisir dengan baik, lalu dipromosikan besar-besaran, maka akan banyak wisatawan mancanegara yang akan berburu makanan Indonesia.

Senang rasanya ketika Hotel Indonesia Kempinski Jakarta mempromosikan makanan Indonesia. Selama lima pekan, dari tanggal 5 Agustus sampai 8 September 2015 akan hadir lima pulau sebagai representasi dari seluruh kepulauan Indonesia. Dengan kisaran harga  per orang mulai dari Rp.265.000, kita bisa menikmati makanan satu pulau. Jadwal jamnya, makan siang dari pukul 12.00-15.00 WIB dan makan malam, pukul 18.00-22.00 WIB.

image

Adapun urutan pulau-pulau yang akan tampil, yaitu Pulau Sumatera (5-11 Agustus), Pulau Jawa (12-18 Agustus),  Bali-Lombok (19-25 Agustus), Kalimantan (26 Agustus -1 September) dan Sulawesi-Maluku (2-8 September). Silakan tinggal memilih pulau dan waktunya.

Sebagai warga Indonesia yang belum bisa melangkah ke pulau lain, masih di seputar Pulau Jawa, ingin rasanya saya mencicipi makanan khas dari pulau-pulau luar Jawa. Ini bukan berarti saya tidak menyukai makanan khas Pulau Jawa, tetapi ingin merasakan makanan di seberang pulau.

Kamis, 6 Agustus 2015, saya mengunjungi makanan Pulau Sumatera. Makanan khas dari pulau ini sangat populer, bahkan sampai ke mancanegara. Bila melihat dari jenis makanan, maka akan melihat kekayaan sumberdaya alam dalam hal rempah-rempah.

Misalnya, Sumatera Barat, pulau ini kaya akan pohon kelapa ini memiliki ciri khas bumbu yang bersantan atau menggunakan kelapa, seperti rendang, sayur tunjang, sayur nangka dan sayur lodeh.

IMG_2982

Aceh, wilayah yang dikenal dengan Serambi Mekah ini memiliki keunikan dalam makanan. Kuah yang kental dengan bumbu yang mantap. Kayu manis menjadi salah satu rempah yang mewarnai aneka hidangan makanan Aceh, seperti martabak. Makanan favorit yang saya coba adalah Mie Aceh, rasanya mantap dan enak.

IMG_2989

Selanjutnya, Sumatera Selatan. Kita pasti tidak asing lagi dengan mpek-mpek Paembang. Makanan khas yang bisa menjadi oleh-oleh ketika berkunjung ke Palembang, kini hadir di Jakarta. Belum lagi dengan provinsi lain yang memiliki kekhasan makanan masing-masing.

Ada dua chef yang menggawangi makanan khas Sumatera ini, yaitu Chef Marco yang asli dari Padang dan Chef Zulfikar yang asli orang Aceh. Makanan yang mereka sajikan sangat enak dan cita rasa bumbunya sangat pas. Mantap dan enak.

Saya sendiri menghabiskan aneka jenis makanan, mencobanya satu per satu. Ruangan yang nyaman dan berlangsung dengan gaya prasmanan, membuat kita bisa memilih sendiri menu yang akan kita makan. Menikmati makanan daerah dengan cita rasa tinggi akan membuat ketagihan untuk datang lagi.

Tidak cukup sekali rasanya untuk menggali makanan khas daerah. Rasanya yang enak akan membuat siapa saja ketagihan. Tempatnya juga nyaman buat acara keluarga ataupun bisnis. Bahkan, untuk perayaan ulang tahun sangat cocok. Bagi teman-teman yang berminat, atau yang rindu makanan khas kampung halaman, silakan menikmati aneka makanan khas Indonesia di Signature, Hotel Indonesia Kempinksi Jakarta.

Posted in Jalan-jalan, Kuliner | Tagged , , , , | 6 Comments

[Sajak] Cermin dan Air Laut

Suatu pagi yang cerah, berkicau burung menyambut pagi dengan keseruannya mengabdi pada ilahi rabbi.

Bila pagi tiba, tiadalah berusaha dengan menggapai isi hati, menatap barisan yang tidak kau mengerti.

Demikian yang tertera dalam sebuah situasi

Tertera dengan demografi, mahami antara satir dan imajinasi

Ketika semua menyeru, seakan aku berada dalam seruan

Turun berkicau dalam pencercaan dan penyindiran

Ah tidak…

Aku bukan berada dalam dalil yang siap terlontarkan

Aku berada dalam jejak keikhlasan

***

Sesekali dalam keremangan itu aku ada dengan siapa yang mendera

Seperti abu dalam rangkaian sistem yang menyerang

Ada di antara jejak tak bertuan

Sudah saatnya menjadi cerita yang tak bertuan.

***

Rela mati hanya dalam tataran lisan

Sedang hati mendua dengan tuhan-tuhan tak bertuan

Sedekap menjawab gundah dalam kekap

Bukan sebuah gundah, tetapi ada suatu risalah

Yang menafsirkan jiwa-jiwa yang patah

Lemah

***

Pijak kaki sangsaka berkibar seiring angin melepas lelah

Tak ada yang mengiba untuk mengalah

Semua berkejaran mengaku kebenaran

Di bawah sangsaka yang berdarah

Ternyata masih menyimpan marah dari perbedaan

Atas nama darah para pejuang

Mereka tertawa dengan amis darah amarah

Memajang sensi untuk suatu kesinisan diri

***

Cermin yang berbaris pun tak sanggup menawarkan jiwa yang tringgisi

Di antara galian emosi tertawa, dan mencela dalam setiap kata

Sudahlah…

Kita buang cermin-cermin ini

Biarkan terbasuh oleh air laut yang suci dan mensucikan

Posted in Fiksi, Puisi | Tagged | Leave a comment

Jejak Darmaraja (2)

Kicau burung mengiringi sang surya yang mulai meninggi. Air embun berkerlipan bak mutiara yang berjatuhan. Gandasasmita memilih meninggalkan Arumi, perempuan yang tidak ia kenal. Bahkan, seperti sebuah jejak, selendang pinknya menjadi sebuah tanda bahwa memang perempuan itu sebenarnya berada dekat daerah situ.

Arumi, nama yang pas untuk menggambarkan seorang perempuan yang sedang berada dalam jejak kehidupan. Tidak menyangka, selendangnya yang lepas telah mempertemukannya dengan lelaki tampan yang memancarkan kehidupan. “Aku harus mendapatkannya,” gumam Arumi.

“Apa yang akan kau dapatkan, anakku,” kata seorang perempuan setengah tua yang sudah berdiri di dekatnya.
“Tidak, ibunda ratu. Tadi saya bertemu dengan manusia yang sudah menolong mengambil selendang saya.”
“Seperti kebiasaanmu Arumi, kamu selalu mengincar manusia,” sambil tersenyum.
“Bukankah aku juga setengah manusia, ibu. Seperti ibu?” Kata Arumi menyela.
“Iya, ibu tahu. Tetapi ingat karma anakku, sebaiknya kamu tidak menyakiti mereka apalagi membunuhnya,” kata sang ratu.
“Baik ibu,” jawab Arumi. “Ibu, saya melihat manusia ini berbeda, dia tidak memedulikanku,” keluh Arumi.
“Anakku, di dunia ini banyak jenis makhluk dengan berbagai karakternya. Begitu pula dengan manusia, tidak semua akan terbujuk dengan kecantikanmu. Sifat dan karakter tersebut di masa akan datang malah akan digambarkan seperti kita, manusia ular.”
“Ibu, saya belum mengerti?”
“Mereka melihat bisa atau racun pada tubuh kita, sehingga perkataan yang tajam dan kasar mereka umpamakan seperti ular berbisa.”
“Ooooh,”
“Iya, seperti itu. Aku mendapat kabar dari Batara bahwa akan datang manusia melewati kerajaan kita, aku sudah mengumumkan untuk tidak mengganggunya. Hanya kamu yang belum tahu, Arumi,” kata sang ratu.
“Baik, ibu,” kata Arumi.
***

Matahari semaakin terik, Gandasasmita terus mengikuti alur sungai. Ia berjalan tanpa istirahat. Lelah terasa olehnya, tetapi ia tidak memedulikannya. Ia ingin cepat menuju tempat tujuannya, meskipun belum tahu tempatnya. Dengan mengikuti kata hati, ia ikuti alur sungai yang ia temui.

Entah sudah berapa lama ia berjalan, tetapi dia baru menemui satu manusia, Arumi. Sungai seringkala disebut sebagi peradaban, kenapa saat ini dia belum menemukan manusia lainnya selain Arumi. Rasa lapar membuat matanya tertuju pada pohon manggis yang berdiri tegak di hutan, dekat sungai yang akan dilaluinya.

Gandasasmita mengambil manggis tersebut kemudian memakannya. “Sedang apa kau berada di sini?” terdengar suara tua menegurnya.
“Maaf aki,” kata Gandasasmita, “Saya sudah mengambil buah ini tanpa ijin. Saya kira ini hutan tak bertuan, Aki. Maafkan saya kalau mengambil tanpa ijin.”
“Pohon ini tumbuh sebelum aku hadir. Nikmatilah buahnya,” katanya. “Namaku Panyumpit. Bukan pemilik hutan ini,” sambil tersenyum.
“Terima kasih Aki. Aki tinggal di sini?”
“Tidak, Aki cuma lewat aja, sedang berburu rusa untuk tuan putri.”
“Daerah sini masuk ke kerajaan apa, Ki?” Tanya Gandasasmita.
“Ini Kerajaan Kartasura, tapi di bawah perlindungan Kerajaan Samdasura dan Mangunparta.”
“Saya belum mengerti, Aki?”
“Nanti kamu akan mengerti. Sebentar lagi kamu akan berhadapan dengan Kerajaan Samdasura. Berhati-hatilah, ingat pesan gurumu.”
“Baik Aki, terima kasih.”
“Untuk menjadi Darmaraja, seperti menelusuri diri, di sana akan menemukan jejak peradaban, bermula dari tiada, kemudian ada, lalu tiada,” dalam sekedip, Aki Panyumpit sudah tidak ada di hadapan Gandasasmita.

Posted in Fiksi | Tagged | Leave a comment